APRESIASI SASTRA

BAIT GAMBUH SERAT WULANGREH KARYA PAKUBUWANA IV

 

Dalam tugas apresiasi sastra kali ini saya akan mencoba mengapresiasi sastra melalui pemahaman bait gambuh dalam serat Wulangreh karya Pakubuwana IV. Adapun cuplikan bait tersebut ialah :

//Ana pocapanipun/

/Adiguna adigang adigung/

/Pan adigang kidang adigung pan esthi/

/Adiguna ula iku/

/Telu pisan mati sampyoh//

dalam bait tersebut dalam serat wulangreh adalah bertemakan tentang ajaran-ajaran yang luhur untuk menjadi manusia yang utama atau manusia yang luhur. Ana pocapanipun berarti ada suatu perkataan. Adiguna adigang adigung berarti orang yang mengandalkan atau menyombongkan kekuatan,  kekuasaan (jabatan) ,dan keunggulan/ kepintarannya. Pan adigang kidang adigung pan esthi ialah adigang digambarkan dengan kidang, adigung di ibaratkan dengan seekor gajah, lalu yang terakhir adiguna ula iku , adiguna diibaratkan dengan hewan ular. Telu pisan mati sampyoh yaitu ketiganya itu bakalan hancur atau mati.

Dalam mengajarkan untuk menjadi manusia yang berbudi luhur, pakubuwana IV mengambil contoh ketiga hewan tersebut, Karen ketiganya mempunyai watak yang akan disampaikan oleh pengarang tersebut. Adigang ialah watak yang selalu mengandalkan kekuatan, pengarang mengambil contoh hewan kidang. Hewan kidang selalu mengandalkan kekuatannya dalam berlari seolah-olah tidak ada yang menandingi, padahal salah satu kakinya patah maka tidak akan bisa digunakan untuk berlari kencang lalu pada akhirnya tidak ada yang dapat disombongkan. Begitu juga dengan manusia, jika menyombongkan akan kekuatan dirinya. Apabila kekuatan tersebut diambil yang Maha Kuasa maka manusia itupun tidak aka nada apa-apanya dan tidak berguna.

Lalu adigung, ialah sifat atau watak manusia yang menggambarkan sifat yang selalu menyombongkan  kekuasaan dan kebesaran melalui pangkat dan derajatnya. Hewan yang tergambar dalam contoh ini ialah hewan gajah. Gajah selalu membangga- banggakan kebsaran tubuhnya seolah-olah tak ada tandingannya. Dan dibalik itu semua apabila ada semut yang masuk telinga gajah maka akan membuat si gajah merasa risih dan lepas kontrol lalu akhirnya gajah itu akan menabrak sana-sini  dan mati. Begitu juga dengan seseorang yang selalu mengandalkan pangkatnya. Orang itu lupa bahwa pangkat dan jabatannya itu adalah titipan amanat dari rakyatnya. Jika seorang pejabat itu berbuat dzolim kepada rakyatnya maka Lama- kelamaan  pejabat itu akan lengser ditangan rakyatnya sendiri.

Dan yang terakhir adalah adiguna. Adiguna digambarkan melalui hewan ular. Ular selalu mengandalkan racun yang keluar dari mulutnya yang sangat mematikan. Hal ini pelajaran bagi seorang manusia agar selalu berhati-hati dalam menggunakan mulutnya itu. Karena semua fitnah itu timbul akibat dari perkataan. Maka perkataan tersebut juga akan berakibat negatif pada dirinya sendiri. Pengarang menuliskan bahwa ketiga hal tersebut akan mati sampyoh yang mempunyai makna jika seseorang selalu mengandalkan akan ketiga hal tersebut maka akan berakibat tidak baik bagi dirinya dan membuat manusia tersebut seperti tidak ada gunanya dalam masyarakat.

Dalam bait tersebut juga terdapat purwakanthi yang tertulis dalam teks. Purwakanthi adalah gabungan dari suara yang ada di bagian akhir dengan yang di awalannya. Purwakanthi yang berada dalam teks iala purwakanthi guru swara, karena dalam teks tersebut tersurat kalimat adigang adigung adiguna.

Seseorang itu harus berhati-hati dalam bertindak, dan dalam berucap. Efek yang timbul jika ada seseorang yang membaca bait tersebut ialah orang itu akan berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata. Orang tersebut tentu akan rereh,ririh lan ngati-ati. Rereh berarti sabar, sareh ing laku sabar ing kalbu, ririh berarti tidak tergesa-gesa dan selalu mempertimbangkan dalam mengambil keputusan, dan ngati-ati yaitu berhati-hati. Jika seseorang dapat meninggalkan ketiga hal dan mempunyai watak yang sabar, ririh dan berhati-hati, maka orang tersebut mempunyai watak yang baik dan akan menjadi orang yang luhur budinya.