AWAL MULA

TIMBULNYA BAHASA

A. PENDAHULUAN

Dari penggalian-penggalian arkeologis dari berbagai tempat, ahli-ahli purbakala memperkirakan bahwa kehadiran makhluk yang mirip manusia (hominoid) sudah ada sejak beberapa juta tahun yang lalu. Makhluk yang disebut hominoid ialah makhluk yang termasuk dalam kelas makhluk yang memiliki bentuk yang mirip dengan manusia, tetapi kekurangan cirri-ciri tertentu, misalnyaukuran otak. Mukanya maish menonjol kedepan, dan dahinyamiring kebelakang, isi tengkoraknya berkisar antara 750-1300 cc. bila dibandingkan dengan kera-kera modern, hominoid sudah lebih maju. Hominoid inilah yang member peluang bagi hadirnya hominid awal, yaitu makhluk-makhluk yang termasuk dalam genus homo, yang terdiri dari bermacam-macam homo, tetapi masih berbeda dengan homo sapiens, sebagai primat yang sudah mengalami pertumbuhan yang sempurna.

terdapat juga petunjuk bahwa sekitar dua juta tahun yang lalu,hominid telah mampu membuat dan menggunakan peralatan kasar dari batu, tetapi bukti adanya kebudayaan yang sesungguhnya baru diperoleh sekitar satu juta tahun yang lalu dengan munculnya hominid yang lebih maju. Dengan hadirnya kebudayaan yang sesungguhnya memberi sugesti bahwa seharusnya bahwa sudah ada bahasa pada waktu itu,karena bahasa merupakan pra syarat bagi pewarisan tradisional dan pertumbuhan kebudayaan. Awal mula pertumbuhan bahasa yang dalam hal ini lebihtepat disebut prabahasa mungkin sudah ada pada hominid, sedangkan bahasa sesungguhnya baru timbul lebih kemudian. Tetapi tidak ada bukti yang menunjang anggapan itu, atau yang memungkinkan kita menyusun suatu evolusi perkembangan manusia itu.

Pithecanthropus oleh Dr. Teuku Jacob diperkirakan sudah berkomunikasi linguistic secara terbatas, tetapi masih harus dibantu oleh isyarat-isyarat tuuh. Ia sudah memiliki prabahasa (Jacob,1980:hal. 85). Kesimpulan Dr. Jacob bahwa mausia pithecanthropus sudah bisa berbahasa ditunjang oleh kenyataan, bahwa sikap tegak sudah tercapai, meskipun lentik leher masih belum sempurna. Sikap tegak, demikian menurut Dr. Jacob, merupakan factor yang sangat penting untuk memungkinkan adanya saluran suara yang memungkinkan untuk berkomunikasi secara verbal.

Selanjutnya Dr. Jacob menarik kesimpulan sebagai berikut :

Dengan demikian kami berpendapat bahwa bahasa berkembang  perlahan-lahan dari system tertutup ke system terbuka antara 2 juta hingga ½ juta tahun yang lalu, tetapi baru dapat dianggap sebagai proto lingua antara 100.000 hingga 40.000 tahun yang lalu. Perkembangan yang penting baru terjadi sejak H. sapiens, tetapi perkembangan bahasa yang pesat barulah di zaman pertanian. (Jacob, 1981: 85)

Karena tidak ada data-data yang tertulis yang tertulis mengenai bagaimana timbulnya bahasa umat manusia dahulu kala, maka telah dilontarkan berbagai macam teori mengenai hal itu. Di bawah ini akan dikemukakan teori-teori yang penting yang dilancarkan sejauh ini mengenai timbulnya bahasa.

 

 

 

 

1. TEORI TEKANAN SOSIAL

Teori tekanan sosial (The social pressure theory) dikemukakan oleh Adam Smith dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments (hal.343 dan seterusnya). Teori ini bertolak dari anggapan bahwa bahasa manusia timbul karena manusia primitive dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami. Apabila mereka ingin menyatakan obyek tertentu, maka mereka terdorong pula untuk mengucapkan bunyi-bunyi tertentu. Bunyi-bunyi yang selalu mengiringi usaha mereka untuk menyatakan obyek-obyek yang mereka kenal baik, akan dipolakan oleh anggota-anggota kelompok dan akan dikenal sebagai tandauntuk menyatakan hal-hal itu. Demikian pula terjadi kalau pengalaman mereka makin bertambah. Mereka akan berusaha pula untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman baru itudengan bunyi-bunyi tertentu pula.

Teori ini tidak mempersoalkan bahwa fisik manusia primitive sebenarnya berkembang secara perlahan-lahan, sehingga kemampuan secara berbahasa juga akan berkembang secara perlahan-lahan. Adam Smith menggambarkan dalam teorinya itu seolah-olah manusia tiba-tiba sudah mencapai kesempurnaan fisik itu, sehingga kapasitas mentalnya pada awal perkembangannya juga sudah tercapai. Tutur merupakan produk dari tekanan sosial bukan hasil dari perkembangan manusia itu sendiri.

2.TEORI ONOMATOPETIK ATAU EKOIK

Teori onomatopetik atau ekoik (imitasi bunyi atau gema) mula-mula dikemukakan antara lain oleh J.G herder. Teori ini mengatakan bahwa obyek-obyek diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh obyek-oyek itu. Obyek-obyek yang dimaksud adalah bunyi-bunyi binatang atau peristiwa-peristiwa alam. Manusia yang berusaha meniru bunyi anjing,bunyi ayam, desis angin, debur gelombang dan sebagainya akan menyeut obyek-obyek atau perbuatannya dengan bunyi-bunyi itu. Dengan cara ini terciptalah kata-kata dalam bahasa.

Seorang penganut yang lain, D. Whitney mengatakan bahwa pada setiap tahap petumbuhan bahasa, banyak kata-kata yang baru timbul dengan cara ini. Kata-kata mulai timbul pada anak-anak yang berusaha meniru bunyi kereta api, bunyi mobil dan sebagainya (Whitney,1868: hal. 429). Sementara itu Lefevre, seorang penganut yang lain menjelaskan bahwa binatang-binatang memiliki dua elemen bahasa yang penting yaitu teriakan (cry) reflex dan spontan karena emosi atau kebutuhan, dan teriakan sukarela untuk member peringatan, menyatakan ancaman, atau panggilan. Dari kedua jenis ujaran ini, manusia mengembangkan bermacam-macam bunyi dengan mempergunakan variasi tekanan, reduplikasi, dan intonasiberkat mekanisme ujaran yang lebih sempurna, dan otak yang sudah lebih berkembang (Lefevre, 1894:hal.42-43). Imitasi baik langsung maupun simbolik atas bunyi asli, menyempurnakan unsure akarnya, sehingga timbulah nama-nama barang, atau tindakan-tindakan.

3. TEORI INTERYEKSI

Teori Interyeksi bertolak dari suatu asumsi  bahwa bahasa lahir dari ujaran-ujaran instinktif karena tekanan-tekanan batin, karena perasaan-perasaan yang mendalam, dan karena rasa sakit yang dimiliki oleh mannusia. Teori ini dijuluki dengan nama teori pooh-pooh.

Agaknya teori ini mulai dilancarkan oleh sejumlah filsuf, dan kemudian diterima sebagian karena usaha Whitney. Sesudah mengemukakan teori onomatopetik, Whitney mengemukakan juga bahwa adalah wajar bila orang-orang yang tidak terpelajar dan belum berkembang mengucapkan ujaran-ujaran tertentu, sementara itu wajah mereka secara alamiah mengekspresikan keadaan jiwanya. Dan ekspresi jiwa ini akan member makna pada ujaran-ujaran yang diucapkan dalam suasana batin tertentu. Whitney menghubungkan teori ini dengan teori onomatopetiknya dengan mengatakan bahwa karena ketakutan, kegembiraan, dan sebagainya binatanga atau manusia akan mengucapkan ujaran tertentu, dan ujaran-ujaran itu kemudian ditiru oleh manusia lainnya.

Seperti halnya dengan teori onomatopetik, maka kenyataan manusia akan mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu untuk menyatakan kejijikan, keheranan, dan sebagainya dengan ujaran-ujaran tertentu yang sekarang dikenal denganistilah interyeksi atau kata seru. Kata seru memang oleh beberapa ahli ditolak sebagai satu kelas kata. Kata seru merupakan bahasa yang utuh yang komplit untuk menyatakan seluruh perasaan, sebab itu disebut bahasa afektif. Bahasa afektif bukan hanya terjadi pada orang-orang yang kurang terpelajar dan belum berkembang, tetapi juga terjadi pada orang-orang terpelajar dan yang sudah maju dalam perkembangannya.

4. TEORI NATIVISTIK ATAU TIPE FONETIK

Max Muller mengajukan suatu teori lain mengenai asal-usul bahasa yang disebut teori nativistik atau teori tipe fonetik. Teori yang diajukannya itu tidak bersifat imitasi atau interyeksi. Teorinya didasarkan pada konsep mengenai akar yang lebih bersifat tipe fonetik.

Sebagai dasar teorinya ia mengemukakan suatu asumsi bahwa terdapat suatu hokum yang meliputi seluruh hampir alam ini, yaitu bahwa tiap barang akan mengeluarkan bunyi- bunyi bila dipukul. Tiap barang memiliki bunyi yang khas. Karena bunyi-bunyi yang khas itu manusia lalu memberikan responsnya atas bunyi-bunyi tersebut. Karena manusia memiliki kemampuan ekspresi artikulatoris, maka responsnya juga diberikan melalui ekspresi artikulatoris kepada apa yang diterima melalui panca inderanya.

Barangkali bukan maksud Muller untuk mengatakan bahwa manusia itu sama dengan lonceng atau gamelan, atau sebuah gendering yang akan mengeluarkan tertentu kalau dipukul. Yang ingin dikatakannya bahwa setiap barang akan memberikan reaksi tertentu bila ada suatu stimulus. Reaksi itu pada manusia separuhnya berbentuk vocal, yang dalam hal ini berbentuk tipe-tipe fonetik tertentu yang menjadi akar bagi perkembangan bahasa. Teori Muller diberi julukan teori ding-dong.

5. TEORI “YO-HE-HO”

Teori Noire yang menjadi landasan teori Muller itu bertolak dari suatu anggapan bahwa kegiatan otot-otot yang kuat mengakibatkan usaha pelepasan melalui pernapasan secara keras. Pelepasan melalui pernapasan ini menyebabkan perangkat mekanisme pita suara bergetar dengan bermacam-macam cara. Karena getaran itu timbulah bunyi ujaran.

Orang-orang primitive yang belum mengenal peralatan yang maju akan mengahadpi pekerjaan-pekerjaan yang erat tanpa peralatan itu. Sebab itu mereka selalu bersama-sama mengerjakan pekerjaan-pekerjaan semacam itu. Untuk member semangat kepada sesamanya,mereka akan mengucapkan bunyi-bunyi yang khas, yang dipertalikan dengan pekerjaan yang khusus itu. Sebab itu bunyi-bunyi yang dikeuarkan pada waktu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang khusus itu akan dipakai pula untuk menyebut perbuatan itu. Sebab teori ini dijuluki pula dengan nama teori Yo-He-Ho.

6. TEORI ISYARAT

Teori isyarat (The Gesture Theory ) diajukan oleh Wilhelm Wundt, seorang psikolog yang terkenal dalam abad XIX. Teorinya tentang asal-usul bahasa didasarkan pada hokum psikologi, yaitu pada setiap perasaan manusia mempunyai bentuk ekspresi yang khusus yang merupakan pertalian tertentu antara syaraf reseptor dan syaraf efektor.

Bahasa isyarat timbul dari emosi dan gerakan-gerakan ekspresif yang tak disadari menyertai emosi itu. Komunikasi gagasan-gagasan yang dilakukan dengan gerakan-gerakan tangan, yang membantu gerakan-gerakan mimetic (gerakan ekspresif untuk menyatakan emosi dan perasaan)wajah seseorang. Kemampuan untuk mendengar memungkinkan manusia untuk menciptakan jenis gerakan yang ketiga yaitu gerakan artikulatoris, disamping gerakan mimetic dan gerakan pantomimetik (pengungkap ide) yang sudah ada. Gerakan-gerakan artikulatoris ini lebih mudah diterima dan memiliki kemampuan untuk mengadakan modifikasi tanpa batas, maka dalam perkembangan selanjutnya gerakan artikulatoris menjadi lebih penting dari kedua gerakan lainnya.

Wundt juga mengatakan bahwa bahasa isyarat adalah bahasa primitive, tetapi ia sama sekali tidak menegaskan bahwa bahasa artikulatoris (bahasa ujaran) berkembang dari bahasa isyarat. Ia menganggap keduanya dipakai bersama-sama, tetapi kemudia bahasa ujaran memperoleh stauts yag lebih tetap karena fleksibilitasnya, dan kemampuan untuk mengadakan abstraksi.

7. TEORI PERMAINAN VOKAL

Jespersen seorang filolog Denmark yang kenamaan, berusaha mengkoordinasikan semua teori yang telah dikembangkan sebelumnya dan berusaha mengembangkan suatu sintesa ke dalam sebuah hipotesa yang lebih memuaskan. Bahasa manusia mulanya berujud dengungan dan senandung yang tek berkeputusan yang tidak mengungkapkan pikiran apapun, sama seperti senandung orang-orang tua untuk membuai dan menyenangkan bayi. Bahasa timbul sebagai permainan vocal, dan organ ujaran mula-mula dilatih dalam permainan untuk mengisi waktu senggang ini.

Bahasa mulai tumbuh dalam ujud ungkapan-ungkapanyang berbentuk setengah music, yang tak dapat dianalisa. Bahasa yang terdiri dari dan berkembang dari kata-kata semacam itu merupakan alat yang sangat kaku, rumit dan kacau.bunyi dan makna akan menjadi keharmonisan yang sempurna. Suatu jumlah medan maknayang cermat akan tetap mendampingi bentuk-bentuk tertentu. Jepersen dengan demikian beranggapan bahwa bahasa manusia mula-mula lebih bersifat puitis dalam permainan yang riang dan gembira, dalam cinta remaja yang ceria, dalam suatu impian yang romantic. Teori Jepersen dengan demikian berusaha untuk menjembatani kesenggangan antara vokalisasi emosional dan ideasional.

 

 

8. TEORI ISYARAT ORAL

Sebuah teori lain mengenai asal-usul bahasa dikemukakan oleh Sir Richard Paget dalam bukunya Human Speech (Paget,1930: bab VII). Untuk menunjang teorinya itu ia mengemukakan banyak bukti. Ia bertolak dari jaman bahasa isyarat, untuk membuktikan bahwa ketika manusia mulai menggunakan peralatan, tangannya dipenuhi dengan barang-barang itu sehingga tangannya tidak bisa dipergunakan dengan bebas dalam berkomunikasi. Sebab itu manusia memerlukan alat lain. Isyarat yang mulanya dilakukan dengan tangan, tanpa sadar mulai digantikan denganoleh alat-alat lain yang dapat menghasilkan isyarat-isyarat yang lebih cermat.

Argumentasi yang dikemukakanya sebagai berikut.pada mulanya manusia menyatakan gagasannya dengan isyarat tangan, tetapi tanpa sadar isyarat tangan itu diikuti juga oleh gerakan lidah, bibir, rahang yang membuat juga gerakan-gerakan sesuai dengan isyarat tangan tadi. Pada waktu tangan mendapat tekanan tugas yang lebih banyak karena aktivitas lainnya, maka peranan tangan sebagai pemberi isyarat juga berkurang, tetapi sementara itu bagian- bagian pelengkap seperti lidah, bibir dan rahang sudah siap untuk mengambil alih peranan itu dengan cara pantomimic. Kemudian tibalah tahap yang leih penting yaitu ketika manusia melakukan isyarat dengan lidah, bibir dan rahang, maka udara yang dihembuskan melalui mulut (oral) ataulubang hidung akan mengeluarkan pula isyarat-isyarat yang dapat didengar sebagai ujaran bisik. Jika nenek moyang kita menyanyi ( selagi berpantomim dengan lidah, bibir, dan rahang) atau menggerutu ( untuk menarik perhatian pada apa yang tengah dikerjakan), maka akan menghasilkan efek yang lebih baik, yaitu apa yang kita sebut sebagai bahasa (Paget, 1930: bab VII).

 

 

 

9. TEORI KONTROL SOSIAL

Teori control sosial diajukan oleh Gracc Andrus de Laguna dalam bukunya Speech:its function and development (1927, bab I). menurut de Laguna ujaran adalah suatu medium yang besar memungkinkan manusia bekerja sama. Bahasa merupakan upaya mengkoordinasi dan menghubungkan macam-macamkegiatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Bahkan teriakan hewan (cry) dan panggilan (call) mempunyai fungsi sosial. Panggilan yang menandakan bahasa dari seekor induk ayam ketika seekor elang terbang melintas diatasnya membangkitkan respons tertentu pada anak-anak ayam untuk mencari tempat persembunyian. Control sosial yang berwujud teriakan binatang dihubungkan dengan tingkah lakuyang sederhana dan kemampuan yang masih rendah dari spesies yang bersangkutan. Ketika bunyi-bunyi itu mulai dipakai secara sistematik untuk mengontrol tingkah laku orang-orang lain dalam untuk mengacu obyek-obyek selama permainan, maka nama-nama itumenjadi kata yang dan masuk sebagai unsure  dalam struktur bahasa.

Jadi dalam usahanya dalam menelusuri evolusi ujaran dari teriakan binatang ke penggunaanya sebagai ujaran, de Laguna melihat lebih jauh kebelakang bila dibandingkan dengan Jepersen. De Laguna menganggap bahwa ujaran didasarkan kepada aktivitas kehidupan yang sungguh-sungguh bukan sekedar permainan yang menyenangkan dan kesenangan remaja. Mungkinsaja bahwa masa-masa yang lebih cerah ini member iuran bagi aktivitas permainan vocal pada orang-orang primitive,tetapi hal ini hanya bisa terjadi kalau ujaran vocal dipisahkan dari konteksnya, dan membentuk suatu peruatan yang bebas, dan mengandung sifat-sifat yang menyenangkan dalam dirinya.

 

 

 

 

10. TEORI KONTAK

G. Revesz mengemukakan sebuah teori mengenai asal-usul bahasa yang disebut teori kontak. Sebagian kecil dari teori inimenyerupai teori tekanan sosial yang dikemukakan Adam Smith, tetapi bagian-bagian yang penting menyerupai teori teori control sosial dari de Laguna. Hubungan-hubungan sosial pada makhuk hidup memperlihatkan bahwa kebutuhan untuk mengadakan kontak satu sama lain tidak pernah member kepuasan  antara individu-individu dari tiap spesies. Pada tahap yang sangat rendah pada tingkat instinktif, kebutuhan untuk mengadakan kontak ini tampaknya dapat dipenuhi oleh kontak spasial (kontak karena kerapatan jarak fisik). Tetapi semakin kehidupan itu dilapisi oleh pengalaman-pengalaman yang terarah, maka keinginan akan kontak spasial td akan menjelma menjadi suatu keinginan untuk mengadakan kontak emosional. Pada tingkat ini kepuasan akan tercapai karena kedekatan emosional dengan orang lain, yang akan menimbulkan pengertian, simpati, dan empati pada orang lain. Kontak emosional adalah ha yang esensial pada tingkah laku berbahasa. Bahasa hanya mungkin  ada bila ada hubungan personal atau kontak emosional antara orang-orang yang mampu berbicara.

Aspek terakhir dari kontak yang sangat esensialbagi perkembangan bahasa adalah kontak intelektual. Seperti halnya kontak emosional berfungsi untuk menyampaikan emosi, maka kontak intelektual berfungsi untuk bertukar pikiran. Seorang anak manusia yang tak pernah terlibat dalam jaringan kontak intelektual dengan orang-orang lain, tidak akan mungkin memahami pengaruh bahasa sebagai alat untuk berkomuikasi intelektual. Hal ini juga berlaku secara filogenetis bahwa bahasa dapat muncul sesudah tercapai prakondisi untuk kontak emosional dan kontak emosional dan kontak intelektual pada anggota-anggota masyarakat primitive (Revesz, 1956: hal. 147-148).

 

 

11. TEORI HOCKETT-ASCHER

Pada prinsipnya para ahli menerima bahwa sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu, makhluk yang disebut proto hominoid sudah memiliki semacam bahasa. Primat ini dianggap memiliki semacam system komunikasi  yang disebut call. Sitem call sekitar 2-1 juta tahun yang lalu  merupakan suatu system yang sederhana. Terdiri dari sekitar enam tanda distingtif, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Keenam perbendaharaan call itu adalah :

  1. Call untuk menandakan adanya makanan
  2. Menyatakan adanya bahaya
  3. Menyatakan persahabatan atau keinginan untuk bersahabat
  4. Cal yang tidak mempunyai arti dan hanya menunjukkan dimana seekor gibbon berada, call ini berfungsi untuk menjaga agar anggota kelompok tidak terpisah teralu jauh ketika mereka bergerak diantara pohon-pohonan.
  5. Ada call untuk perhatian seksual,dan
  6. Ada call untuk menyatakan kebutuhan akan perlindunagn keibuan.

Untuk menyatakan sifat stimulus yang dihadapi, setiap call dapat bervariasi berdasarkan intensitasnya, lamanya, dan jumlah pengulangannya.

Tiap call bersifat eksusif secara timbal-balik dalam pengertian bahwa menyadari keadaannya dalam setiap situasi, proto hominoid tidak mampu mengeluarkan sebuah tanda yang memiliki cirri-ciri gabungan dari dua jenis call atau lebih. Cirri ekslusif dalam timbal balik ini secara teknis disebut system tertutup. Sebaliknya bahasa sebagai yang digunakan manusia dewasa ini bersifat terbuka atau produktif. System terbuka berarti kita dapat mengucapkan dengan bebas apa yang belum pernah kita kita ucapkan atau kita dengar sebelumnya, sementara maknanya dapat dipahami pula dengan mudah. System call dan bahasa berbeda dalam dua atau tiga hal berikut :

  1. System call tidak mengandung cirri pemindahan , bahasa justru memiliki cirri ini. Cirri pemindahan mengandung pengertian bahwa kita dapat berbicara dengan bebas mengenai suatu ha yang jauh letaknya dari pandangan kita, atau sesuatu yang berada dalam masa lampau, atau yang ada dimasa datang, bahkan kita bisa berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada.
  2. Ujaran dari sebuah bahasa terdiri dari susunan unit-unit tanda yang disebut fonem yang tidak mengandung makna, tetapi berfungsi untuk memisahkan ujaran-ujaran yang ermakna( morfem atau kata) satu dari yang lain. Jadi ujaran memiliki dua hal yaitu struktur dari unsure yang tidak mengandung makna, tetapi yang bisa dibedakan satu dari yang lain, dan juga sebuah struktur  dari unsure- unsure yang mengandung makna. Cirri ini disebut kekembaran pola. Sebuah system call tidak meiliki cirri ini perbedaan antara dua call bersifat global. Disamping itu masih ada perbedaan yang ketiga,
  3. Konvensi- konvensi yang terperinci dari sebuah bahasa dialihkan secara tradisional, walaupun kapasitasnya mempelajari bahasa dan rangsangan untuk berbahasa bersifat genetis.

Ciri- ciri tertentu dari system call proto hominoid dapat meragamkan intensitas, nada, dan durasi sebuah call tertentu, manusia masih melakukan hal ini dengan variasi tekanan, nada , dan durasi. Kadang- kadang kita berbicara lebih keras, kadang-kadang dengan lemah lembut, dan kadang-kadang dengan register yang lebih tinggi dan kadang-kadang lebih rendah. Kita masih menggunakan gerutu, desah atau teriakan-teriakan yang bukan kata atau morfem, juga bukan bagian dari bahasa. Bermacam-macam fenomena paralinguistic ini diolah kembali dan diubah dengan banyak cara  berdasarkan kondisi hidup manusia, tetapi silsilahnya tetap harus lebih tua dari bahasa itu sendiri.