Latest Entries »

Kakawin Bharata-yuddha

KAKAWIN BHARATA-YUDDHA

Kakawin Bharata Yuddha yang ditulis oleh Mpu Seddah dan diseleseikan oleh Mpu Panuluh merupakan salah satu karya yang indah dari jaman Kediri dan disusun atas perintah Raja Jayabhaya. Jaman Kediri yang mengembang antara tahun 1104 dan 1222itu merupakan jaman keemasan kesusasteraan Jawa kuno. Dan sejumah kitab kakawin telah diciptakan oleh beberapa pujangga, seperti Mpu Dharmaja,Mpu Seddah , Mpu Panuluh,Mpu Monagunna, Mpu Triguna, Mpu Tanakung dan sebagainya. Dalam penyeleseiannya, ada beberapa pendapat mengenai alasan mengapa kakawin tersebut di seleseikan oleh Mpu Panuluh. Pendapat pertama yaitu Mpu Seddah merasa sudah tua dan sudah tidak dapat melanjutkan tugas dari raja Jayabhaya untuk mnyeleseikan cerita kakawin tersebut. Dan pendapat yang kedua ialah Mpu Seddah dibunuh sendiri oleh raja Jayabhaya.

Kakawin yang tetap hidup dan dikenal dalam kesusasteraan jawa baru  ialah kakawin Ramayana, kakawin Arjunawiwaha, kakawin Bharata Yuddha dan kakawin Uttarakanda, sedangkan 4 kakawin tersebut bersama-sama dengan kakawin lainnya tetap dibaca dan hidup dipulau Bali dan dipulau Lombok. Tetapi kenyataannya ialah bahwa rakyat di bali dan Lombok itulah yang memelihara kesusasteraan Jawa kuno. Entah bagaimanapun kita sebagai orang Jawa yang patut untuk melestarikan kebudayaan leluhur kita harus mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Bali. Karena di pulau tersebut, banyak karya sastra yang berbahasa Jawa kuno di salin dan dipelajari di sana. Karya karya tersebut ada diantaranya yang masih menggunakan media daun rontal yang karena metatesis bahasa sekarang dikenal dengan nama daun lontar. Hal ini panjang lebar disinggung di Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang karangan Zoetmulder.

Sejak runtuhnya Majapahit yang menjadi pusat kegiatan kesusasteraan Jawa Kuno, tidak ada lagi pusat kekuasaan politik yang memberi iklim dapat mengembangnya kesusasteraan tersebut. Sehingga menjadi kesusasteraan Jawa baru, tidak dapat diingkari lagi bahwa ada garis pertumbuhan yang melalui waktu yang lama, ialah dimulai abad 11 pada jaman Kediri sampai pada jaman Mataram awal pada abad 17. Ada garis pertumbuhan kesusasteraan yang menuju kesusasteraan Jawa baru, gugurlah pendapat Prof,Dr,C .C Berg yang mengatakan bahwa kesusasteraan Jawa baru dari jaman Mataram Islam itu tidak ada hubungannya dengan kesusasteraan Jawa Kuno dari Majapahit, Singhasari dan Kediri.

Apabila kitab-kitab kakawin itu mempergunakan bahasa Jawa kuno dengan memakai aturan syair India, maka kitab-kitab yang telah digubah menjadi jarwa itu mempergunakan bahasa Jawa baru dengan memakai aturan syair Indonesia asli yang disebut macapat yaitu Serat Rama jarwa dan serat Bharatayudha Jarwa. Karena kakawin mempunyai metrum yang berasal dari India yaitu ada aturan-turan mengenai guru dan lagu. Guru dalam kakawin berarti suara berat atau panjang dan lagu dalam kakawin itu berarti suara pendek. Berbeda dengan aturan guru lagu dalam macapat yang merupakan metrum yang berasal dari Jawa asli. Di dalam macapat setiap tembang mempunyai Guru gatra, guru wilangan dan guru lagu. Guru gatra ialah cacahing gatra saben sapada. Guru wilangan ialah cacahing wanda saben sagatra dan guru lagu ialah tibaning swara ing pungkasane gatra.

Di pulau Bai tetap mempelajari dan membaca kakawin Bharatayudha dalam bahasa Jawa kuno. Oleh kaum bangsawan dan oleh rakyat yang mengikuti “mabasan”, ialah perkumpulan kesusasteraan yang mempelajari naskah-naskah kuno yang dikerjakan oleh khalayak ramai di Bali dibawah pimpinan seorang sastrawan yang mahir kesusasteraan Jawa kuno.

Kebudayaan Indonesia pada jaman modern ini masih mempunyai segi-seginya yang berpangkal kepada jaman yang lampau, khususnya yang mengenai ajaran tentang moralitas, sikap serta watak kekesatriaan dan sebagainya.

 

Siasat Perang dalam Kakawin Bharatayuddha

Pada waktu bangsa Indonesia mengadakan perlawanan terhadap penjajah belanda dalam perang-perang koonial, seperti waktu perlawanan Sultan Hassanudin dari Makassar, Pangeran Mangkubumi, Perang Diponegoro, Perang padre dan lain-lainnya melawan Belanda, siasat perang bangsa Indonesia itu telah mengejutkan pihak lawan, karena tidak disangka oleh pihak penjajah Beanda bahwa bangsa Indonesia yang mereka anggap rendah taraf pengetahuannya itu tahu tentang siasat perang.

Kitab kesusasteraan itu menjadi dasar pengetahuan siasat perang, hal itu memang benar, karena pada jaman kuno belum ada lembaga pendidikan seperti sekarang. Dari kesusasteraan jawa kuno ada bukti bahwa Indonesia telah mengenal siasat perang. Salah satu pengertian perang yang penting diketemukan dalam kitab kakawin Arjunawiwaha dari abad 11 dan kitab Nitisastra dari abad 14 dan sekitarnya, keduanya dalam bahasa Jawa kuno yang masing-masing memuat istilah Sama-bheda-ddanndda. Sama-bheda-ddanndda itu dirumuskan dalam setiap kepala Negara yang ingin membinasakan lawan wajib mencari sekutu  diantara Negara-negara yang berhubungan baik. Telah diperhitungkan bahwa pada waktu perang dengan Negara-negara lain, Negara-negara yang telah terikan oleh sama itu sedikitnya bersikap netral, bahkan dapat diharapkan adanya sokongan dan bantuan dari dari Negara-negara tersebut. Siasat kedua ialah siasat bheda yang berarti memecah belah  dan memerintah. Sebab apabila tujuan mengadu domba musuh itu telah tercapai, sampailah pada mempraktekkan ddanndda atau pukulan, ialah pukulan terakhir kepada musuh yang teah lemah itu.

Pengetahuan tentang perang dalam bentuk yang agak konkrit diketemukan dalam beberapa kitab, diantaranya dalam kakawin Bharata yuddha yang menyebutkan beberapa bentuk wyuha atau susunan tentara, kitab Nitisastra yang membicarakan cara untuk memilih seorang panglima dan kitab Negarakretagama dari jaman Majapahit (1365) yang menguraikan bagaimana raja Hayam Wuruk  itu mempertontonkan kepandaian tentaranya yang mendemonstrasikan segala macam ulah perang. Dari berita-berita yang diketemukan dalam beberapa kitab kesusasteraan Jawa kuno itu dapat ditentukan dengan pasti bahwa ilmu siasat perang itu telah dikenal sedikitnya di daerah Jawa, Bali dan Lombok. Dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu siasat perang itu pasti telah dikenal di Indonesia pada waktu lampau. Bahwa siasat perang yang jitu untuk menggempur musuh yang berupa serangan frontal dan serangan gerilya itu diterapkan oleh rakyat Indonesia apabila berhadapan dengan kolonialisme Belanda.

Dari berita-berita itu cukuplah bukti bahwa rakyat Indonesia pada waktu yang lampauitu telah mengenal ilmu siasat perang. Hanya saja tidak diketemukan kitab-kitab yang menguraikan ilmu ini secara metodis dan sistematis. Salah satu kesusasteraan Indonesia kuno yang secara metodis membicarakan siasat perang frontal dan disebut wyuha, ialah kakawin Bharata Yuddha.

Menurut kesusasteraan India kuno, ialah dalam kitab Arthacastra karya Kauttilya disebutkan ada beberapa macam wyuha, ialah :

1. ddanndda wyuha : susunan tentara seperti alat pemukul.

2. bhoga wyuha : susunan tentara seperti ular.

3. mannddala wyuha : susunan tentara seperti lingkaran.

4. asamhata wyuha : susunan tentara yang bagian-bagiannya terpisah-pisah.

5. pradara wyuha : susunan tentara untuk menggempur musuh.

6. ddrddhaka wyuha : susunan tentara dengan sayap dan lambung tertarik kebelakang.

7. asahya wyuha : susunan tentara yang tidak dapat ditembus.

8. garudda wyuha : susunan tentara seperti garuda.

9. sanjaya wyuha : susunan tentara untuk mencapai kemenangan dan berbentuk busur.

10. wijaya wyuha : susunan tentara menyerupai busur dengan bagian busur depan yang mencolok.

11. sthulakarnna wyuha : susunan tentara yang berbentuk telinga (karnna) besar (sthula).

12. wicalawijaya wyuha : susunan tentara yang disebut kemenangan mutlak ; susunannya sama dengan 11, hanya saja bagian depan disusun dua kali lebih kuat dari pada 11.

13. camumukha wyuha : susunan tentara dengan bentuk 2 sayap yang berhadapan muka dengan musuh (camu dalam bahasa Sansekerta berarti suatu kesatuan perang).

14. jhashasya wyuha : susunan tentara seperti 13, hanya saja sayapnya ditarik kebelakang dan berbentuk muka ikan.

15. suimukha wyuha : susunan tentara yang berujung (mukha) ; seperti jarum (suci)

16. walaya wyuha : susunan tentara seperti 15, hanya saja barisannya terdiri dari 2 lapisan.

17. ajaya wyuha : susunan tentara yang tidak teralahkan.

18. sarpasari wyuha : susunan tentara seperti ular (sarpa) yang bergerak (sari).

19. gomutrika wyuha : susunan tentara yang berbentuk arah terbuangnya air kencing (mutrika) sapi (go).

20. syandana wyuha : susunan tentara yang menyerupai kereta (syandana).

21. godha wyuha : susunan tentara yang menyerupai buaya (godha).

22. waripatantaka wyuha : susunan tentara sama dengan 20, hanya saja segala pasukan terdiri dari barisan gajah, kuda dan kereta perang.

23. sarwatomukha wyuha : susunan tentara yang berbentuk lingkaran, sehingga pengertian sayap, lambung dan bagian depan tidak ada lagi ; sarwato dari kata sarwata berarti seluruh, sedangkan mukha berarti arah.

24. sarwatabhadra wyuha : susunan tentara yang serba (sarwata) menguntungkan (bhadra).

25. ashttanika wyuha : susunan tentara yang terdiri 8 divisi (asstta atau ashttanika berarti 8).

26. wajra wyuha : susunan tentara menyerupai petir (wajra) dan terdiri dari 5 divisi yang disusun terpisah-pisah satu dari yang lain.

27. udyanaka wyuha : susunan tentara menyerupai taman (udyanaka) yang juga disebut kakapadi wyuha, artinya susunan tentara yang berbentuk kaki (padi berarti berkaki) burung kaka-tua (kaka) dengan ketentuan bahwa susunan tentara ini terdiri 4 divisi.

28. ardhacandrika wyuha : susunan tentara yang berbentuk bulan sabit. juga disebut ardhacandra wyuha ; ditentukan bahwa susunan tentara ini berdasarkan atas 3 divisi.

29. karkattakacrenggi wyuha : susunan tentara yang berbentuk kepala (srengga) udang (karkattaka).

30. arista wyuha : susunan tentara yang serba menang (arista) dengan susunan garis depan yang ditempati oleh arisan kereta perang, barisan gajah, sedangkan barisan berkuda menempati garis belakang.

31. acala wyuha : susunan tentara yang tidak bergerak, ialah suatu susunan tentara dengan menempatkan barisan infanteri, barisan gajah, kuda dan kereta perang satu di belakang yang lain.

32. cyena wyuha : susunan tentara sama dengan garuda wyuha.

33. apratihata wyuha : susunan tentara yang tidak dapat dilawan ( pratihata berarti melawan, sedangkan a berarti tidak) dengan ketentuan bahwa barisan gajah, kuda, kerata perang dan infanteri ditempatkan satu dibelakang yang lain.

34. capa wyuha : susunan tentara yang berbentuk busur.

35. madhya wyuha : susunan tentara yang berbentuk busur dengan inti kekuatan di bagian tengah.

36. singha wyuha : susunan tentara berbentuk singa.

37. makara wyuha : susunan tentara yang berbentuk makara (udang).

38. padma wyuha : susunan tentara yang berbentuk bunga seroja.

39. wukir sagara wyuha : susunan tentara yang berbentuk bukir dan samudera.

40. wajratikshnna wyuha : susunan tentara yang berbentuk wajra atau petir yang   tajam.

41. gajendramatta atau gajamatta wyuha : gajah ngamuk.

Sebaliknya didalam kitab Kamandaka, salah satu kitab dari kesusasteraan Jawa kuno disebutkan 8 macam wyuha ialah :

  1. Garudda wyuha, susunan tentara yang berbentuk garuda
  2. Singha wyuha, susunan tentara yang berbentuk singa
  3. Makara wyuha, susunan tentara yang berbentuk makara
  4. Cakra wyuha, susunan tentara yang berbetuk cakram
  5. Padma wyuha, susunan tentara yang berbentuk bunga seroja
  6. Wukir sagara wyuha, susunan tentara yang berbentuk bukit dan samudera
  7. Ardhacandra wyuha, susunan tentara yang berbentuk bulan sabit
  8. Wajratikshnna wyuha, susunan tentara yang berbentuk wajra atau petir yang tajam.

Di dalam kakawin Bharata Yuddha disebutkan 10 macam wyuha, ialah :

  1. Wukir sagara wyuha dalam pupuh X 10 dan XL 2
  2. Wajratikshnna wyuha dalam pupuh X 11
  3. Garudda wyuha dalam pupuh XII 6
  4.  gajendramatta atau gajamatta wyuha dalam pupuh XIII 13
  5. Cakra wyuha dalam pupuh XIII 22 dan XV 21
  6. Makara wyuha dalam pupuh XIII 24 dan XXVII 2
  7. Sucimuka wyuha dalam pupuh XV 21
  8. Padma wyuha dalam pupuh XV 22
  9. Ardhacandra wyuha dalam pupuh XXVI 5
  10. Kananya wyuha dalam pupuh XL 2

Memang sudah tidak mengherankan lagi jika pada jaman dahulu bangsa Indonesia sudah mengenal strategi perang. Buktinya ialah pada jaman kerajaan hindhu- Budha di Indonesia sudah dapat menaklukkan berbagai kerajaan di Nusantara dan dapat menguasai nusantara dan menyatukannya. Kerajaan Majapahit dengan patihnya Gajah Mada, dapat menyatukan nusantara di bawah panji Majapahit. Hal ini tentu tidak akan terwujud jika tidak mempunyai strategi untuk berperang. Maka dari itu strategi-strategi perang yang terdapat dalam naskah tersebut sangatlah berguna bila digunakan oleh generasi yang selanjutnya.

Unsur Sejarah Dalam Kakawin Bharata Yuddha

Kakawin Bharata Yuddha kecuali menyebutkan nama seorang raja ialah raja Jayabhaya, juga menyebutkan angka tahun dalam manggala atau bagian pertama dalam kakawin ini. Angka tahun ini berbentuk candrasengkala yang berbunyi Caka kala ri sanga kuda cuddha candrama. Ialah tahun caka yang berangka tahun 1079 atau 1157 Masehi. Dengan ini sesungguhnya kakawin Bharata yuddha telah memenuhi syarat pertama sebagai sumber sejarah, karena telah menyebutkan seorang tokoh sejarah yaitu raja Jayabhaya dan menyebutkan angka tahun bilamana Jayabhaya memerintah.

Kakawin Bharata Yuddha ditulis sebagai cerita sejarah berkenaan dengan raja Jayabhaya, jadi merupakan ssuatu sejarah jawa Indonesia, artinya secara negative bukan sejarah India. Apabila ditinjau dari sudut kebudayaan, cerita perang antara keuarga Pandawa dengan Kurawa yang berasal dari India itu telah mengalami reworking dan telah dijalinkan dengan pola kebudayaan Indonesia setelah mengalami proses akulturasi.

Cerita Bharata Yuddha yang pada hakekatnya menceritakan Arjuna sebagai pahlawan dari keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa, raja Jayabhaya sendiri terjalin dalam cerita Bharata Yuddha. Artinya cerita Bharata Yuddha yang menggambarkan perang antara dua keluarga itu teah diidentifikasikan dengan sejarah pribadi raja Jayabhaya sendiri. Kakawin Bharata Yuddha itu merupakan suatu kitab apologi atau kitab pembelaan Jayabhaya dari Kediri terhadap perbuatan yang menyerang dan menaklukkan Jenggala. Dengan ini Mpu Seddah membebaskan raja Jayabhaya dari segala tujuan, bahwa ia telah menaklukkan kerajaan Jenggala yang dipimpin oleh salah satu keturunan Airlangga, jadi masih keluarganya sendiri.

Apabila peperangan yang disebutkan dalam  prasati Ngantang dihubungkan dengan kakawin Bharata Yuddha yang menyebutkan adanya perang antara Sri Pamasa ialah Jayabhaya dan Hemabhupati, ialah raja Mas atau kakaknya Jayabhaya, jelaslah bahwa ada perang saudaradan Raja Jayabhaya berhadapan dengan kakanya. Perang saudara itu sedemikian hebatnya sehingga Daha atau Kediri digambarkan menjadi lautan api, bahkan Raja Jayabhaya yang mula-mula menderita kekalahan terpaksa melarikan diri ke Hantang atau Ngantang pada waktu sekarang. Berkat bantuan daerah dan rakyat Hantang itu raja Jayabhaya dapat mengadakan serangan balasan dan dapat membinasakan Hemabhupati. Karena pembunuhan Hemabhupati, ialah kakak Jayabhaya itu merupakan suatu perbuatan yang terkutuk dan menyebabkan raja Jayabhaya dalam keadaan bahaya, maka dari sebab itu Mpu Seddah disuruh menyusun suatu kakawin ruwat.

Dari pengupasan kakawin Bharata Yuddha yang dibandingkan dengan bacaan prasasti Ngantang itu jelaslah , bahwa kakawin Bharata Yuddha itu sekalipun merupakan suatu Karya kesusasteraan dapat digunakan sebagai sumber sejarah. Seperti yang kita ketahui, bahwa penulisan sejarah sejak dulu maupun sekarang ialah memihak yang menang. Sejarah ditulis untuk memihak yang menang atau untuk legitimasi raja yang berkuasa pada waktu itu agar kekuasaan raja tidak ternodai. Para pujangga sejak dahulu di tugasi oleh raja untuk menulis karya sastra sebagai persembahan untuk raja. Oleh karena itu para pujangga hanya menulis kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh raja untuk rakyatnya.

LINGUISTIK BANDINGAN HISTORIS

A.                Pengertian

Linguistik Bandingan Historis adalah suatu cabang dari ilmu Bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan unsure bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut. Cabang ilmu ini mempelajari data-data dari suatu bahasa dari dua periode atau lebih lalu diperbandingkan secara cermat untuk memperoleh kaidah-kaidah perubahan yang terjadi dalam bahasa itu.

Bahasa adalah suatu alat pada manusia untuk menyatakan tanggapannya terhadap alam sekitar atau peristiwa-peristiwa yang dialami secara individual atau secara bersama-sama. Studi perbandingan bahasa ialah suatu karya yang bersifat universal untuk menemukan kenyataan-kenyataan bagaimana bangsa-bangsa di dunia sejak dahulu memandang dunia sekitarnya yang disimpan dalam bahasanya masing-masing.

B.                 Tujuan Linguistik Bandingan Historis

Seperti halnya ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, Linguistik Bandingan Historis juga mempunyai suatu tujuan. Dengan memperhatkan luas lingkup Linguistik Bandingan Historis tersebut, dapat dikemukakan tujuan dan kepentingan Linguistik Bandingan Historis sebagai berikut:

1)      Mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan mengadakan perbandingan mengenai unsure-unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang- bidang yang digunakan untuk memperbandingkan ialah fonologi dan morfologi.

2)      Mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada pada sekarang kepada bahasa purba atau berusaha menemukan bahasa proto yang menurunkan bahasa-bahasa modern.

3)      Mengadakan pengelompokkan (sub-grouping) bahasa-bahasa yang termasuk dalam suatu rumpun bahasa.

4)      Menemukan pusat-pusat penyebaran bahasa proto dari bahasa kerabat, serta menentukan gerak migrasi yang pernah terjadi pada masa lampau.

C.                Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa- bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa pro ( bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Lalu, bahasa pecahan ini akan menurunkan pula bahasa- bahasa lain. Kemudian bahasa- bahasa lain itu akan menurunkan lagi bahasa- bahasa pecahan berikutnya.

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa- bahasa yang memiliki sejumlah kesamaan seperti itu dianggap berasal dari bahasa asal atau bahasa proto yang sama. Apa yang dilakukan dalam klasifikasi genetis ini sebenarnya sama dengan teknik yang dilakukan dalam linguistik historis komparatif, yaitu adanya korespondensi bentuk (bunyi) dan makna. Oleh karena itu, klasifikasi genetis bisa dikatakan merupakan hasil pekerjaan linguistik historis komparatif. Klasifikasi genetis juga menunjukkan bahwa perkembangan bahasa- bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak, tetapi pada masa mendatang karena situasi politik dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih, perkembangan yang konvergensif tampaknya akan lebih mungkin dapat terjadi.

Klasifikasi semua bahasa di dunia yang dikembangkan oleh Linguistik Bangdingan Historis adalah sebagai berikut.

No

Rumpun

Bahasa

1 Indo-Eropa German, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavia, Roman, Keltik, Gaulis
2 Semito-Hamit (1) Semit: Arab, Etiopik, Ibrani,

(2) Hamit: Koptis, Berber, Kushit, dan Chad

3 Chairi- Nil (1) bahasa Bantu: Luganda, Swahili, Kaffir,   Subiya, Zulu, Tebele,

(2) Khoisan: Bushman, Hottentot

4 Dravida Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam, Brahui
5 Austronesia Indonesia, Melanesia, Polinesia
6 Austro-Asiatik Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam
7 Finno-Ugris Hungar, Lap, Samoyid
8 Altai Turki, Mongol, Machu-Tungu

Ada pertalian antara Finno-Ugris dan Altai yaitu Ural-Altai: Jepang, Korea

9 Paleo- Asiatis bahasa-bahasa di Siberia
10 Sino-Tibet Cina, Tai, Tibeto-Burma, Yenisei-Ostyak
11 Kaukasus Kausakus utara dan selatan (Georgia)
12 Indian Eskimo-Aleut, Na-Dene, Algonkin-Wakashan, Hokan, Sioux, Penutian, Aztek-Tanoan, Maya
13 Bahasa lainnya Irian, Australia, Kadai

 

D.                Ciri-ciri Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis mempunyai cirri-ciri sebagai berikut : non-arbitrer, ekshaustif, dan unik.

1.      Non-Arbitrer                       : berdasar garis keturunan. Bahasa-bahasa yang dianggap diturunkan  dari bahasa-bahasa yang lebih tua, dan bahasa-bahasa yang lebih tua selanjutnya akan diturunkan lagi dari bahasa-bahasa yang lebih tua sebelumnya.(ciri fonologis dan morfologis).

2.      Ekshaustif (tuntas)             : semua bahasa memiliki kelompok rumpun bahasa. Tidak ada bahasa yang tidak dimasukkan dalam kelompok-kelompok tadi, sehingga tidak ada yang tersisa.

3.      Unik                                  : tiap bahasa jelas kedudukannya pada kelompok mana, hanya dapat memiliki keanggotaan tertentu dan tidak mungkin masuk menjadi anggota rumpun bahasa yang berlainan.

E.                 Sejarah Linguistik Bandingan Historis

a.      Periode I (1830-1860)

  • Franz Bopp merupakan tokoh peletak dasar-dasar ilmu perbandingan bahasa. Ia membandingkan  akhiran-akhiran kata kerja dalam bahasa Sangsekerta, Yunani, Latin, Persia, dan German yang diterbitkan tahun 1816.
  • Rasmus Kristian Rask pada tahun 1818 menerbitkan buku tentang asal-usul bahasa Eslandia. Ia membandingkan bahasa German, terutama German Utara dengan bahasa Baltik, Slavia, dan Keltik, serta dimasukkan bahasa Baskia dan Finno-Ugris. Penemuannya yang terpenting adalah Pertukaran Bunyi (Lautverschiebung) antara bahasa Germa dan bahasa Latin-Yunani.
  • Jakob Grimm menyempurnakan hubungan-hubungan bunyi tersebut. Pada tahun 1819 ia menerbitkan buku Deutsche Grammatik.
  • Friedrich Vonschlegel pada tahun 1808 berhasil menetapkan bahasa Sangsekerta, Yunani, Latin, Persia, dan German menjadi bahasa Fleksi .
  • F. Pott dalam periode ini mengadakan penyedilikan estimologis kata-kata dengan metode yang lebih baik.
  • Wilhelm Von Humboldt mengemukakan klasifikasi bahasa di dunia menjadi bahasa isolatif, fleksi, aglutinatif, dan inkorporatif.

 

  1. b.      Periode II (1861-1880)
  • August Schleicher dalam bukunya Compendium der vergleichenden Grammatik  mengemukakan pengertian baru Ursprache (Proto Language) yaitu bahasa tua yang menurunkan bahasa kerabat.
  • Curtius berhasil menerapkan metode perbandingan untuk filologi klasik, khususnya bahasa Yunani.
  • Max Muller berhasil memperluas horizon pengetahuan ilmu bahasa lewat bukunya Lectures in the Science of Language (1861), ia memperkenalkan analisis dan sintesis untuk bahasa isolatif dan fleksi, sedangkan D. Whitney menambahkan polisintesis untuk bahasa inkorporatif.

 

 

 c.       Periode III (1880-akhir abad XIX)

  • K.Brugmann, Osthoff, Leskien merupakan kelompok tata bahasa yang menamakan dirinya  Jungrammatiker yang muncul setelah tahun 1880, mereka tertarik dengan kaidah bunyi Jakob Grimm. Aliran ini bergerak di Leipzig, salah satu muridnya adalah Leonard Bloomfield yang menjadi linguis Amerika.
  • J. Schmidt mencetuskan sebuah teori baru yang disebut Wallentheorie. Ia kemudian melhirkan Hukum Verner.
  • Hermann Paul menerbitkan buku Prinzipien der Sprachgeschichte (1880).
  • H. Steinthal mencoba membagi bahasa dengan landasan psikologi.
  • Fr. Muller menerbitkan bukunya Grundriss derSprachwissenschaft (1876-1888)

 

 d.      Periode IV (awal abad XX)

  • Fonetik berkembang sebagai suatu studi ilmiah.
  • Muncul cabang linguistik baru yaitu Psikolinguistik dan Sosiolinguisitik
  • Muncul aliran Praha sebagai reaksi terhadap studi bahasa yang terlalu   halus sampai pada bahasa individual (idiolek)

Bahasa dan Komunikasi

Bahasa Dan Komunikasi

A. Berbagai Jenis Perbuatan

Perbuatan dapat digolongkan menjadi empat golongan, yakni :

  1. Interpretatif

Ialah perbuatan yang diperoleh dari hasil interpretasi pengamatnya.

  1. Noninterpretatif

Perbuatan yang tidak mungkin diinterpretasi lain oleh pengamatnya dari apa yang terlihat dalam perbuatannya.

  1. Tidak disengaja

Perbuatan yang tidak dilatarbelakangi sumber-sumber tertentu yang mendorong terjadinya perbuatan tersebut. Biasanya perbuatan yang seperti ini tidak menuntt tanggung jawab.

Misalnya Gejala tdk disengaja dan tidak menuntut tnggung jawab = menggigil, tertawa

  1. Disengaja

Perbuatan yang dilatarbelakangi sumber- sumber seperti :tujuan, motivasi, kehendak, intensitas (lambang).

Contoh: Gejala yg menuntut tanggung jawab (Lambang) = tertawa karena mengejek
Dalam kontak sosial terdapat gejala yg menuntut tanggung jawab : bersin, batuk, menguap didepan org lain.

B. Perbuatan Komunikatif dan Nonkomunikatif

1. Nonkomunikatif : perbuatan yang tidak menghendaki tanggapan.

Cth : makan, membaca.

2. Salah Interpretasi: perbuatan yang Nonkomunikatif tetapi ditanggapi orang lain.

Cth : menggaruk2 kepala dikira mengancungkan jari, mengusir lalat dikira melambai.
3.Perbuatan Komunikatif: perbuatan yang mengharapkan rangsangan / respons.
Syarat : Antara komunikator dan komunikan mempunyai tafsiran yang sama terhadap lambang yang digunakan.Alat :bunyi peluit, sinar lampu, tanda morse.

Umpan balik

C. Komunikasi Verbal dan Nonverbal

  • Verbal: rangsangan yang Timbul dr alat bicara manusia.
  • Non Verbal: rangsangan yg timbul bukan dr alat bicara manusia.
  • Komunikasi Non Verbal: rangsangan nonverbal ditanggapi nonverbal

Sarana: -gerak gerik anggota badan : perubahan mimik,tepuktangan (nonverbal),sirine,peluit,kenthongan( auditif),-sinar lampu, cermin,bendera ( visual)

  • Komunikasi Verbal : rangsangan verbal ditanggapi verbal.

Sarana: auditif > komunikasi menggunakan bunyi artikulasi antara komunikator dan komunikannya. Dapat berupa fonem, morfem,kata,kelompok kata/kalimat.

Tahap:
Fatis(penataan materi bunyi)-> Proposional (penawaran pesan)->ilokutif (pesan dapat diinterpretasikan komunikan)->pengungkapan..

Apabila tahap terlaksana dengan baik, maka terjadilah komunikasi verbal.

 

 

Kajian Wacana

JENIS WACANA

            Wacana dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis menurut dasar pengklasifikasiannya, yaitu :

  1. Wacana berdasarkan bahasa yang dipakai.

a)      Wacana bahasa nasional (Indonesia)

b)      Wacana bahasa local atau daerah (Jawa,Sunda,Bali,Madura,dsb).

c)      Wacana bahasa Internasional (Inggris)

d)     Wacana bahasa lainnya (Belanda,Jerman,Perancis)

  1. Wacana berdasarkan media

a)      Wacana tulis

b)      Wacana lisan

  1. Wacana berdasarkan sifat/ jenis pemakaiannya.

a)      Wacana monolog

b)      Wacana dialog

  1. Wacana berdasarkan bentuknya.

a)      Wacana prosa

b)      Wacana puisi

c)      Wacana drama

  1. Wacana berdasarkan cara dan tujuan pemaparannya.

a)      Wacana narasi.

b)      Wacana deskripsi

c)      Wacana eksposisi.

d)     Wacana argumentasi

e)      Wacana persuasi

 

 

 

  1. Wacana berdasarkan bahasa yang dipakai.

a)      Wacana bahasa nasional (Indonesia)

Ialah wacana yang diungkapkan dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam pengucapannya/ sebagai sarananya.

b)      Wacana bahasa local atau daerah (Jawa,Sunda,Bali,Madura,dsb).

Ialah wacana yang diungkapkan dengan menggunakan sarana bahasa Jawa.

c)      Wacana bahasa Internasional (Inggris)

Adalah wacana yang dinyatakan dengan menggunakan bahasa Inggris

d)     Wacana bahasa lainnya (Belanda,Jerman,Perancis)

  1. Wacana berdasarkan media

a)      Wacana tulis

Ialah wacana yang disampaikan lewat bahasa tulis atau media tulis.

b)      Wacana lisan

Adalah wacana yang disampaikan lewat bahasa lisan atau media lisan.

  1. Wacana berdasarkan sifat/ jenis pemakaiannya.

a)      Wacana monolog (monologue discourse) adalah wacana yang disampaikan seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara langsung. Sifatnya searah, contoh : orasi ilmiah, penyampaian visi dan misi, khotbah,dll.

b)      Wacana dialog ialah wacana atau percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara langsung. Sifatnya dua arah, contoh : diskusi, seminar, musyawarah, dan kampanye dialogis.

  1. Wacana berdasarkan bentuknya.

a)      Wacana prosa ialah wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa/ gancaran. Dapat berupa wacana tulis atau lisan.

  • Wacana prosa tulis ( cerpen, cerbung, novel, artikel,dan undang-undang).
  • Wacana prosa lisan (pidato, khotbah,dan kuliah)

b)      Wacana puisi adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi.

  • Wacana puisi tulis (Puisi dan syair)
  • Wacana puisi lisan ( puisi yang dideklamasikan dan lagu-lagu)

c)      Wacana drama merupakan wacana yang disampaikan dalam bentuk drama, dalam bentuk dialog, baik berupa wacana tulis maupun lisan.

  • Wacana drama tulis ( naskah drama atau naskah sandiwara)
  • Wacana drama lisan ( pemakaian bahasa dalam pementasan “ percakapan antar pelaku drama”)
  1. Wacana berdasarkan cara dan tujuan pemaparannya.

a)      Wacana narasi.

Wacana yang mementingkan urutan waktu, dituturkan oleh persona pertama atau ketiga dalam waktu tertentu. Berorientasi kepada pelaku, diikat secara kronologis, pada umumnya terdapat pada berbagai fiksi. Contoh :

            Rini memang cantik. Apalagi jika bersama Ida teman karibnya, yang juga tidak kalah jelitanya. Keduanya bagaikan bidadari turun dari langit. Karenanya lelaki yang tidak bertampang lumayan dan tidak tebal dompetnya ia tidak berani mendekatinya. Padahal, kedua gadis itu sama sekalitidak pernah sombong dan angkuh kepada siapapun. Apalagi dalam hal berteman, tak ada satupun  yang diistimewakan. Semuanya dianggap sama asal mereka tidak kurang ajar saja.

Wacana tersebut dinarasikan oleh persona ketiga (penulis) dan berorientasi pada pelaku dalam cerita tersebut yaitu Rini dan Ida.

b)      Wacana deskripsi

Wacana yang bertujuan melukiskan, menggambarkan, atau memberikan sesuatu menurut apa adanya. Contoh :

            Secara administrative Kota Surakarta atau yang lebih dikenal sebagai kota Sala dibatasi oleh daerah kabupaten yang lain. Di sebelah Utara dibatasi oleh kabupaten Karanganyar dan Boyolali. Di sebelah timur dibatasi oleh daerah kabupaten Sragen dan Karanganyar. Di sebelah selatan dibatasi oleh kabupaten Sukoharjo dan di sebelah barat dibatasi oleh daerah kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar.

Wacana tersebut memberikan gambaran sesuai dengan kondisi yang sebenarnya mengenai batas-batas kota Surakarta secara administrative.

c)      Wacana eksposisi.

Atau wacana pembeberan yaitu wacana yang tidak mementingkan waktu dan pelaku. Berorientasi pada pokok pembicaraan, dan bagiannya diikat secara logis. Contoh :

Membicarakan masalah-masalah perempuan selalu actual dan menarik karena tidak akan pernah kehabisan isu. Sepanjang peradaban manusia, perempuan hanya memainkan peran sosial, ekonomi, maupun politik yang tidak signifikan , dibandingkan dengan peran laki-laki. Secara structural maupun fungsional mereka selalu terpinggirkan. Sebaliknya peran domestic perempuan lebih menonjol sebagai istri maupun ibu rumah tangga. Pertanyaannya adalah sampai kapan kondisi seperti itu akan terus berlangsung?, padahal upaya-upaya bahkan terobosan-terobosan  baru untuk mengubahnya sudah sekian lama diperjuangkan oleh banyak kalangan khususnya para feminis.(“perempuan dalam Islam, Maria Ulfah Anshor, dalam jurnal perempuan, edisi 20, 2001:23)

Wacana tersebut berorientasi pada pokok pembicaraan, yakni masalah-masalah  perempuan yang selalu actual. Masalah-masalah antara lain peran perempuan yang tidak signifikan dalam bidang sosial,ekonomi, dan politik yang terpinggirkan. Seperti pada judulnya membeberkan masalah perempuan dalam Islam dan bagian-bagiannya diikat secara logis.

d)     Wacana argumentasi

Wacana yang berisi ide, atau gagasan yang dilengkapi dengan data-data sebagai bukti, dan bertujuan meyakinkan pembaca akan kebenaran idea tau gagasannya. Berikut ini adalah contohnya :

Keluarga berencana adalah salah satu cara yang harus kita tempuh agar tercipta keluarga kecil yang sejahtera dan bahagia. Dengan hanya punya anak dua orang berarti lebih mudah mendidiknya, lebih mudah mencarikan segala kebutuhannya, sehingga dengan penuh optimism kita dapat mengharapkan masa depan yang cemerlang. Ibu dan ayah tidak cepat tua, dan terhindar dari segala rongrongan kesulitan hidup seandainya punya anak banyak. Maka agar tiap keluarga dapat menciptakan kesejahteraan lahir batin, cara yang paling tepat adalah turut serta menyukseskan program keluarga berencana.

Wacana tersebut berisi tentang gagasan pentingnya keluarga berencana. Melalui wacana tersebut, penulisnya bertujuan untuk meyakinkan akan kebenaran idea tau gagasan tersebut dengan melaksanakan keluarga berencana.

e)      Wacana persuasi

Wacana yang isinya bersifat ajakan atau nasihat, biasanya ringkas dan menarik, serta bertujuan untuk mempengaruhi secara kuat pada pembaca atau pendengar agar melakukan nasihat atau ajakan tersebut. Contohnya :

Beberapa hal yang harus kamu perhatikan sungguh-sungguh pada saat sekarang dan seterusnya di dalam meniti hidup berumah tangga. Kamu harus bersikap hati-hati dan bijaksana serta membina kemampuan berdiri sendiri. Orang tuamu telah melepasmu dan meletakkan seluruh tanggung jawabnya kepadamu sepenuhnya. Mereka tidak dapat lagi bertindak sebelum seperti sebelum saat ini berlangsung. Binalah rumah tanggamu dengan baik, tekun, dan saling percaya. Pandanglah kedua orang tuamu sendiri seolah-olah sebagai mertuamu… ( Llamzon,1984 dalam Syamsudin,1992:11).

Wacana tersebut berisi tentang nasihat perkawinan  yang dimaksudkan oleh penulis untuk mempengaruhi pembaca.

  1. Penggabungan wacana bahasa dengan wacana media

1)      Wacana bahasa Indonesia tulis ragam baku (wacana surat-menyurat resmi)

2)      Wacana bahasa Indonesia tulis ragam tak baku ( surat menyurat pribadi)

3)      Wacana bahasa Indonesia lisan ragam baku ( pidato kenegaraan)

4)      Wacana bahasa Indonesia lisan ragam tak baku (obrolan santai, wacana ketoprak humor,dsb)

5)      Wacana bahasa Jawa tulis ragam ngoko ( wacana surat yang ditulis orang tua untuk anak)

6)      Wacana bahasa Jawa tulis ragam karma ( wacana undangan pernikahan)

7)      Wacana bahasa Jawa tulis ragam campuran ( wacana pada naskah drama, cerpen, dll)

8)      Wacana bahasa Jawa lisan ragam ngkoko ( misalnya “ular-ular” atau “sabdatama” nasihat dari orang tua kepada pasangan pengantin dalam upacara pernikahan)

9)      Wacana bahasa Jawa lisan ragam karma ( pawartos bahasa Jawa)

10)  Wacana bahasa Jawa lisan ragam campuran ( wacana pementasan drama, pergelaran wayang kulit/ wayang orang, dsb).

 

  1. Wacana menurut cara penyusunan , isi, dan sifatnya. Misalnya Llamzon dalam bukunya Discourse Analysis (1984), menyebutkan wacana ada yang bersifat naratif, procedural, hortatorik, ekspositorik, dan deskriptif.

a)      Wacana naratif adalah rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh atau pelaku  dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.

b)      Wacana procedural merupakan rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh dibolak-balik unsure-unsurnya karena urgensi unsure terdahulu menjadi landasan unsure yang berikutnya.

c)       Wacana hortatorik adalah tuturan  yang isinya bersifat ajakan atau nasihat, kadang-kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan agar lebih meyakinkan. Tokoh penting didalamnya adalah orang.

d)      Wacana ekspositorik ialah rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran. Tujuannya ialah agar tercapainya tingkat pemahaman terhadap sesuatu secara lebih jelas, mendalam, dan luas.

e)      Wacana deskriptif pada dasarnyaberupa rangkaian tuturan yang memaparkan atau melukiskansesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuannya adalah tercapainya pengamatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu,sehinggapendengar atau pembacamerasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahuinya secara langsung.

AWAL MULA

TIMBULNYA BAHASA

A. PENDAHULUAN

Dari penggalian-penggalian arkeologis dari berbagai tempat, ahli-ahli purbakala memperkirakan bahwa kehadiran makhluk yang mirip manusia (hominoid) sudah ada sejak beberapa juta tahun yang lalu. Makhluk yang disebut hominoid ialah makhluk yang termasuk dalam kelas makhluk yang memiliki bentuk yang mirip dengan manusia, tetapi kekurangan cirri-ciri tertentu, misalnyaukuran otak. Mukanya maish menonjol kedepan, dan dahinyamiring kebelakang, isi tengkoraknya berkisar antara 750-1300 cc. bila dibandingkan dengan kera-kera modern, hominoid sudah lebih maju. Hominoid inilah yang member peluang bagi hadirnya hominid awal, yaitu makhluk-makhluk yang termasuk dalam genus homo, yang terdiri dari bermacam-macam homo, tetapi masih berbeda dengan homo sapiens, sebagai primat yang sudah mengalami pertumbuhan yang sempurna.

terdapat juga petunjuk bahwa sekitar dua juta tahun yang lalu,hominid telah mampu membuat dan menggunakan peralatan kasar dari batu, tetapi bukti adanya kebudayaan yang sesungguhnya baru diperoleh sekitar satu juta tahun yang lalu dengan munculnya hominid yang lebih maju. Dengan hadirnya kebudayaan yang sesungguhnya memberi sugesti bahwa seharusnya bahwa sudah ada bahasa pada waktu itu,karena bahasa merupakan pra syarat bagi pewarisan tradisional dan pertumbuhan kebudayaan. Awal mula pertumbuhan bahasa yang dalam hal ini lebihtepat disebut prabahasa mungkin sudah ada pada hominid, sedangkan bahasa sesungguhnya baru timbul lebih kemudian. Tetapi tidak ada bukti yang menunjang anggapan itu, atau yang memungkinkan kita menyusun suatu evolusi perkembangan manusia itu.

Pithecanthropus oleh Dr. Teuku Jacob diperkirakan sudah berkomunikasi linguistic secara terbatas, tetapi masih harus dibantu oleh isyarat-isyarat tuuh. Ia sudah memiliki prabahasa (Jacob,1980:hal. 85). Kesimpulan Dr. Jacob bahwa mausia pithecanthropus sudah bisa berbahasa ditunjang oleh kenyataan, bahwa sikap tegak sudah tercapai, meskipun lentik leher masih belum sempurna. Sikap tegak, demikian menurut Dr. Jacob, merupakan factor yang sangat penting untuk memungkinkan adanya saluran suara yang memungkinkan untuk berkomunikasi secara verbal.

Selanjutnya Dr. Jacob menarik kesimpulan sebagai berikut :

Dengan demikian kami berpendapat bahwa bahasa berkembang  perlahan-lahan dari system tertutup ke system terbuka antara 2 juta hingga ½ juta tahun yang lalu, tetapi baru dapat dianggap sebagai proto lingua antara 100.000 hingga 40.000 tahun yang lalu. Perkembangan yang penting baru terjadi sejak H. sapiens, tetapi perkembangan bahasa yang pesat barulah di zaman pertanian. (Jacob, 1981: 85)

Karena tidak ada data-data yang tertulis yang tertulis mengenai bagaimana timbulnya bahasa umat manusia dahulu kala, maka telah dilontarkan berbagai macam teori mengenai hal itu. Di bawah ini akan dikemukakan teori-teori yang penting yang dilancarkan sejauh ini mengenai timbulnya bahasa.

 

 

 

 

1. TEORI TEKANAN SOSIAL

Teori tekanan sosial (The social pressure theory) dikemukakan oleh Adam Smith dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments (hal.343 dan seterusnya). Teori ini bertolak dari anggapan bahwa bahasa manusia timbul karena manusia primitive dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami. Apabila mereka ingin menyatakan obyek tertentu, maka mereka terdorong pula untuk mengucapkan bunyi-bunyi tertentu. Bunyi-bunyi yang selalu mengiringi usaha mereka untuk menyatakan obyek-obyek yang mereka kenal baik, akan dipolakan oleh anggota-anggota kelompok dan akan dikenal sebagai tandauntuk menyatakan hal-hal itu. Demikian pula terjadi kalau pengalaman mereka makin bertambah. Mereka akan berusaha pula untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman baru itudengan bunyi-bunyi tertentu pula.

Teori ini tidak mempersoalkan bahwa fisik manusia primitive sebenarnya berkembang secara perlahan-lahan, sehingga kemampuan secara berbahasa juga akan berkembang secara perlahan-lahan. Adam Smith menggambarkan dalam teorinya itu seolah-olah manusia tiba-tiba sudah mencapai kesempurnaan fisik itu, sehingga kapasitas mentalnya pada awal perkembangannya juga sudah tercapai. Tutur merupakan produk dari tekanan sosial bukan hasil dari perkembangan manusia itu sendiri.

2.TEORI ONOMATOPETIK ATAU EKOIK

Teori onomatopetik atau ekoik (imitasi bunyi atau gema) mula-mula dikemukakan antara lain oleh J.G herder. Teori ini mengatakan bahwa obyek-obyek diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh obyek-oyek itu. Obyek-obyek yang dimaksud adalah bunyi-bunyi binatang atau peristiwa-peristiwa alam. Manusia yang berusaha meniru bunyi anjing,bunyi ayam, desis angin, debur gelombang dan sebagainya akan menyeut obyek-obyek atau perbuatannya dengan bunyi-bunyi itu. Dengan cara ini terciptalah kata-kata dalam bahasa.

Seorang penganut yang lain, D. Whitney mengatakan bahwa pada setiap tahap petumbuhan bahasa, banyak kata-kata yang baru timbul dengan cara ini. Kata-kata mulai timbul pada anak-anak yang berusaha meniru bunyi kereta api, bunyi mobil dan sebagainya (Whitney,1868: hal. 429). Sementara itu Lefevre, seorang penganut yang lain menjelaskan bahwa binatang-binatang memiliki dua elemen bahasa yang penting yaitu teriakan (cry) reflex dan spontan karena emosi atau kebutuhan, dan teriakan sukarela untuk member peringatan, menyatakan ancaman, atau panggilan. Dari kedua jenis ujaran ini, manusia mengembangkan bermacam-macam bunyi dengan mempergunakan variasi tekanan, reduplikasi, dan intonasiberkat mekanisme ujaran yang lebih sempurna, dan otak yang sudah lebih berkembang (Lefevre, 1894:hal.42-43). Imitasi baik langsung maupun simbolik atas bunyi asli, menyempurnakan unsure akarnya, sehingga timbulah nama-nama barang, atau tindakan-tindakan.

3. TEORI INTERYEKSI

Teori Interyeksi bertolak dari suatu asumsi  bahwa bahasa lahir dari ujaran-ujaran instinktif karena tekanan-tekanan batin, karena perasaan-perasaan yang mendalam, dan karena rasa sakit yang dimiliki oleh mannusia. Teori ini dijuluki dengan nama teori pooh-pooh.

Agaknya teori ini mulai dilancarkan oleh sejumlah filsuf, dan kemudian diterima sebagian karena usaha Whitney. Sesudah mengemukakan teori onomatopetik, Whitney mengemukakan juga bahwa adalah wajar bila orang-orang yang tidak terpelajar dan belum berkembang mengucapkan ujaran-ujaran tertentu, sementara itu wajah mereka secara alamiah mengekspresikan keadaan jiwanya. Dan ekspresi jiwa ini akan member makna pada ujaran-ujaran yang diucapkan dalam suasana batin tertentu. Whitney menghubungkan teori ini dengan teori onomatopetiknya dengan mengatakan bahwa karena ketakutan, kegembiraan, dan sebagainya binatanga atau manusia akan mengucapkan ujaran tertentu, dan ujaran-ujaran itu kemudian ditiru oleh manusia lainnya.

Seperti halnya dengan teori onomatopetik, maka kenyataan manusia akan mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu untuk menyatakan kejijikan, keheranan, dan sebagainya dengan ujaran-ujaran tertentu yang sekarang dikenal denganistilah interyeksi atau kata seru. Kata seru memang oleh beberapa ahli ditolak sebagai satu kelas kata. Kata seru merupakan bahasa yang utuh yang komplit untuk menyatakan seluruh perasaan, sebab itu disebut bahasa afektif. Bahasa afektif bukan hanya terjadi pada orang-orang yang kurang terpelajar dan belum berkembang, tetapi juga terjadi pada orang-orang terpelajar dan yang sudah maju dalam perkembangannya.

4. TEORI NATIVISTIK ATAU TIPE FONETIK

Max Muller mengajukan suatu teori lain mengenai asal-usul bahasa yang disebut teori nativistik atau teori tipe fonetik. Teori yang diajukannya itu tidak bersifat imitasi atau interyeksi. Teorinya didasarkan pada konsep mengenai akar yang lebih bersifat tipe fonetik.

Sebagai dasar teorinya ia mengemukakan suatu asumsi bahwa terdapat suatu hokum yang meliputi seluruh hampir alam ini, yaitu bahwa tiap barang akan mengeluarkan bunyi- bunyi bila dipukul. Tiap barang memiliki bunyi yang khas. Karena bunyi-bunyi yang khas itu manusia lalu memberikan responsnya atas bunyi-bunyi tersebut. Karena manusia memiliki kemampuan ekspresi artikulatoris, maka responsnya juga diberikan melalui ekspresi artikulatoris kepada apa yang diterima melalui panca inderanya.

Barangkali bukan maksud Muller untuk mengatakan bahwa manusia itu sama dengan lonceng atau gamelan, atau sebuah gendering yang akan mengeluarkan tertentu kalau dipukul. Yang ingin dikatakannya bahwa setiap barang akan memberikan reaksi tertentu bila ada suatu stimulus. Reaksi itu pada manusia separuhnya berbentuk vocal, yang dalam hal ini berbentuk tipe-tipe fonetik tertentu yang menjadi akar bagi perkembangan bahasa. Teori Muller diberi julukan teori ding-dong.

5. TEORI “YO-HE-HO”

Teori Noire yang menjadi landasan teori Muller itu bertolak dari suatu anggapan bahwa kegiatan otot-otot yang kuat mengakibatkan usaha pelepasan melalui pernapasan secara keras. Pelepasan melalui pernapasan ini menyebabkan perangkat mekanisme pita suara bergetar dengan bermacam-macam cara. Karena getaran itu timbulah bunyi ujaran.

Orang-orang primitive yang belum mengenal peralatan yang maju akan mengahadpi pekerjaan-pekerjaan yang erat tanpa peralatan itu. Sebab itu mereka selalu bersama-sama mengerjakan pekerjaan-pekerjaan semacam itu. Untuk member semangat kepada sesamanya,mereka akan mengucapkan bunyi-bunyi yang khas, yang dipertalikan dengan pekerjaan yang khusus itu. Sebab itu bunyi-bunyi yang dikeuarkan pada waktu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang khusus itu akan dipakai pula untuk menyebut perbuatan itu. Sebab teori ini dijuluki pula dengan nama teori Yo-He-Ho.

6. TEORI ISYARAT

Teori isyarat (The Gesture Theory ) diajukan oleh Wilhelm Wundt, seorang psikolog yang terkenal dalam abad XIX. Teorinya tentang asal-usul bahasa didasarkan pada hokum psikologi, yaitu pada setiap perasaan manusia mempunyai bentuk ekspresi yang khusus yang merupakan pertalian tertentu antara syaraf reseptor dan syaraf efektor.

Bahasa isyarat timbul dari emosi dan gerakan-gerakan ekspresif yang tak disadari menyertai emosi itu. Komunikasi gagasan-gagasan yang dilakukan dengan gerakan-gerakan tangan, yang membantu gerakan-gerakan mimetic (gerakan ekspresif untuk menyatakan emosi dan perasaan)wajah seseorang. Kemampuan untuk mendengar memungkinkan manusia untuk menciptakan jenis gerakan yang ketiga yaitu gerakan artikulatoris, disamping gerakan mimetic dan gerakan pantomimetik (pengungkap ide) yang sudah ada. Gerakan-gerakan artikulatoris ini lebih mudah diterima dan memiliki kemampuan untuk mengadakan modifikasi tanpa batas, maka dalam perkembangan selanjutnya gerakan artikulatoris menjadi lebih penting dari kedua gerakan lainnya.

Wundt juga mengatakan bahwa bahasa isyarat adalah bahasa primitive, tetapi ia sama sekali tidak menegaskan bahwa bahasa artikulatoris (bahasa ujaran) berkembang dari bahasa isyarat. Ia menganggap keduanya dipakai bersama-sama, tetapi kemudia bahasa ujaran memperoleh stauts yag lebih tetap karena fleksibilitasnya, dan kemampuan untuk mengadakan abstraksi.

7. TEORI PERMAINAN VOKAL

Jespersen seorang filolog Denmark yang kenamaan, berusaha mengkoordinasikan semua teori yang telah dikembangkan sebelumnya dan berusaha mengembangkan suatu sintesa ke dalam sebuah hipotesa yang lebih memuaskan. Bahasa manusia mulanya berujud dengungan dan senandung yang tek berkeputusan yang tidak mengungkapkan pikiran apapun, sama seperti senandung orang-orang tua untuk membuai dan menyenangkan bayi. Bahasa timbul sebagai permainan vocal, dan organ ujaran mula-mula dilatih dalam permainan untuk mengisi waktu senggang ini.

Bahasa mulai tumbuh dalam ujud ungkapan-ungkapanyang berbentuk setengah music, yang tak dapat dianalisa. Bahasa yang terdiri dari dan berkembang dari kata-kata semacam itu merupakan alat yang sangat kaku, rumit dan kacau.bunyi dan makna akan menjadi keharmonisan yang sempurna. Suatu jumlah medan maknayang cermat akan tetap mendampingi bentuk-bentuk tertentu. Jepersen dengan demikian beranggapan bahwa bahasa manusia mula-mula lebih bersifat puitis dalam permainan yang riang dan gembira, dalam cinta remaja yang ceria, dalam suatu impian yang romantic. Teori Jepersen dengan demikian berusaha untuk menjembatani kesenggangan antara vokalisasi emosional dan ideasional.

 

 

8. TEORI ISYARAT ORAL

Sebuah teori lain mengenai asal-usul bahasa dikemukakan oleh Sir Richard Paget dalam bukunya Human Speech (Paget,1930: bab VII). Untuk menunjang teorinya itu ia mengemukakan banyak bukti. Ia bertolak dari jaman bahasa isyarat, untuk membuktikan bahwa ketika manusia mulai menggunakan peralatan, tangannya dipenuhi dengan barang-barang itu sehingga tangannya tidak bisa dipergunakan dengan bebas dalam berkomunikasi. Sebab itu manusia memerlukan alat lain. Isyarat yang mulanya dilakukan dengan tangan, tanpa sadar mulai digantikan denganoleh alat-alat lain yang dapat menghasilkan isyarat-isyarat yang lebih cermat.

Argumentasi yang dikemukakanya sebagai berikut.pada mulanya manusia menyatakan gagasannya dengan isyarat tangan, tetapi tanpa sadar isyarat tangan itu diikuti juga oleh gerakan lidah, bibir, rahang yang membuat juga gerakan-gerakan sesuai dengan isyarat tangan tadi. Pada waktu tangan mendapat tekanan tugas yang lebih banyak karena aktivitas lainnya, maka peranan tangan sebagai pemberi isyarat juga berkurang, tetapi sementara itu bagian- bagian pelengkap seperti lidah, bibir dan rahang sudah siap untuk mengambil alih peranan itu dengan cara pantomimic. Kemudian tibalah tahap yang leih penting yaitu ketika manusia melakukan isyarat dengan lidah, bibir dan rahang, maka udara yang dihembuskan melalui mulut (oral) ataulubang hidung akan mengeluarkan pula isyarat-isyarat yang dapat didengar sebagai ujaran bisik. Jika nenek moyang kita menyanyi ( selagi berpantomim dengan lidah, bibir, dan rahang) atau menggerutu ( untuk menarik perhatian pada apa yang tengah dikerjakan), maka akan menghasilkan efek yang lebih baik, yaitu apa yang kita sebut sebagai bahasa (Paget, 1930: bab VII).

 

 

 

9. TEORI KONTROL SOSIAL

Teori control sosial diajukan oleh Gracc Andrus de Laguna dalam bukunya Speech:its function and development (1927, bab I). menurut de Laguna ujaran adalah suatu medium yang besar memungkinkan manusia bekerja sama. Bahasa merupakan upaya mengkoordinasi dan menghubungkan macam-macamkegiatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Bahkan teriakan hewan (cry) dan panggilan (call) mempunyai fungsi sosial. Panggilan yang menandakan bahasa dari seekor induk ayam ketika seekor elang terbang melintas diatasnya membangkitkan respons tertentu pada anak-anak ayam untuk mencari tempat persembunyian. Control sosial yang berwujud teriakan binatang dihubungkan dengan tingkah lakuyang sederhana dan kemampuan yang masih rendah dari spesies yang bersangkutan. Ketika bunyi-bunyi itu mulai dipakai secara sistematik untuk mengontrol tingkah laku orang-orang lain dalam untuk mengacu obyek-obyek selama permainan, maka nama-nama itumenjadi kata yang dan masuk sebagai unsure  dalam struktur bahasa.

Jadi dalam usahanya dalam menelusuri evolusi ujaran dari teriakan binatang ke penggunaanya sebagai ujaran, de Laguna melihat lebih jauh kebelakang bila dibandingkan dengan Jepersen. De Laguna menganggap bahwa ujaran didasarkan kepada aktivitas kehidupan yang sungguh-sungguh bukan sekedar permainan yang menyenangkan dan kesenangan remaja. Mungkinsaja bahwa masa-masa yang lebih cerah ini member iuran bagi aktivitas permainan vocal pada orang-orang primitive,tetapi hal ini hanya bisa terjadi kalau ujaran vocal dipisahkan dari konteksnya, dan membentuk suatu peruatan yang bebas, dan mengandung sifat-sifat yang menyenangkan dalam dirinya.

 

 

 

 

10. TEORI KONTAK

G. Revesz mengemukakan sebuah teori mengenai asal-usul bahasa yang disebut teori kontak. Sebagian kecil dari teori inimenyerupai teori tekanan sosial yang dikemukakan Adam Smith, tetapi bagian-bagian yang penting menyerupai teori teori control sosial dari de Laguna. Hubungan-hubungan sosial pada makhuk hidup memperlihatkan bahwa kebutuhan untuk mengadakan kontak satu sama lain tidak pernah member kepuasan  antara individu-individu dari tiap spesies. Pada tahap yang sangat rendah pada tingkat instinktif, kebutuhan untuk mengadakan kontak ini tampaknya dapat dipenuhi oleh kontak spasial (kontak karena kerapatan jarak fisik). Tetapi semakin kehidupan itu dilapisi oleh pengalaman-pengalaman yang terarah, maka keinginan akan kontak spasial td akan menjelma menjadi suatu keinginan untuk mengadakan kontak emosional. Pada tingkat ini kepuasan akan tercapai karena kedekatan emosional dengan orang lain, yang akan menimbulkan pengertian, simpati, dan empati pada orang lain. Kontak emosional adalah ha yang esensial pada tingkah laku berbahasa. Bahasa hanya mungkin  ada bila ada hubungan personal atau kontak emosional antara orang-orang yang mampu berbicara.

Aspek terakhir dari kontak yang sangat esensialbagi perkembangan bahasa adalah kontak intelektual. Seperti halnya kontak emosional berfungsi untuk menyampaikan emosi, maka kontak intelektual berfungsi untuk bertukar pikiran. Seorang anak manusia yang tak pernah terlibat dalam jaringan kontak intelektual dengan orang-orang lain, tidak akan mungkin memahami pengaruh bahasa sebagai alat untuk berkomuikasi intelektual. Hal ini juga berlaku secara filogenetis bahwa bahasa dapat muncul sesudah tercapai prakondisi untuk kontak emosional dan kontak emosional dan kontak intelektual pada anggota-anggota masyarakat primitive (Revesz, 1956: hal. 147-148).

 

 

11. TEORI HOCKETT-ASCHER

Pada prinsipnya para ahli menerima bahwa sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu, makhluk yang disebut proto hominoid sudah memiliki semacam bahasa. Primat ini dianggap memiliki semacam system komunikasi  yang disebut call. Sitem call sekitar 2-1 juta tahun yang lalu  merupakan suatu system yang sederhana. Terdiri dari sekitar enam tanda distingtif, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Keenam perbendaharaan call itu adalah :

  1. Call untuk menandakan adanya makanan
  2. Menyatakan adanya bahaya
  3. Menyatakan persahabatan atau keinginan untuk bersahabat
  4. Cal yang tidak mempunyai arti dan hanya menunjukkan dimana seekor gibbon berada, call ini berfungsi untuk menjaga agar anggota kelompok tidak terpisah teralu jauh ketika mereka bergerak diantara pohon-pohonan.
  5. Ada call untuk perhatian seksual,dan
  6. Ada call untuk menyatakan kebutuhan akan perlindunagn keibuan.

Untuk menyatakan sifat stimulus yang dihadapi, setiap call dapat bervariasi berdasarkan intensitasnya, lamanya, dan jumlah pengulangannya.

Tiap call bersifat eksusif secara timbal-balik dalam pengertian bahwa menyadari keadaannya dalam setiap situasi, proto hominoid tidak mampu mengeluarkan sebuah tanda yang memiliki cirri-ciri gabungan dari dua jenis call atau lebih. Cirri ekslusif dalam timbal balik ini secara teknis disebut system tertutup. Sebaliknya bahasa sebagai yang digunakan manusia dewasa ini bersifat terbuka atau produktif. System terbuka berarti kita dapat mengucapkan dengan bebas apa yang belum pernah kita kita ucapkan atau kita dengar sebelumnya, sementara maknanya dapat dipahami pula dengan mudah. System call dan bahasa berbeda dalam dua atau tiga hal berikut :

  1. System call tidak mengandung cirri pemindahan , bahasa justru memiliki cirri ini. Cirri pemindahan mengandung pengertian bahwa kita dapat berbicara dengan bebas mengenai suatu ha yang jauh letaknya dari pandangan kita, atau sesuatu yang berada dalam masa lampau, atau yang ada dimasa datang, bahkan kita bisa berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada.
  2. Ujaran dari sebuah bahasa terdiri dari susunan unit-unit tanda yang disebut fonem yang tidak mengandung makna, tetapi berfungsi untuk memisahkan ujaran-ujaran yang ermakna( morfem atau kata) satu dari yang lain. Jadi ujaran memiliki dua hal yaitu struktur dari unsure yang tidak mengandung makna, tetapi yang bisa dibedakan satu dari yang lain, dan juga sebuah struktur  dari unsure- unsure yang mengandung makna. Cirri ini disebut kekembaran pola. Sebuah system call tidak meiliki cirri ini perbedaan antara dua call bersifat global. Disamping itu masih ada perbedaan yang ketiga,
  3. Konvensi- konvensi yang terperinci dari sebuah bahasa dialihkan secara tradisional, walaupun kapasitasnya mempelajari bahasa dan rangsangan untuk berbahasa bersifat genetis.

Ciri- ciri tertentu dari system call proto hominoid dapat meragamkan intensitas, nada, dan durasi sebuah call tertentu, manusia masih melakukan hal ini dengan variasi tekanan, nada , dan durasi. Kadang- kadang kita berbicara lebih keras, kadang-kadang dengan lemah lembut, dan kadang-kadang dengan register yang lebih tinggi dan kadang-kadang lebih rendah. Kita masih menggunakan gerutu, desah atau teriakan-teriakan yang bukan kata atau morfem, juga bukan bagian dari bahasa. Bermacam-macam fenomena paralinguistic ini diolah kembali dan diubah dengan banyak cara  berdasarkan kondisi hidup manusia, tetapi silsilahnya tetap harus lebih tua dari bahasa itu sendiri.

SERAT WEDHATAMA
Serat Wedhatama adalah Sastra tembang atau kidungan jawa karya Mangkunegara IV Wedhatama (berasal dalam bahasa  Jawa; Wredhatama) yang berarti serat (tulisan/karya) wedha (Ajaran) tama (keutamaan/utama) Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya. Wedhatama menjadi salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan atau agama apapun. Karena ajaran dalam Wedhatama bukan lah dogma agama yang erat dengan iming-iming  ersu dan ancaman neraka, melainkan suara hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapapun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi. Mudah diikuti dan dipelajari oleh siapapun, diajarkan dan dituntun step by step secara rinci. Puncak dari “laku” spiritual yang diajarkan serat Wedhatama adalah; menemukan kehidupan yang sejati, lebih memahami diri sendiri, manunggaling kawula-Gusti.

Serat Wedhatama dan terjemahan bebas :
PUPUH I
P A N G K U R
01 Mingkar-mingkuring ukara, akarana karenan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ilmu luhung,kang tumrap ing tanah Jawa, agama ageming aji.
Meredam nafsu angkara dalam diri, Hendak berkenan mendidik putra-putri. Tersirat dalam indahnya tembang, dihias penuh variasi, agar menjiwai hakekat  ilmu luhur, yang berlangsung di tanah Jawa (nusantara) agama sebagai “pakaian” kehidupan.
02 Jinejer ing Weddhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi,mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi sepa lir sepah asamun,samasane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglelingsemi.
Disajikan dalam serat Wedhatama, agar jangan miskin pengetahuan, walaupun sudah tua pikun, jika tidak memahami rasa sejati (batin), niscaya kosong tiada berguna bagai ampas, percuma sia-sia, di dalam setiap pertemuan sering bertindak ceroboh memalukan.
03 Nggugu karsane priyangga, nora nganggo peparah lamun angling,lumuh ingaran balilu, uger guru aleman, nanging janma ingkang wus waspadeng semu, sinamun samudana, sesadoning adu manis .
Mengikuti kemauan sendiri, Bila berkata tanpa dipertimbangkan  (asal bunyi), Namun tak mau dianggap bodoh, Selalu berharap  dipuji-puji. (sebaliknya) Ciri orang yang sudah memahami  (ilmu sejati) tak bisa ditebak berwatak rendah hati, selalu berprasangka baik.
04 Si pengung nora nglegewa, sangsayarda denira cacariwis, ngandhar-andhar angendukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkangipun, si wasis waskitha ngalah, ngalingi marang sipingging.
(sementara) Si dungu tidak menyadari, Bualannya semakin menjadi jadi, ngelantur bicara yang tidak-tidak, Bicaranya tidak masuk akal, makin aneh tak ada jedanya. Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah, Menutupi aib si bodoh.
05  Mangkono ilmu kang nyata, sanyatane mung we reseping ati,bungah ingaran cubluk, sukeng tyas yen den ina, nora kaya si punggung anggung gumunggung, ugungan sadina dina, aja mangkono wong urip.
Demikianlah ilmu yang nyata, Senyatanya memberikan ketentraman hati, Tidak merana dibilang bodoh, Tetap gembira jika dihina Tidak seperti si dungu yang selalu sombong, Ingin dipuji setiap hari. Janganlah begitu caranya orang hidup.
06  Uripa sapisan rusak, nora mulur nalare ting saluwir, kadi ta guwa kang sirung,  sinerang ing maruta, gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung, pindha padhane si mudha, prandene paksa kumaki.
Hidup sekali saja berantakan, Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut. Umpama goa gelap menyeramkan, Dihembus angin, Suaranya gemuruh menggeram, berdengung Seperti halnya watak anak muda masih pula berlagak congkak
07  Kikisane mung sapala, palayune ngendelken yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur, lah iya ingkang rama, balik sira sarawungan bae  ersua, mring atining tata  ersu, nggon-anggon agama suci.
Tujuan hidupnya begitu rendah, Maunya mengandalkan orang tuanya, Yang terpandang serta bangsawan Itu kan ayahmu ! Sedangkan kamu kenal saja belum, akan hakikatnya tata  ersu dalam ajaran yang suci
08 Socaning jiwangganira, jer katara lamun pocapan pasthi, lumuh asor kudu unggul, sumengah sesongaran,yen mangkono kena ingaran katungkul, karem ing reh kaprawiran, nora enak iku kaki.
Cerminan dari dalam jiwa raga mu, Nampak jelas walau tutur kata halus, Sifat pantang kalah maunya  menang sendiri Sombong besar mulut, Bila demikian itu, disebut orang yang terlena, Puas diri berlagak tinggi Tidak baik itu nak !
09 Kekerane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad,  ersu aneng sajabaning daging kulup, Yen kapengkok pancabaya,
ubayane mbalenjani.
Di dalam ilmu yang dikarang-karang (sihir/rekayasa), Rekayasa dari hal-hal gaib, Itu umpama bedak. Tidak meresap ke dalam jasad, Hanya ada di kulitnya saja nak, Bila terbentur marabahaya, bisanya menghindari.
10 Marma ing sabisa-bisa, babasane muriha tyas basuki, puruitaa kang patut, lan traping angganira, Ana uga angger ugering kaprabun, abon aboning panembah, kang kambah ing siang ratri.
Karena itu sebisa-bisanya, Upayakan selalu berhati baik, Bergurulah secara tepat, Yang sesuai dengan dirimu, Ada juga peraturan dan pedoman bernegara, Menjadi syarat bagi yang berbakti, yang berlaku siang malam.
11 Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi, mring tapaking tepa tulus, kawawa nahen hawa, Wruhanira mungguh sanjataning ngelmu, tan mesthi neng janma wreda, tuwin muda sudra kaki.
Tulah nak, tanyakan Kepada para sarjana yang menimba ilmu, Kepada jejak hidup para suri tauladan yang benar, dapat menahan hawa nafsu, Pengetahuanmu adalah senyatanya ilmu, Yang tidak harus dikuasai orang tua, Bisa juga bagi yang muda atau miskin, nak !
12 Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, bangkit mikat reh mangukut, kukutaning Jiwangga, Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, liring sepuh sepi hawa, awas roroning ngatunggil.
Siapapun yang menerima wahyu Tuhan, Dengan cermat mencerna ilmu tinggi, Mampu menguasai ilmu kasampurnan, Kesempurnaan jiwa raga, Bila demikian pantas disebut “orang tua”. Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu, Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan)
13 Tan samar pamoring Sukma, sinukma ya winahya ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, Pambukaning waana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati.
Tidak lah samar sukma menyatu, meresap terpatri dalam keheningan  semadi, Diendapkan dalam lubuk hati menjadi pembuka tabir, berawal dari keadaan antara sadar dan tiada, Seperti terlepasnya mimpi Merasuknya rasa yang sejati.
14 Sajatine kang mangkono, wus kakenan nugrahaning Hyang Widi, bali alaming ngasuwung, tan karem karamean, ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira, mulane wong anom sami.
Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan, Kembali  ersuas yang mengosongkan, tidak mengumbar nafsu duniawi, yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal muasalmu Oleh karena itu, wahai anak muda sekalian.

PUPUH II
S I N O M

01 Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karenak tyasing  ersua.
Contohlah perilaku utama,bagi kalangan orang Jawa (Nusantara),orang besar dari Ngeksiganda (Mataram),Panembahan Senopati,yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin (bertapa),serta siang malam selalu berkarya membuat hati tenteram bagi  ersua (kasih sayang)
02 Samangsane pesasmuan, mamangun martana  ersuas, sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki, nggayuh geyonganing kayun, kayungyun eninging tyas, sanityasa pinrihatin, puguh panggah cegah dhahar, lawan nendra.
Dalam setiap pergaulan,membangun sikap tenggang rasa.Setiap ada kesempatan,Di saat waktu longgar,mengembara untuk bertapa,menggapai cita-cita hati,hanyut dalam keheningan kalbu.Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu),dengan tekad kuat, membatasi  makan dan tidur.
03 Saben nendra saking wisma, lelana laladan sepi, ngisep sepuhing supana, mrih pana pranaweng kapti, titising tyas marsudi, mardawaning budya tulus, mese reh kasudarman, neng tepining jala nidhi, sruning brata kataman wahyu dyatmika.
Setiap mengembara meninggalkan rumah (istana),berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu),menghirup  tingginya ilmu,agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati.Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,memperdayakan akal budimenghayati cinta kasih,ditepinya samudra.Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati).
04 Wikan wengkoning samodra, kederan wus den ideri, kinemat kamot hing driya, rinegan segegem dadi, dumadya angratoni, nenggih Kanjeng Ratu Kidul, ndedel nggayuh nggegana, umara marak maripih, sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda.
Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi,“kesaktian” melimputi indera Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil berkuasa,Kangjeng Ratu Kidul,Naik menggapai  ersu-awang,(kemudian) datang menghadap dengan penuh hormat,kepada Wong Agung Ngeksigondo.
05
Dahat denira aminta, sinupeket pangkat kanci, jroning alam palimunan,  ing pasaban saben sepi, sumanggem anjanggemi, ing karsa kang wus tinamtu, pamrihe mung aminta, supangate teki-teki, nora ketang teken janggut suku jaja.
Memohon dengan sangat lah beliau,agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam alam gaib,tempatnya berkelana setiap sepi.Bersedialah menyanggupi,kehendak yang sudah digariskan.Harapannya hanyalah memintarestu dalam bertapa,Meski dengan susah payah.
06 Prajanjine abipraja, saturun-turun wuri, Mangkono trahing ngawirya, yen amasah mesu budi, dumadya glis dumugi, iya ing sakarsanipun, wong agung Ngeksiganda, nugrahane prapteng mangkin, trah tumerah darahe pada wibawa.
Perjanjian sangat mulia,untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian hari.Begitulah seluruh keturunan orang luhur,bila mau mengasah akal budi akan cepat berhasil,apa yang diharapkan orang besar Mataram, anugerahnya hingga kelak dapat mengalir di seluruh darah keturunannya,  dapat memiliki wibawa.
07 Ambawani tanah Jawa, kang padha jumeneng aji, satriya dibya sumbaga, tan lyan trahing Senapati, pan iku pantes ugi, tinelad labetanipun, ing sakuwasanira, enake lan jaman mangkin, sayektine tan bisa ngepleki kuna.
Menguasai tanah Jawa (Nusantara),yang menjadi raja (pemimpin),satria sakti tertermasyhur,tak lain keturunan Senopati,hal ini pantas pulasebagai tauladan budi  pekertinya,Sebisamu, terapkan di zaman nanti,Walaupun tidak bisa persis sama seperti di masa silam.
08 Luwung kalamun tinimbang, ngaurip tanpa prihatin, Nanging ta ing jaman mangkya, pra mudha kang den karemi, manulad nelad Nabi, nayakeng rad Gusti Rasul, anggung ginawe umbag, saben saba mapir masjid, ngajap-ajap mukjijat tibaning drajat.
Mending bila  ersuasive orang hidup tanpa prihatin,namun di masa yang akan datang (masa kini),yang digemari anak muda,meniru-niru nabi, rasul utusan Tuhan,yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri,setiap akan bekerja singgah dulu di masjid,Mengharap mukjizat agar mendapat derajat (naik pangkat).
09 Anggung anggubel sarengat, saringane tan den wruhi, dalil dalaning ijemak, kiyase nora mikani, katungkul mungkul sami, bengkrakan neng masjid agung, kalamun maca kutbah, lelagone dhandhanggendhis, swara arum ngumandhang cengkok palaran.
Hanya memahami sariat (kulitnya) saja, sedangkan hakekatnya tidak dikuasai,Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuniMereka lupa diri, (tidak sadar)bersikap berlebih-lebihan di masjid besar,Bila membaca khotbahberirama gaya dandanggula (menghanyutkan hati),suara merdu bergema gaya palaran (lantang  bertubi-tubi).
10 Lamun sira paksa nulad, Tuladhaning Kangjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangkah, wateke tak betah kaki, Rehne ta sira Jawi, satitik bae wus cukup, aja ngguru aleman, nelad kas ngepleki pekih, Lamun pungkuh pangangkah yekti karamat.
Jika kamu memaksa meniru,tingkah laku `Kanjeng Nabi,Oh, nak terlalu  ers,Biasanya tak akan betah nak,Karena kamu itu orang Jawa,sedikit saja sudah cukup.Janganlah sekedar mencari sanjungan,Mencontoh-contoh mengikuti fiqih,apabila mampu,memang ada harapan mendapat rahmat.
11 Nanging enak ngupa boga, rehne ta tinitah langip, apa ta suwiteng Nata, tani tanapi agrami, Mangkono mungguh mami, padune wong dhahat cubluk,  ersua wruh cara Arab, Jawaku bae tan ngenting, parandene pari peksa mulang putra.
Tetapi seyogyanya mencari nafkah,Karena diciptakan sebagai makhluk lemah,Apakah mau mengabdi kepada raja,Bercocok tanam atau berdagang,Begitulah menurut pemahamanku,Sebagai orang yang sangat bodoh,Belum paham cara Arab,Tata cara Jawa saja tidak mengerti,Namun memaksa diri mendidik anak.
12 Saking duk maksih taruna, sadhela wus anglakoni, aberag marang agama, maguru  ersuasi kaji, sawadine tyas mami, banget wedine ing besuk, pranatan ngakir jaman, Tan tutug kaselak ngabdi, nora kober sembahyang gya tininggalan.
Dikarenakan waktu masih muda,Keburu menempuh belajar pada agama,Berguru menimba ilmu pada yang haji, maka yang terpendam dalam hatiku, menjadisangat takut akan hari kemudian,Keadaan di akhir zaman,Tidak tuntas keburu “mengabdi”Tidak sempat sembahyang terlanjur dipanggil.
13 Marang ingkang asung pangan, yen kasuwen den dukani, abubrah bawur tyas ingwang, lir kiyamat saben hari, bot Allah apa gusti, tambuh-tambuh solah ingsun, lawas-lawas graita, rehne ta suta priyayi, yen mamriha dadi kaum temah nista.
Kepada yang  ersua makan,Jika kelamaan dimarahi,Menjadi kacau balau perasaanku,Seperti kiyamat saban hari,Berat “Allah” atau “Gusti”,Bimbanglah sikapku,Lama-lama berfikir,Karena anak turun priyayi,Bila ingin jadi juru doa (kaum) dapatlah nista,
14 Tuwin ketib suragama, pan ingsun nora winaris, angur baya angantepana, pranatan wajibing urip, lampahan angluluri, aluraning pra luluhur, kuna kumunanira, kongsi tumekeng semangkin, Kikisane tan lyan among ngupa boga.
Begitu pula jika aku menjadi pengurus dan juru dakwah agama.Karena aku bukanlah keturunannya,Lebih baik memegang teguh aturan dan kewajiban hidup,Menjalankan pedoman hidupwarisan leluhur dari zaman dahulu kala hingga kelak kemudian hari. Ujungnya tidak lain hanyalah mencari nafkah.
15 Bonggan kang tan mrelokena, mungguh ugering ngaurip, uripe tan tri prakara,  wirya, arta, tri winasis, kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman ngulandara.
Salahnya sendiri yang tidak mengerti,Paugeran orang hidup itu demikian seyogyanya,hidup dengan tiga perkara;Keluhuran (kekuasaan), harta (kemakmuran), ketiga ilmu pengetahuan.Bila tak satu pun dapat diraih dari ketiga perkara itu,habis lah harga diri manusia.Lebih berharga daun jati kering, akhirnya mendapatlah derita, jadi pengemis dan terlunta.
16 Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing Jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angelangut tanpa tepi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma.
Yang sudah paham tata caranya,Menghayati ajaran utama,Jika berhasil merasuk ke dalam jiwa,akan melihat tanpa penghalang,Yang menghalangi tersingkir,Terbukalah rasa sayup menggema.Tampaklah seluruh cakrawala,Sepi tiada bertepi,Yakni disebut  “tapa tapaking Hyang Sukma”.
17 Mangkono janma utama, tuman tumanem ing sepi, ing saben rikala mangsa,masah amemasuh budi, lahire den tetepi, ing reh kasatriyanipun, susila anor raga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama.
Demikianlah manusia utama,Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu),Di saat-saat tertentu,Mempertajam dan membersihkan budi,Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria,berbuat susila rendah hati,pandai menyejukkan hati pada  ersua,itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama.
18 Ing jaman mengko pan ora, arahe para turami, yen antuk tuduh kang nyata, nora pisan den lakoni, banjur njujurken kapti, kakekne arsa winuruk, ngandelken gurunira, pandhitane praja sidik, tur wus manggon pamucunge mring makrifat.
Di zaman kelak tiada demikian,sikap anak muda bila mendapat petunjuk nyata,tidak pernah dijalani,Lalu hanya menuruti kehendaknya,Kakeknya akan diajari,dengan mengandalkan gurunya,yang dianggap pandita  ersua yang pandai,serta sudah menguasai makrifat.
PUPUH III
P U C U N G
01 Ngelmu iku, kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangkese dur angkara.
Ilmu (hakekat) itudiraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,dimulai dengan kemauan.Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap  ersua,Teguh membudi daya Menaklukkan semua angkara
02 Angkara gung, neng angga anggung gumulung, gogolonganira triloka, lekere kongsi, yen den umbar ambabar dadi rubeda.
Nafsu angkara yang besar ada di dalam diri, kuat menggumpal, menjangkau hingga tiga zaman, jika dibiarkan berkembang akan berubah menjadi gangguan.
03 Beda lamun, kang wus sengsem reh ngasamun, semune ngaksama, sasamane bangsa sisip, sarwa sareh saking mardi marto tama.
Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,Watak dan perilaku memaafkanpada sesamaselalu sabar berusahamenyejukkan suasana,
04 Taman limut, durgameng tyas kang weh limput, kereming karamat, karana karohaning sih, sihing Sukma ngreda sahardi gengira.
Dalam kegelapan.Angkara dalam hati yang menghalangi,Larut dalam kesakralan hidup,Karena temggelam dalam samodra kasih sayang, kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung
05 Yeku patut, tinulad-tulad tinurut, sapituduhira, aja kaya jaman mangkin, keh pramudha mundhi dhiri lapel makna.
Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikutiseperti semua nasehatku.Jangan seperti zaman nantiBanyak anak muda yang menyombongkan diri dengan hafalan ayat
06 Durung pecus,kesusu kaselak besus, amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir, pendhak-pendhak angendhak gunaning janma.
Belum mumpuni sudah berlagak pintar.Menerangkan ayatseperti sayid dari Mesir Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.
07 Kang kadyeku, kalebu wong ngaku-aku, akale alangka, elok Jawane denmohi, paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah.
Yang seperti itutermasuk orang mengaku-akuKemampuan akalnya dangkalKeindahan ilmu Jawa malah ditolak.Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di Mekah,
08 Nora weruh, rosing rasa kang rinuruh, lumeketing angga, anggere padha marsudi, kana-kene kaanane nora beda.
Tidak memahamihakekat ilmu yang dicari,sebenarnya ada di dalam diri.Asal mau berusaha sana sini (ilmunya) tidak berbeda,
09 Uger lugu, den ta mrih pralebdeng kalbu, yen  ersu  ersua, ing drajat kajating urip, kaya kang wus winahyeng sekar srinata.
Asal tidak banyak tingkah,agar supaya merasuk ke dalam sanubari.Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya.Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas).
10 Basa ngelmu, mupakate lan panemu, pasahe lan tapa, yen satriya tanah Jawi, kuna-kuna kang ginilut triprakara.
Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.Bagi satria tanah Jawa,dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;
11 Lila lamun, kelangan nora gegetun, trima yen kataman, sakserik sameng dumadi, trilegawa nalangsa srahing Batara.
Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,Sabar jika hati disakiti  ersua,Ketiga ; lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan.
12 Batara gung, inguger graning jajantung, jenak Hayang Wisesa, sana paseneten Suci, nora kaya si mudha mudhar angkara.
Tuhan Maha Agungdiletakkan dalam setiap hela nafasMenyatu dengan Yang MahakuasaTeguh mensucikan diriTidak seperti yang muda,mengumbar nafsu angkara.
13 Nora uwus, kareme anguwus-uwus, uwose tan ana, mung janjine muring-muring, kaya buta-buteng betah nganiaya.
Tidak henti hentinyagemar mencaci maki.Tanpa ada isinyakerjaannya marah-marah seperti raksasa; bodoh, mudah marah dan menganiaya  ersua.
14 Sakeh luput,  ing angga tansah linimput, linimpet ing sabda, narka tan ana udani, lumuh ala ardane ginawe gada.
Semua kesalahandalam diri selalu ditutupi,ditutup dengan kata-katamengira tak ada yang mengetahui,bilangnya enggan berbuat jahat padahal tabiat buruknya membawa kehancuran.
15 Durung punjul, ing kawruh kaselak jujul, kaseselan hawa, cupet kapepetan pamrih, tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa.
Belum cakap ilmuBuru-buru ingin dianggap pandai.Tercemar nafsu selalu merasa kurang,dan tertutup oleh pamrih, sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.

PUPUH IV
G A M B U H
01 Samengko ingsun tutur, sembah catur: supaya lumuntur, dihin: raga, cipta, jiwa, rasa, kaki, ing kono lamun tinemu, tandha nugrahaning Manon.
Kelak saya bertutur,Empat macam sembah supaya dilestarikan;Pertama; sembah raga, kedua; sembah cipta, ketiga; sembah jiwa, dan keempat; sembah rasa, anakku !Di situlah akan bertemu dengan pertanda anugrah Tuhan.
02 Sembah raga puniku, pakartine wong amagang laku, susucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton.
Sembah raga adalahPerbuatan orang yang lagi magang “olah batin”Menyucikan diri dengan sarana air,Yang sudah lumrah misalnya lima waktu Sebagai rasa menghormat waktu
03 Inguni-uni  ersua, sinarawung wulang kang sinerung, lagi iki bangsa kas ngetok-ken anggit, mintoken kawignyanipun, sarengate elok-elok.
Zaman dahulu belumpernah dikenal ajaran yang penuh tabir,Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan,memamerkan ke-bisa-an nya amalannya aneh aneh
04 Thithik kaya santri Dul, gajeg kaya santri brahi kidul, saurute Pacitan pinggir pasisir, ewon wong kang padha nggugu, anggere guru nyalemong.
Kadang seperti santri “Dul”  (gundul)Bila tak salah, seperti santri wilayah selatanSepanjang Pacitan tepi pantaiRibuan orang yang percaya. Asal-asalan dalam berucap
05 Kasusu arsa weruh, cahyaning Hyang kinira yen karuh, ngarep-arep urup arsa den kurebi, Tan wruh kang mangkoko iku, akale keliru enggon.
Keburu ingin tahu,cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan,Menanti-nanti besar keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mataOrang tidak paham yang demikian ituNalarnya sudah salah kaprah
06 Yen ta jaman rumuhun, tata titi tumrah tumaruntun, bangsa srengat tan winor lan laku batin, dadi ora gawe bingung, kang padha nembah Hyang Manon.
Bila zaman dahulu,Tertib teratur runtut harmonissariat tidak dicampur aduk dengan olah batin, jadi tidak membuat bingung bagi yang menyembah Tuhan
07 Lire sarengat iku, kena uga ingaranan laku, dihin ajeg kapindhone ataberi, pakolehe putraningsun, nyenyeger badan mwih kaot.
Sesungguhnya sariat itu dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun.Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan agar lebih baik,
08 Wong seger badanipun, otot daging kulit balung sungsum, tumrah ing rah memarah antenging ati, antenging ati nunungku, angruwat ruweting batos.
Badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar,Mempengaruhi darah, membuat tenang di hati.Ketenangan hati membantu Membersihkan kekusutan batin
09 Mangkono mungguh ingsun, ananging ta sarehne asnafun, beda-beda panduk panduming dumadi, sayektine nora jumbuh, tekad kang padha linakon.
Begitulah menurut ku !Tetapi karena orang itu berbeda-beda,Beda pula garis nasib dari Tuhan.Sebenarnya tidak cocok tekad yang pada dijalankan itu
10 Nanging ta paksa tutur, rehning tuwa tuwase mung catur, bok lumuntur lantaraning reh utami, sing sapa temen tinemu, nugraha geming Kaprabon.
Namun terpaksa  ersua nasehatKarena sudah tua kewajibannya hanya  ersua petuah.Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama.Barang siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan.
11 Samengko sembah kalbu, yen lumintu uga dadi laku, laku agung kang kagungan Narapati, patitis tetesing kawruh, meruhi marang kang momong.
Berikutnya, sembah kalbu itujika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual.Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja.Tujuan ajaran ilmu ini; untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)
12 Sucine tanpa banyu, mung nyenyuda mring  ersuasiv kalbu, pambukane tata, titi, ngati-ati, atetetp talaten atul, tuladhan marang waspaos.
Bersucinya tidak menggunakan airHanya menahan nafsu di hatiDimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada)Teguh, sabar dan tekun,semua menjadi watak dasar,Teladan bagi sikap waspada.
13 Mring jatining pandulu, panduk ing ndon dedalan satuhu, lamun lugu  ersuasi reh maligi, lageane tumalawung, wenganing alam kinaot.
Alam penglihatan yang sejati,Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar.Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasiSampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan Itulah, terbukanya “alam lain”
14 Yen wus kambah kadyeku, sarat sareh saniskareng laku, kalakone saka eneng, ening, eling,  Ilanging rasa tumlawung, kono adile Hyang Manon.
Bila telah mencapai seperti itu,Saratnya sabar segala tingkah laku.Berhasilnya dengan cara;Membangun kesadaran, mengheningkan cipta,  pusatkan fikiran kepada  ersua Tuhan. Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa  memasuki alam gaib rahasia Tuhan)
15 Gagare ngunggar kayun, tan kayungyun mring ayuning kayun, bangsa anggit yen ginigit nora dadi, Marma den awas den emut, mring pamurunging lelakon.
Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu)Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati, Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.Maka awas dan ingat lahdengan yang membuat gagal tujuan
16 Samengko kang tinutur, sembah katri kang sayekti katur, mring Hyang Sukma sukmanen sehari-hari, arahen dipun kecakup, sembah ing Jiwa sutengong.
Nanti yang diajarkanSembah ketiga yang sebenarnya  diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa).Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku !
17 Sayekti luwih prelu, ingaranan pepuntoning laku, kalakuan kang tumrap bangsaning batin, sucine lan Awas Emut, mring alame alam amot.
Sungguh lebih penting, yangdisebut sebagai ujung jalan spiritual,Tingkah laku olah batin, yakni menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.
18 Ruktine ngangkah ngukut, ngiket ngrukut triloka kakukut, jagad agung gimulung lan jagad cilik, Den kandel kumandel kulup, mring kelaping alam kono.
Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai.Jagad besar tergulung oleh jagad kecil,Pertebal keyakinanmu anakku !Akan kilaunya alam tersebut.
19 Keleme mawa limut, kalamatan jroning alam kanyut, sanyatane iku kanyatan kaki, Sajatine yen tan emut, sayekti tan bisa awor.
Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”,Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan,Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku !Sejatinya jika tidak ingat Sungguh tak bisa “larut”
20 Pamete saka luyut, sarwa sareh saliring panganyut, lamun yitna kayitnan kang mitayani, tarlen mung pribadinipun, kang katon tinonton kono.
Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin)Tetap sabar mengikuti “alam  yang menghanyutkan”Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain hanyalah diri pribadinya yang tampak terlihat di situ
21 Nging away salah surup, kono ana sajatining Urub, yeku urup pangarep uriping Budi, sumirat sirat narawung, kadya kartika katongton.
Tetapi jangan salah mengerti Di situ ada cahaya sejati Ialah cahaya pembimbing, ersua penghidup akal budi.Bersinar lebih terang dan cemerlang,tampak bagaikan bintang
22 Yeku wenganing kalbu, kabukane kang wengku winengku, wewengkone wis kawengku neng sireki, nging sira uga kawengku, mring kang pindha kartika byor.
Yaitu membukanya pintu hati Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh).Cahaya itu sudah kau (roh)  kuasaiTapi kau (roh) juga dikuasai oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang.
23 Samengko ingsun tutur, gantya sembah ingkang kaping catur, sembah Rasa karasa rosing dumadi, dadine wis tanpa tuduh, mung kalawan kasing Batos.
Nanti ingsun ajarkan,Beralih sembah yang ke empat.Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan.Terjadinya sudah tanpa petunjuk,hanya dengan kesentosaan batin
24 Kalamun  ersua lugu, aja pisan wani ngaku-aku, antuk siku kang mangkono iku kaki, kena uga wenang muluk, kalamun wus pada melok.
Apabila belum bisa membawa diri,Jangan sekali-kali berani mengaku-aku,mendapat laknat yang demikian itu anakku !Artinya, seseorang berhak berkata apabila sudah mengetahui dengan nyata.
25 Meloke ujar iku, yen wus ilang sumelang ing kalbu,  ersu kandel kumandel ngandel mring takdir, iku den awas den emut, den memet yen arsa momot.
Menghayati pelajaran iniBila sudah hilang keragu-raguan hati.Hanya percaya dengan sungguh-sungguh kepada takdiritu harap diwaspadai, diingat,dicermati bila ingin menguasai seluruhnya.
26 Pamoring ujar iku, kudu santosa ing budi teguh, sarta sabar tawekal legaweng ati, trima lila ambeh sadu, weruh wekasing dumados.
Melaksanakan petuah ituHarus kokoh budipekertinyaTeguh serta sabartawakal lapang dada Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya Mengerti “sangkan paraning dumadi”.
27 Sabarang tindak-tanduk, tumindake lan sakadaripun, den ngaksama kasisipaning  ersua, sumimpanga ing laku dur,  ersuasiv budi kang ngrodon.
Segala tindak tandukdilakukan ala kadarnya, ersua maaf atas kesalahan  ersua,menghindari perbuatan tercela,(dan) watak angkara yang besar.
28 Dadya wruh iya dudu, yeku minangka pandaming kalbu,  ersua buka ing kijab bullah agaib, sesengkeran kang sinerung, dumunung telenging batos.
Sehingga tahu baik dan buruk,Demikian itu sebagai ketetapan hati,Yang membuka penghalang/tabir  antara  ersua dan Tuhan,Tersimpan dalam rahasia,Terletak di dalam batin.
29 Rasaning urip iku krana momor pamoring sawujud, wujuddullah sumrambah ngalam sakalir, lir manis kalawan madu, endi arane ing kono.
Rasa hidup itudengan cara manunggal dalam satu wujud,Wujud Tuhan meliputi alam semesta,bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya.
30 Endi manis endi madu, yen wis bisa nuksmeng pasang semu, pasamaoning hebing kang Maha Suci, kasikep ing tyas kacakup, kasat mata lair batos.
Mana manis mana madu,apabila sudah bisa menghayati gambaran itu,Bagaimana pengertian sabda Tuhan,Hendaklah digenggam di dalam hati, sudah jelas dipahami secara lahir dan batin.
31 Ing batin tan keliru, kedhap kilap liniling ing kalbu, kang minangka colok celaking Hyang Widi, widadaning budi sadu, pandak panduking liru nggon.
Dalam batin tak keliru,Segala cahaya indah dicermati dalam hati,Yang menjadi petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan,Selamatnya karena budi (bebuden)  yang jujur (hilang nafsu),Agar dapat merasuk beralih “tempat”.
32 Nggonira mrih tulus, kalaksitaning reh kang rinuruh, ngayanira mrih wikal, warananing gaib, paranta lamun tan weruh, sasmita jatining endhog.
Agar usahamu berhasil,Dapat menemukan apa yang dicari,upayamu agar dapat melepas penghalang kegaiban,Apabila kamu tidak paham ; lihatlah tentang bagaimana terjadinya telur.
33 Putih lan kuningpun, lamun arsa titah teka mangsul, dene nora mantra-mantra yen ing lair, bisa aliru wujud, kadadeyane ing kono.
Putih dan kuningnya,bila akan mewujud (menetas),wujud datang berganti,tak disangka-sangka,bila kelahirannyadapat berganti wujud,Kejadiannya di situ !
34 Istingarah tan metu, lawan istingarah tan lumebu, dene ing njro wekasane dadi njawi, raksana kang tuwajuh, aja kongsi kabasturon.
Dipastikan tidak keluar,juga tidak masuk,Kenyataannya yang di dalam akhirnya menjadi di luar,Rasakan sunguh-sungguh,Jangan sampai terlanjur tak bisa memahami.
35 Karana yen kebanjur, kajantaka tumekeng  ersua, tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi, dadi wong ina tan wruh, dhewekw den anggep dhayoh.
Sebab apabila sudah terlanjur,akan tak tenang sepanjang hidup, tidak ada gunanya bila kelak mati,Menjadi orang hina yang bodoh,dirinya sendiri malah dianggap tamu.

PUPUH V
K I N A N T H I
01 Mangka kantining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, wedi weryaning dumadi, supadi niring sangsaya, yeku pangreksaning urip.
Padahal bekal hidup,selamanya waspada dan ingat,Ingat akan pertanda yang adadi  ersuasi,Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.Begitulah memelihara hidup.
02 Marma den taberi kulup, angulah lantiping ati, rina wengi den anedya, pandak-panduking pambudi, bengkas kahardaning driya, supadya dadya utami.
Maka rajinlah anak-anakku,Belajar menajamkan hati,Siang malam berusaha,merasuk ke dalam sanubari,melenyapkan nafsu pribadi,Agar menjadi (manusia) utama.
03 Pangasahe sepi samun, away esah ing salami, samangsa wis kawistara, lalandhepe mingis-mingis,  ersu wukir reksa muka, kekes srabedaning budi.
Mengasahnya di alam sepi (semedi),Jangan berhenti selamanya,Apabila sudah kelihatan,tajamnya luar biasa,mampu mengiris gunung penghalang,Lenyap semua penghalang budi.
04 Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning tunggal, kang atunggil rina wengi, kang mukitan ing sakarsa, gumelar ngalam sakalir.
Persuasi artinya,tahu penghalang kehidupan,serta kekuasaan yang tunggal,yang bersatu siang malam,Yang mengabulkan segala kehendak,terhampar alam semesta.
05 Away sembrana ing kalbu, wawasen wuwus sireki, ing kono yekti karasa, dudu ucape pribadi, marma den sembadeng sedya, wewesen praptaning uwis.
Hati jangan lengah,Waspadailah kata-katamu,Di situ tentu terasa,bukan ucapan pribadi,Maka tanggungjawablah,  perhatikan semuanya sampai  tuntas.
06 Sirnakna semanging kalbu, den waspada ing pangeksi, yeku dalaning kasidan, sinuda saka satitik, pamotahing nafsu hawa, jinalantih mamrih titih.
Sirnakan keraguan hati,waspadalah terhadap pandanganmu,Itulah caranya berhasil,Kurangilah sedikit demi sedikit godaan hawa nafsu,Latihlah agar terlatih.
07 Away mamatuh malutuh, tanpa tuwas tanpa kasil, kasalibuk ing srabeda, marma dipun ngati-ati, urip keh rencananira, sambekala den kaliling.
Jangan terbiasa berbuat aib,Tiada guna tiada hasil,terjerat oleh aral,Maka berhati-hatilah,Hidup ini banyak rintangan,Godaan harus dicermati.
08 Upamane wong lumaku, marga gawat den liwati, lamun kurang ing pangarah, sayekti karendet ing ri, apese kasandhung padhas, babak bundhas anemahi.
Seumpama orang berjalan,Jalan berbahaya dilalui,Apabila kurang perhitungan,Tentulah tertusuk duri,celakanya terantuk batu,Akhirnya penuh luka.
09 Lumrah bae yen kadyeku, atetamba yen wis bucik, duwea kawruh sabodag, yen ta nartani ing kapti, dadi kawruhe kinarya, ngupaya kasil lan melik.
Lumrahnya jika seperti itu,Berobat setelah terluka,Biarpun punya ilmu segudang,bila tak sesuai tujuannya,ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih.
10 Meloke yen arsa muluk, muluk ujare lir wali, wola-wali nora nyata, anggepe pandhita luwih, kaluwihane tan ana, kabeh tandha-tandha sepi.
Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk,Muluk-muluk bicaranya seperti wali,Berkali-kali tak terbukti,merasa diri pandita istimewa,Kelebihannya tak ada,Semua bukti sepi.
11 Kawruhe mung ana wuwus, wuwuse gumaib baib, kasliring titik tan kena, mancereng alise gatik, apa pandhita antige, kang mangkono iku kaki.
Ilmunya sebatas mulut,Kata-katanya di gaib-gaibkan,Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,Apakah yang seperti itu  pandita palsu,..anakku ?
12 Mangka ta  ersuasiv laku, lakune ngelmu sajati, tan dahwen pati openan, tan panasten nora jail, tan njurungi ing kaardan,  ersu eneng mamrih ening.
Padahal yang disebut “laku”,sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak suka memanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,Tidak iri hati dan jail,Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa.
13 Kunanging budi luhung, bangkit ajur ajer kaki, yen mangkono bakal cikal, thukul wijining utami, nadyan bener kawruhira, yen ana kang nyulayani.
Luhurnya budipekerti,pandai beradaptasi, anakku !Demikian itulah awal mula,tumbuhnya benih keutamaan,Walaupun benar ilmumu,bila ada yang mempersoalkan..
14 Tur kang nyulayani iku, wus wruh yen kawruhe nempil, nanging laire angalah, katingala angemori, mung ngenaki tyasing liyan, away esak away serik.
Walau orang yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal,tetapi secara lahir kita mengalah,berkesanlah  ersuasive,sekedar menggembirakan hati orang lain.Jangan sakit hati dan dendam.
15 Yeku ilapating wahyu, yen yuwana ing salami, marga wimbuh ing nugraha, saking heb kang Maha Suci, cinancang pucuking cipta, nora ucul-ucul kaki.
Begitulah sarat turunnya wahyu,Bila teguh selamanya,dapat bertambah anugrahnya,dari sabda Tuhan Mahasuci,terikat di ujung cipta,tiada terlepas-lepas anakku
16 Mangkono ingkang tinamtu, tampa nugrahaning Widhi, marma ta kulup den bisa, mbusuki ujaring janmi, pakoleh lair batinnya, iyeku budi premati.
Begitulah yang digariskan,Untuk mendapat anugrah Tuhan.Maka dari itu anakku,sebisanya, kalian pura-pura menjadi orang bodoh terhadap perkataan orang lain,nyaman lahir batinnya,yakni budi yang baik.
17 Pantes tinulad tinurut, laladane mrih utami, utama kembanging mulya, kamulyaning jiwa dhiri, ora yen ta ngeplekana, lir leluhur nguni-uni.
Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,Wahana agar hidup mulia,kemuliaan jiwa raga.Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.
18 Ananging ta kudu-kudu, sakadarira pribadi, away tinggal tutuladan, lamun tan mangkono kaki, yekti tuna ing tumitah, poma kaestokna kaki.
Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,Jangan melupakan suri tauladan,Bila tak berbuat demikian itu anakku,pasti merugi sebagai manusia.Maka lakukanlah anakku !

1. Ajaran Dalam Setiap Pupuh
a. Pupuh Pangkur
Pupuh pangkur pada serat wedhatama merupakan suatu prolog sebelum masuk ke permasalahan yang utama. KGPAA Mangkunegara IV yang merupakan pengarang dari serat ini mengajarkan dalam mendidik anak cucu menerangkan adanya perbedaan yang mendasar antara orang yang mempunyai watak dan budi pekerti yang luhur dan orang yang sombong lagi bodoh dari segi cirri-cirinya. Adapun ajaran-ajaran yang tertuang dalam pupuh pertama serat wedhatama ialah
1.    Agama adalah pegangan hidup yang berharga “agama ageming aji “
2.    Janganlah menjadi orang yang mempunyai budi yang lemah, jika begitu kalaupun sudah tua pasti bagaikan orang yang tidak berharga.
3.    Perilaku orang yang bodoh dan sombong yaitu bualannya tidak karuan dan tidak ada hikmahnya.
4.    Orang yang pintar dan berbudi luhur hanya diam menanggapi orang yang bodoh tersebut dengan hanya diam dan menjaga perasaan hati orang bodoh tersebut. Orang pintar menerima dengan senang hati jika dianggap bodoh dan tetap gembira jika dihina.
5.    Keburukan tentang ilmu karang atau ilmu sihir, ilmu tersebut tidak  berguna dalam ketenangan jiwa.
6.    Anjuran untuk mencari kebaikan , berguru kepada orang yang berjiwa pertapa, yang telah memahami wahyu Allah dan yang sudah tidak dikendalikan lagi oleh hawa dan nafsu.
b. Pupuh Sinom
Setelah dijelaskan sebagai pengantar dalam pupuh pangkur, pupuh kedua dalam serat wedhatama menggambarkan kiat-kiat untuk menggapai ilmu yang sejati, yaitu kiat untuk ngelmu dalam ajaran jawa. Karena untuk menyeimbangkan antara lahir dan batin, menyelaraskan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Mangkunegara IV menuliskan ajaran-ajaran dalam pupuh kedua ini setelah memahami hakikat pada pupuh pertama.
1.    Supaya meniru perilaku yang baik yang dicontohkan oleh Panembahan Senapati dengan menekan hawa nafsu, berusaha menyenangkan hati orang lain dan laku prihatin. Kesemuanya itu mempunyai tujuan agar memperoleh kehalusan budi.
2.    Ajaran agar orang hidup dapat mencapai 3 hal, yakni pangkat, harta dan kepintaran.
3.    Dalam memahami hakikat hidup pribadinya sendiri, dapat dilakukan dengan bersemedi dan bertapa, menjauh dari keramaian guna untuk menyepikan diri.
c. Pocung
Pupuh pocung dalam serat wedhatama merupakan pupuh yang ketiga. Pupuh ini menggambarkan ketika seseorang yang sudah mengetahui tentang baik buruk, dan telah melaksanakan tugas untuk mencari ilmu maka pupuh ini bercerita tentang amalan- amalan tentang ilmu yang sudah diperolehnya itu.
1.    Ilmu itu akan dapat tercapai apabila nilai-nilainya diamalkan, karena budi yang baik itu dapat mengalahkan nafsu angkara murka.
2.    Pandangan bahwa ilmu itu harus sejalan dengan logika dan untuk mencapainya diperlukan laku yang cukup serius.
3.    Ajaran tentang tiga hal yang perlu dijadikan pegangan yaitu rela jika kehilangan sesuatu, menerima dengan sabar jika mendapatkan perlakuan yang menyakitkan hati dan ikhlas menyerahkan diri hanya kepada Tuhan.
4.    Untuk tidak melakukan sifat-sifat keangkaraan seperti mencaci maki tanpa isi, kesalahan sendiri ditutupi dan kemarahannya dilampiaskan untuk memukul orang lain.

d. Pupuh Gambuh
Pupuh gambuh dalam serat wedhatama mengajarkan tentang sembah- sembah menurut KGPAA Mangkunegara IV. Setelah tadi prjalanan dari pengantar ilmu yang sejati, dilanjutkan dalam perjalanan mencari guru lalu menjalani laku yang utama demi mengamalkan ilmu tersebut, sekarang sampai kepada hakikat ngelmu. Penjelasannya sebagai berikut :
1.    Ajaran tentang empat macam sembah ( sembah catur), yaitu sembah raga, cipta jiwa dan rasa.
2.    Sembah raga dianggap sebagai tahapan untuk memulai perjalanan. Di dalam Islam sembah tersebut berada dalam tahap/ tingkatan Syariat.
3.    Ajaran sembah kalbu (cipta) yang jika dilakukan secara rutin akan menjadi ritual laku, manfaatnya yaitu dapat mengendalikan hawa dan nafsu.
4.    Ajaran sembah sukma, yaitu sembah yang dilakukan setiap saat dan merupakan ritual perjalanan terakhir.
5.    Ajaran sembah rasa, yang dengan sembah ini akan memahami hakikat kehidupan.
6.    Orang harus senantiasa sentosa dan berbudi teguh, harus sabar, tawakal, ikhlas, dan nerima semua keadaannya.
e. Kinanthi
Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi. Pupuh kinanthi dalam serat wedhatama mengandung isi ajaran-ajaran tentang
1.    Mempertajam perasaan / kepekaan perasaan agar menyingkirkan hawa nafsu supaya menjadi manusia yang berbudi luhur dengan cara bersemedi / bersepi-sepi dari keramaian agar mendapat ketenangan hati dan jiwa.
2.    Agar selalu waspada untuk selalu mengetahui penghalang dalam hidup ( mawas diri) dan selalu menghilangkan keragu-raguan dalam hati supaya mantap dalam melangkah untuk berbuat kebaikan.
3.    Menghilangkan iri dengki, tidak berhati panas, tidak mengganggu orang lain, dan tidak melampiaskan hawa nafsu, namun hanya lah diam agar tenang.
4.    Ajaran bahwa mengikuti kebaikan-kebaikan yang telah diajarkan sebagai langkah agar mencapai kemuliaan.

2. Makna Tembang
•    Pangkur
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada  tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna.  Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa.  Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang.
•    Sinom
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.
•    Pocung
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.

•    Gambuh
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti.  Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada  yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.
•    Kinanthi
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.
3. Kaitan Antar Pupuh
Dalam penulisan karya sastra pasti ada maksud tertentu dibalik penulisannya itu. Serat wedhatama yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV juga mempunyai maksud tertentu dibalik pemilihan tembang yang dipakai tersebut. Pemilihan tembang macapat yang oleh Mangkunegara IV sendiri dipilih mulai dari Pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh, dan Kinanthi mengandung makna yang tersembunyi selain makna tembang macapat itu sendiri. Makna tembang macapat yang digunakan oleh MN IV sudah diuraikan diatas. Dalam pupuh pertama dipilih tembang pangkur. Pupuh pangkur tersebut bermakna sebagai prolog dan menceritakan cirri orang yang mempunyai sifat yang luhur dan orang yang mempunyai sifat yang bodoh lagi sombong. Pupuh yang kedua yaitu sinom, pupuh sinom dalam serat wedhatama mempunyai makna jika seseorang sudah mengetahui permasalahannya itu diharapkan dapat mencari ilmu dengan berguru pada orang yang lebih tahu akan ilmu tersebut. Selanjutnya dalam pupuh yang berkaitan, jika sudah mantab dengan ilmunya maka orang tersebut dapat mengamalkannya. Lalu pada pupuh selanjutnya diharapkan dapat mempelajari hakikat ilmu yang dimaksud dalam serat wedhatama tersebut.
Serat wedhatama yang di tulis oleh MN IV jika dikaitkan dengan ilmu tasawuf, maka akan mempunyai arti perjalanan mistik yang dimulai dari syari’at yaitu menjalankan ajaran- ajaran yang dilakukan secara tekun terus menerus. Apabila syari’at sudah terlaksana dengan baik maka akan berlanjut pada tingkat tarekat yaitu menjalankan apa yang sudah didapat dari tarekat. Selanjutnya pada tingkatan selanjutnya dapat mencapai hakikat yaitu memahami seluruhnya maksud dan makna dari apa yang didapat dari ilmu itu dan mengamalkannya dengan laku. Lalu pada tingkatan terakhir setelah semua tingkatan sebelumnya dapat dilakukan dengan baik maka akan mencapai tingkatan tertinggi tasawuf yaitu tingkatan ma’rifat. Tingkatan ma’rifat dalam ajaran jawa umumnya disebut dengan Manunggaling Kawula Gusti atau Pamoring Kawula Gusti yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan melalui jiwa dan rasanya.
Apabila pupuh diatas dikaitkan dengan empat macam sembah atau yang biasanya disebut dengan “sembah catur” maka akan didapati yaitu sembah raga, cipta, jiwa dan rasa. Sembah raga dianggap sebagai akan memulai sebuah perjalanan. Sembah cipta jika dilakukan terus menerus akan menjadi ritual laku dengan mengendalikan hawa nafsu. Lalu sembah jiwa yaitu sembah yang dilakukan setiap saat dan merupakan perjalanan ritual terakhir dan yang tertinggi adalah sembah rasa yaitu akan mampu memahami hakikat dari kehidupan, tercapainya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin.
Serat wedhatama merupakan jenis serat piwulang yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV. Dalam serat wedhatama terdapat ajaran-ajaran (piwulang) yang luhur dari para leluhur orang Jawa. Dan apabila dilaksanakan maka akan mendapat ketenangan hati dan jiwa dan dapat memahami arti dari kehidupan menurut pandangan dari orang jawa.

Cerita Dalam Kitab Adiparwa :
Pandawa mendapatkan Dropadi

                  Dalam kitab Mahabharata versi India dan dalam tradisi pewayangan di Bali, Dewi Dropadi bersuamikan lima orang, yaitu Panca Pandawa. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa mengunjungi Kerajaan Panchala dan mengikuti sayembara di sana. Sayembara tersebut diikuti oleh para kesatria terkemuka di seluruh penjuru daratan Bharatawarsha (India Kuno), seperti misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatria, melainkan menyamar sebagai brahmana. Di tengah-tengah arena ditempatkan sebuah sasaran yang harus dipanah dengan tepat oleh para peserta dan yang berhasil melakukannya akan menjadi istri Dewi Dropadi.
Para peserta pun mencoba untuk memanah sasaran di arena, namun satu per satu gagal. Karna berhasil melakukannya, namun Dropadi menolaknya dengan alasan bahwa ia tidak mau menikah dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan perasaannya sangat kesal. Setelah Karna ditolak, Arjuna tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan persyaratan, maka Dewi Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun para peserta lainnya menggerutu karena seorang brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya diikuti oleh golongan kesatria. Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat dihindari lagi. Arjuna dan Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan Yudistira, Nakula, dan Sadewa pulang menjaga Dewi Kunti, ibu mereka. Kresna yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para brahmana yang telah mendapatkan Dropadi dan ia berkata kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut mendapatkan Dropadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik.
Setelah keributan usai, Arjuna dan Bima pulang ke rumahnya dengan membawa serta Dewi Dropadi. Sesampainya di rumah didapatinya ibu mereka sedang tidur berselimut sambil memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang bertarung di arena sayembara. Arjuna dan Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hasil meminta-minta. Dewi Kunti menyuruh agar mereka membagi rata apa yang mereka peroleh. Namun Dewi Kunti terkejut ketika tahu bahwa putera-puteranya tidak hanya membawa hasil meminta-minta saja, namun juga seorang wanita. Dewi Kunti tidak mau berdusta maka Dropadi pun menjadi istri Panca Pandawa.

Pada versi jawa:
Kisah drupadi diawali dari “Sayembara Gandamana”, patih kerajaan Pancala itu buat tantangan siapa yang bisa mengalahkan dia berhak mempersunting putri rajanya. Yang memenangkan sayembara itu adalah Bima (sebenarnya Gandamana unggul, tetapi ketika ia berhasil melumpuhkan Bima, panegak pandawa itu nangis dan menyebut nama ayahnya: Pandu Dewanata, sehingga gandamana trenyuh teringat pada mantan Rajanya itu dan akhirnya justru mewariskan aji bandung bandawasa). Tetapi karena Bima ikut sayembara bukan untuk dirinya tetapi untuk Puntadewa, akhirnya ia menjadi istri bagi Puntadewa saja. Dari Puntadewa ini, drupadi mempunyai anak raden Pancawala. Perubahan cerita ini karena Poliandri (seorang wanita bersuamikan lebih dari satu suami) itu dilarang dalam hukum Islam.
Dalam budaya pewayangan Jawa, khususnya setelah mendapat pengaruh Islam, Dewi Dropadi diceritakan agak berbeda dengan kisah dalam kitab Mahabharata versi aslinya. Dalam cerita pewayangan, Dewi Dropadi dinikahi oleh Yudistira saja dan bukan milik kelima Pandawa. Cerita tersebut dapat disimak dalam lakon Sayembara Gandamana. Dalam lakon tersebut dikisahkan, Yudistira mengikuti sayembara mengalahkan Gandamana yang diselenggarakan Raja Dropada. Siapa yang berhasil memenangkan sayembara, berhak memiliki Dropadi. Yudistira ikut serta namun ia tidak terjun ke arena sendirian melainkan diwakili oleh Bima. Bima berhasil mengalahkan Gandamana dan akhirnya Dropadi berhasil didapatkan. Karena Bima mewakili Yudistira, maka Yudistiralah yang menjadi suami Dropadi. Dalam tradisi pewayangan Jawa, putera Dropadi dengan Yudistira bernama Raden Pancawala. Pancawala sendiri merupakan sebutan untuk lima putera Pandawa.
Terjadinya perbedaan cerita antara kitab Mahabharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Setelah kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu runtuh, munculah Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Pada masa itu, segala sesuatu harus disesuaikan dengan hukum agama Islam. Pertunjukan wayang yang pada saat itu sangat digemari oleh masyarakat, tidak diberantas ataupun dilarang melainkan disesuaikan dengan ajaran Islam. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab Mahabharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam

B. Perbandingan
Kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi, banyak digubah menjadi cerita pewayangan. Dalam kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta mungkin terdapat perbedaan dengan lakon pewayangannya, yang kadang-kadang besar sekali, sehingga memberi kesan bahwa segala sesuatunya terjadi di Jawa. Hal ini disebabkan oleh kecerdasan para pujangga masa lampau yang mampu memindah alam pikiran para pembaca atau pendengarnya dari suasana India menjadi Jawa Asli. Jika Hastinapura sebenarnya terdapat di India, maka nama-nama seperti Jonggringsalaka, Pringgandani, Indrakila, Gua Kiskenda, sampai Gunung Mahameru dibawa ke tanah Jawa.
Begitu pula dengan tokoh Pancawala (Pancakumara). Jika dalam versi aslinya mereka terdiri dari lima orang, maka dalam pewayangan mereka dikatakan hanya satu orang saja. Terjadinya perbedaan cerita tentang Pancawala antara kitab Mahabharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Hal serupa juga terjadi pada kisah Dewi Dropadi dalam kitab Adiparwa. Jika dalam Adiparwa ia bersuami lima orang, maka dalam pewayangan Jawa (yang sudah terkena pengaruh Islam) Dropadi hanya bersuami satu orang saja. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab Mahabharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam. Pancawala yang sebenarnya merupakan lima putera Pandawa pun diubah menjadi seorang tokoh yang merupakan putera Yudistira saja.

Tuku iki weh mbak…

 

Sore itu Jono perjalanan naik kreta Prameks dari Jogja menuju Solo. Dia meletakkan seluruh Tasnya di bagasi atas dan hanya menyangklong tas kecil yang biasanya berisi dompet. Setengah perjalanan, Jono menelpon adiknya yang bernama Paijo guna untuk menjemputnya di stasiun nanti. “Halloo, halllooo,… Jo Paijo ??”. “Iyo mas apa??? Sahut Paijo. ” KOwe neng omah ra? Ngko aku jemputen ng stasiun Balapan yo? Ki lg tekan Klaten. ” . “Oke mas, yo mengko nek wes meh tekan sms”. Lalu Kereta it tibalah di Solo balapan, dan si Jono nge sms Paijo. “Jo aku wes tekan Balapan, jemput saiki yo”. Tak lama kemudian ” Druuun druuuun druuuun” suara mtor Paijo tiba d stasiun. Jono bergegas naik motor dgn nyangklong tas kecil dan tas sedang kesayangannya ” Jo, mampir supermaket sik yo, meh blanja”, “oke boss” sahut Paijo.

Mampirlah mereka ke supermarket langganannya, dan mengambiL seluruh barang belanjaan yang di butuhkan Jono trmasuk sabun mandi, shampoo, handuk dan lain-lain. Setelah merasa cukup, Jono nyangking kranjang blanjaan dan menuju ke kasir. Setibanya di kasir, Jono langsung meletakkan barang belanjaannya ke meja hitung . Dengan cepat pegawai kasirnya sedang menghitung total belanjaannya seketika itu juga dia teringat akan dompet yg ditaruhnya di tas yg besar yg diletakkannya di bagasi atas . Batinnya berkata ” waduuuh… Sontoloyo cilakanane iki aku mbayar mbi apa??? Dompetku ketinggalan neng sepur”. Apes jan apes tenan dia panik dan hanya bisa clingak-clinguk kebingungan. Jono merogoh saku celananya dan mendapati ada serecehan koin dolar Indonesia. Tanpa mengurangi rasa hormat bilang kepada mbak2nya kasir “hehehe… aaaaanuu mbak, saya beli permen aja deh, yg ituuu” katanya sambil menahan malunya. Setelah keluar supermarket Paijo cuma bisa cekikikan mendengar ceritanya si Jono “owalah mas Jono- mas jono, kowe I jan ngisin-ngisini tenan…wakakaka” sambil pegang perutnya yg mulai mulas karena tak berhenti tertawa.

SALAH KAMAR

SALAH KAMAR

Cerita ini dimulai saat pemuda yang bernama Jono sedang hangat2 nya menjadi temanten anyar. Dia sangatlah mesra kepada istrinya yang bernama Endang, hanya kepadanyalah cintanya berlabuh dan hanya kepada Endang lah Jono dimabuk asmara. Sebagai pasangan suami istri yang terhitung masih baru, yaa sekitar seminggu lah mereka menikah, mngkin perhatian antar keduanya masih kental. Jono selalu mengingatkan agar Endang supaya tidak telat makan, beribadah dan hal yang lainnya. Pada suatu hari mereka ingin pergi bertamasya berdua, tepatnya ingin merasakan bermain air d Pandawa water world Solo baru… Sbelum berangkat pastilah Jono menyempatkan untuk bersarapan ria yang pastinya telah disiapkan oleh istrinya itu. Sambel korek, lawuh ikan patin dan sayurnya-sayur orak- arik. Tak lupa minumnya yaitu minum kopi susu kesukaan Jono.

Setelah sarapan dan mengecek semua barang bawaan, mereka lalu berangkat ke tempat wisata itu dengan menggunakan mobil Esemka yang lagi ngetrend belakangan ini. Ditengah perjalanan perut Jono terasa mak “Kruuueeesss kruuueeesss drrrruuuuutt” bgtu bunyinya… ” Lhoo ngpo to mas? Kok pucet kemringet?” …”Aaaanu deek En, wetengku mules”… ” Oowwh yawes, kita berhenti d pom bensin sik wae mas” imbuh Endang. Setibanya d Pom bensin sambil ngampet perutnya yang sakit itu, Jono langsung trburu- buru untuk menuju ke WC umum.. Tanpa pikir panjang diapun langsung masuk ke WC yang kelihatannya kosong…” Jreeek” suara pintu WC yang di tutup Jono…” Maaakk suuuuurrrr, breeeeeesssss” stelahlama d dalam WC, akhirnya dengan wajah tersenyum dan Lega Jono keluar dari WC “haaahhh, fiiiuuuwwwh legaaaaa” gumamnya sambil senyum. Kemudian ada mbak-mbak yang menyapa Jono, ” Luh mas, Itu kan WC buat wanita mas, masnya gak bisa liat ya?”. Jono kaget dan melihat ke gambar WC nya. Karena Jono orangnya Cerdas dan tidak kehilangan akal karena malu, maklumlah lulusan D3 dan mendapat gelar A,md (akhire mumet dhewe) Jono menjawab ” Loh mbak, apanya yang salah mbak? Ini juga khusus buat Wanita Loh mbak!” Jawab jon koplo sambil jarinya menunjuk kearah bawah. “@“%“»}#±%»??!!!!!!!!” Lalu Mbak- mbaknya hanya diam dan tertegun keheranan.

Pengertian Semantik

Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘sema’ (kata benda) yang berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau ‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique).

Menurut Ferdinan de Saussure (1966), tanda lingustik terdiri dari : 1) Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa. 2) Komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama.

Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent / acuan / hal yang ditunjuk.

Jadi, Ilmu Semantik adalah :

Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang

ditandainya.

Ilmu tentang makna atau arti.

A. Batasan Ilmu Semantik

Istilah Semantik lebih umum digunakan dalam studi ingustik daripada istilah untuk ilmu makna lainnya,seperti Semiotika, semiologi, semasiologi,sememik, dansemik. Ini dikarenakan istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang cukup luas,yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda lalulintas, morse, tanda matematika, dan juga tanda-tanda yang lain sedangkan batasan cakupan dari semantik adalah makna atau

arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal.

B. Hubungan Semantik dengan Tataran Ilmu Sosial lain

Berlainan dengan tataran analisis bahasa lain, semantik adalah cabang imu linguistik yang memiliki hubungan dengan Imu Sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Bahkan juga dengan filsafat dan psikologi.

1

1. Semantik dan Sosiologi

Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat menandai identitas kelompok penuturnya.

Contohnya :

Penggunaan / pemilihan kata ‘cewek’ atau ‘wanita’, akan dapat menunjukkan

identitas kelompok penuturnya.

Kata ‘cewek’ identik dengan kelompok anak muda, sedangkan kata ‘wanita’ terkesan lebih sopan, dan identik dengan kelompok orang tua yang mengedepankan kesopanan.

2. Semantik dan Antropologi.

Semantik dianggap berkepentingan dengan antropologi dikarenakan analisis makna pada sebuah bahasa, menalui pilihan kata yang dipakai penuturnya, akan dapat menjanjikan klasifikasi praktis tentang kehidupan budaya penuturnya.

Contohnya :

Penggunaan / pemilihan kata ‘ngelih’ atau ‘lesu’ yang sama-sama berarti ‘lapar’ dapat

mencerminkan budaya penuturnya.
Karena kata ‘ngelih’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat Jogjakarta.
Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat daerah Jombang.

C. Analisis Semantik

Dalam analisis semantik, bahasa bersifat unik dan memiliki hubungan yang erat dengan budaya masyarakat penuturnya. Maka, suatu hasil analisis pada suatu bahasa, tidak dapat digunakan untuk menganalisi bahasa lain.

Contohnya penutur bahasa Inggris yang menggunakan kata ‘rice’ pada bahasa Inggris

yang mewakili nasi, beras, gabah dan padi.

Kata ‘rice’ akan memiliki makna yang berbeda dalam masing-masing konteks yang

berbeda. Dapat bermakna nasi, beras, gabah, atau padi.

bahasa Inggris hanya mengenal ‘rice’ untuk menyebut nasi, beras, gabah, dan padi. Itu dikarenakan mereka tidak memiliki budaya mengolah padi, gabah, beras dan nasi, seperti bangsa Indonesia.

Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah adanya kenyataan bahwa tidak selalu penanda dan referent-nya memiliki hubungan satu lawan satu. Yang artinya, setiap tanda lingustik tidak selalu hanya memiliki satu makna.

Adakalanya, satu tanda lingustik memiliki dua acuan atau lebih. Dan sebaliknya, dua

             tanda lingustik, dapat memiliki satu acuan yang sama.
Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan contoh-contoh berikut :
Bisa

‘racun’

‘dapat’

buku

‘lembar kertas berjilid’

kitab

Pengenalan

 

  1. Kata merupakan unit ujaran yang bebas dan mempunyai makna.
  2. Dalam bahasa, kata dapat mengungkapkan fikiran, perasaan, pendapat, emosi, perlakuan dan keperibadian manusia.
  3. Perbendaharaan kata penting untuk menjalin komunikasi yang sempurna. Semakin banyak kata dikuasai oleh seseorang, semakin banyak idea atau gagasan yang mampu diungkapkannya.

Makna Kata

 

  1. Dalam kajian bahasa, bidang yang mengkaji dan menganalisis makna kata dalam ayat dikenal sebagai semantik.
  2. Kajian tentang makna kata boleh dibahagikan kepada aspek-aspek yang berikut :

(a)  makna denotasi dan makna konotasi

(b) makna dalam konteks

(c)  hubungan makna dengan kebudayaan

(d)  perubahan makna

(e)  bentuk-bentuk makna daripada hubungan semantik

  1. Makna denotasi ialah makna kata yang tersurat.

Contoh : ibu ayam : ayam betina yang mempunyai anak

Kaki ayam : kaki pada ayam.

  1. Istilah lain untuk makna denotasi ialah makna kamus, dan makna rujukan.
  2. Makna konotasi ialah makna tambahan atau makna tersirat kepada makna denotasi.

Contoh : ibu ayam : orang yang kerjanya mencari pelanggan untuk pelacur-pelacur.

Kaki ayam : kaki yang tidak berkasut.

  1. Makna konotasi juga disebut makna emotif atau makna evaluatif.
  2. Terdapat kata-kata seerti (sinonim) yang mempunyai makna denotasi yang sama tetapi makna konotasi yang berbeza.

Contoh : Kata mati dan meninggal dunia membawa maksud denotasi perstiwa jiwa seseorang meninggal jasadnya tetapi dari segi makna konotasi, penggunaan perkataan meninggal dunia adalah lebih sopan daripada penggunaan perkataan mati.

Makna Dalam Konteks

 

Makna sesuatu perkataan yang diujarkan boleh diketahui dengan melihat konteks penggunaan perkataan itu.

Contoh : Tapak kasut sudah haus. (haus bermakna berkurangan tebalnya kerana banyak dipakai)

Saya berasa haus kerana cuaca panas. (haus bermaksud berasa kering tekak atau dahaga).

Kanak-kanak itu haus akan kasih sayang ibunya (haus bermaksud sangat ingin kepada).

Hubungan Makna dengan Kebudayaan

 

Penggunaan dan pemilihan perkataan juga berhubung dengan kebudayaan sesuatu masyarakat.

Contoh : aku : digunakan dalam hubungan yang rapat untuk menimbulkan kemesraan.

Saya : digunakan dalam hubungan biasa.

Patik : digunakan oleh orang biasa untuk merendah diri apabila berhubung dengan golongan raja.

Beta : khas untuk raja merujuk dirinya.

Perubahan Makna

 

Makna sesuatu perkataan itu akan berubah mengikut perubahan masa, teknologi dan hubungan sosial dalam masyarakat.

Contoh : menternak (makna lama : memelihara binatang darat)

(makna baru: termasuk memelihara hidupan air seperti ikan dan

udang)

taman (makna lama : tempat indah dengan tumbuhan bunga)

(makna baru : termasuk kawasan perumahan dan perindustrian)

rawat (makna lama : menjaga orang sakit)

(makna baru : termasuk memulihkan pokok sakit, barang-barang lama,

barang rosak, air kumbahan)

menyeberang (makna lama : dulu hanya untuk menyeberang sungai)

(makna baru : termasuk menyeberang jalan, dll)

belayar ( makna lama : pada masa dahulu semua kapal menggunakan layar)

(makna baru : tidak ada layar pun disebut belayar)

khalwat (makna lama : menyendiri dalam masjid/tempat suci untuk beribadat

kepada Allah)

(makna baru : berdua-duaan antara lelaki dan perempuan yang

bukan muhrim di tempat sunyi untuk tujuan maksiat).

Tuan (makna lama : untuk lelaki dan perempuan. Contoh Tuan kadi dan

Tuan puteri)

(makna baru : lelaki sahaja)

Bentuk-Bentuk Makna daripada Hubungan Semantik

  1. Bentuk-bentuk makna yang timbul daripada hubungan semantik ialah sinonim, antonim, hiponim, meronim, polisim, homonim, homofon, dan homograf.
  2. Sinonim merupakan kata yang mempunyai makna yang sama atau hampir sama.

Contoh : cantik=indah

Hangat = panas

Percaya = yakin

  1. Antonim merujuk kepada perkataan-perkataan yang mempunyai makna yang berlawanan.

Contoh : langit lawannya bumi

Panas lawannya sejuk

Kuat lawannya lemah

  1. Hiponim ialah kata yang mempunyai lingkungan dalam strukturmakna.

Contoh : perabot (mempunyai makna umum)

Kerusi, meja, almari, katil, sofa (mempunyai makna khusus)

Jadi kata perabot merupakan kata hiponim yang melingkungi benda-benda seperti kerusi, meja, almari, katil dan sofa.

  1. Meronim ialah perkataan-perkataan yang menunjukkan hubungan sebahagian daripada.

Contoh : atap, dinding, lantai, tingkap, dapur ialah sebahagian daripada rumah dan oleh itu perkataan tersebut menjadi meronim kepada rumah.

  1. Polisim ialah satu perkataan yang mempunyai makna yang banyak atau satu set makna.

Contoh : kata mentah mempunyai set makna yang berikut :

Masih muda (untuk buah-buahan)

Tidak masak (masakan)

Belum masak (makanan)

Belum diproses (bahan galian dan lain-lain)

Belum sempurna akal atau fikiran atau belum matang (untuk orang)

  1. Homonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki bentuk yang sama, sama ada dari segi sebutan, ejaan, atau kedua-duanya tetapi mempunyai makna yang berbeza.

Contoh : daki : kotoran yang melekat pada badan

Daki : memanjat (gunung, bukit)

  1. Homonim terbahagi kepada tiga jenis iaitu :

Homofon : kata-kata yang sama sebutannya tetapi berbeza dari segi ejaan dan makna. Contoh : masa dan (media) massa.

Homograf : kata-kata yang sama ejaannya dan mempunyai sebutan yang berbeza. Contoh : semak (belukar), semak (meneliti dan memeriksa semula)

Perang (war), perang (warna blonde)

Hukum D-M

 

Hukum D-M ialah hukum atau peraturan menyusun kata nama majmuk dan ayat dengan mendahulukan unsur yang diterangkan (D) dan mengemudiankan unsur yang menerangkan (M).

Contoh :

dalam lain perkataan (in other words)

lain-lain perkara (other matters)

Tan Gigi Klinik (Tan Dental Clinic)

percuma tawaran (free offer)

Mubarak restoran (Mubarak Restaurant)

Dunlop tayar (Dunlop tyre)

Goreng pisang

Aminah Gedung Fesyen

Kedai Jahit Wanita

Cili Sos

Maggi mi

Dua Minit Mi

Syarikat Muthu Perabot

Delima Hotel

Ban Cheong Kedai Buah-buahan

 

Susunan yang betul ialah :

Dengan kata-kata lain

Perkara-perkara lain

Klinik Gigi Tan

Tawaran percuma

Restoran Mubarak

Tayar Dunlop

Pisang Goreng

Gedung Fesyen Aminah

Kedai Menjahit Pakaian Wanita

Sos Cili

Mi Maggi

Mi Dua Minit

Syarikat Perabot Muthu

Hotel Delima

Kedai Buah-buahan Ban Cheong

Penggunaan Kata dan Frasa

 

Kata Sendi “di”

 

-          digunakan di hadapan KN dan FN untuk memenuhi pelbagai fungsi tertentu.

  1. Tempat yang tetap.

… di sekolah itu.

… di pangkal ayat.

… di kota besar.

  1. Lingkungan yang mujarad (abstrak) melalui kiasan dengan maksud tempat.

… di matanya.

… di hatinya.

  1. Arah tempat atau ruang maujud (konkrit).

… di dalam tabung.

… di luar negara.

Kata Sendi “pada”

 

  1. Untuk menyatakan masa.

Pada zaman itu …

Pada hari ini …

  1. Tempat bagi perbuatan Kata Kerja yang berupa benda, orang atau binatang.

Pada kakinya …

Pada tanah air ….

Pada sudut 45 darjah ….

  1. Digunakan dalam lingkungan mujarad (abstrak) melalui kiasan.

Pada ingatannya …

Pada pendapatnya …

Pada fikirannya …

Pada pandangannya …

Kata Sendi ‘ke”

 

  1. Tempat atau arah tuju yang bukan manusia atau haiwan tetapi benda konkrit tak bernyawa.

… ke tempat lain.

… ke dalam sungai.

… ke tengah hutan.

  1. Menunjukkan masa atau batas masa.

… ke petang.

… ke zaman.

dari masa ke masa atau dari semasa ke semasa.

  1. Lingkungan mujarad (abstrak) melalui kiasan dengan makna tepat.

… ke alam khayalan.

… ke tahap serius.

Kata Sendi ‘kepada”

 

  1. Arah tuju dengan manusia, haiwan, institusi atau unsur mujarad yang mewakili manusia sebagai sasarannya.

….kepada bapanya.

….kepada mahasiswa itu.

… kepada pihak fakulti.

… kepada angin lalu.

  1. Arah perubahan antara dua benda atau perkara.

… kepada lebih 20 juta.

… kepada campuran.

  1. Pemecahan sesuatu kepada bahagian-bahagian tertentu.

… kepada dua belas bab.

… kepada lima kumpulan.

… kepada sesi pagi.

Penggunaan Kata Tertentu

 

Penggunaan kata ganti nama “ia” dan “ianya”

Ia – ialah kata ganti nama diri ke-tiga untuk manusia sahaja. Tidak boleh digunakan untuk benda, konsep dan sebagainya.

Mesti dan Pasti

Mesti : kata bantu yang hadir sebelum KK dengan maksud wajib/patut dilakukan.

Contoh : Pelajar-pelajar mesti menghadiri ceramah.

Pelajar-pelajar mesti lulus mata pelajaran bahasa Malaysia.

Pasti : kata adjektif yang bermaksud tentu, tidak salah lagi, tidak boleh tidak.

Memperhatikan dan memerhatikan

Memperhatikan   – daripada kata dasar “hati”.

- menerima apitan memper……kan.

- oleh itu wujud memperhatikan yang bermaksud memandang, melihat dengan cermat.

Contoh : Guru memperhatikan tingkah laku pelajarnya.

Memerhatikan – sepatutnya wujud daripada kata dasar “perhati”. Oleh sebab kata dasar ini tidak wujud dalam kata dasar BM, maka kata memerhati dianggap menyalahi peraturan tatabahasa.

Kesal dan Sesal

Kesal : rasa tidak senang atau kecewa atau rasa marah.

Contoh : Malaysia kesal atas ucapan Putera Philip.

Sesal : keinsafan telah bersalah.

Contoh : Dia berasa sesal atas perbuatannya yang telah lalu.

Mencintai dan menyintai

Kata dasar yang bermula dengan C apabila diimbuhkan dengan awalan tidak pernah mengalami proses pengguguran. Oleh itu, kata mencintai adalah tepat dan bukannya menyintai. Begitu juga dengan mencuci, mencantas, mencubit, mencorak, mencium, mencipta, mencucuk, mencukur.

Penggunaan Kata Kerja sebagai penerang

KK yang bertugas sebagai penerang dalam FN tidak perlukan imbuhan awalan.

Contoh :

Bilik bacaan (bukan bilik membaca)

Pusat Beli Belah (bukan Pusat Membeli Belah)

Alat Bedah (bukan Alat Membedah)

Mesin Taip (bukan Mesin Menaip)

Tempat Letak Kereta (bukan Tempat Meletak Kereta)

Dua suku jam/dua jam suku

Lupa janjinya/lupa akan janjinya

Meluaskan lagi lebuh raya Kuala Lumpur-Seremban/meluaskan lebuh raya Kuala Lumpur-Seremban lagi.

…sambil menyanyi lagu Negaraku/…sambil menyanyikan lagu Negaraku.

…..saling potong-memotong/potong-memotong(saling memotong)

Samad menggaru-garu kepalanya berkali-kali …./Samad menggaru-garu kepalanya… atau Samad menggaru kepalanya berkali-kali.

….memegang erat-erat tangan kekasihnya/memegang tangan kekasihnya erat-erat.

Memperbesar perniagaan/membesarkan lagi perniagaan

Bersenjatakan dengan pisau/bersenjatakan pisau…

Berdasarkan kepada fakta/berdasarkan fakta

Bertanyakan tentang khabar/bertanyakan khabar

Menceritakan tentang hal itu /menceritakan hal itu

Memasuki dalam pertandingan/memasuki pertandingan

Membaca banyak majalah/banyak membaca majalah

Balik kampung/balik ke kampung

Guru besar-guru besar / guru-guru besar

Kapal terbang – kapal terbang / kapal-kapal terbang

Menteri Besar – Menteri besar / Menter-menteri Besar

Pelajar-pelajar sekolah / pelajar sekolah

Rakyat-rakyat Malaysia / Rakyat Malaysia

Penduduk-penduduk kampung / penduduk kampung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.