1. Linguistik historis (Historical Linguistie)

Mengkaji satu/lebih bahasa dalam era yang berbeda, tentang gramatika

(kosakata, sistem bunyi, sistem bentuk, sistem kalimat ) dalam rangka merumuskan evolusi atau perkembangan, dan atau proto bahasa (induk bahasa).

  1. Linguistik Historis Komparative (Historical Cooperative Linguistics)

Cabang linguistik yang mengkaji satu bahasa/lebih yang serumpun  dengan cara membandingkan unsur gramatikalnya dalam era yang berbeda dalam rangka merumuskan evolusi atau perkembangan, dan atau proto bahasa (induk bahasa).

  1. Sejarah Linguistik (The History of Linguisties)

Mendiskribsikan secara historis tentang teori-teori/konsep linguistik yang ada dari perkembangan yang pertama sampai akhir.

  1. Linguistik Kontrastif (Linguistie Contrustive)

Cabang linguistik yang membandingkan dua buah/lebih yang tidak serumpun dalam era yang sama dengan tujuan untuk menambah kualitas penguasaan dan atau pembelajaran bahasa yang bersangkutan.

 

1. Perkembangan Linguistik di Yunani

  1. Tokoh :            Plato                (guru Aritoteles)

Socrates           (guru Plato)

Aristoteles       (muridnya Plato)

  1. Dasar pengamatan terhadap fenomena kebahasaan :

ü  Segalan sesuatu yang terjadi yang bisa dilihat/diamati dengan indra yang yang terkait dengan unsur-unsur kebahasaan.

ü  Unsur kebahasaan : bunyi hujan, kalimat, bentuk-bentuk kalimat, tuturan dan pola-pola aturan. Contoh : fenomena kebahasaan yang terkait dengan ejaan dan bunyi bahasa Indonesia tuturan, ‘praktek’ ejaan ‘praktik’, Bali ‘mbali’, Delanggu ‘ndelanggu’

Tokoh Yunani dasar pengamatan terhadap fenomena kebahasaan adalah keterkaitan (kekorelasian) antara tuturan (kata/bahasa) dengan objek yang dimaksud/unsur diluar kebahasaan.

 

  • Teori/konsep Plato

Plato belum mempunyai satu ketetapan teori hanya penasaran bahwa antara tuturan (kata/bahasa) dengan objek yang dimaksud apakah berkaitan atau sewenang-wenang, dan atau hanya konvensional/kontrak sosial.

  • Teori/konsep Socrates

Antara tuturan, bahasa/kata dengan objek yang dimaksud terdapat korelasi/keterkaitan namun hanya mirip konvensional/kontrak sosial/ kesepakatan bersama/pasarujukan.

Teori Socrates sering disebut teori analogi/teori kesepakatan. Contoh : black board (papan yang berwarna hitam) dan white board (papan yang berwarna putih) disepadankan ternyata berkorelasi.

 

  • Teori/konsep Aristoteles

Antara tuturan, bahasa/kata dengan objek yang dimaksud ada korelasinya atau keterkaitanya namun hanya merupakan konsepsional/kontrak sosial. Socrates mengatakan antara tuturan (speech), kata (word), bahasa (language) dengan objek (referent) selaku berkorelasi atas dasar :

I.            Motivasi/harapan yang terkait dengan :

  1. Manusia
  2. Barang

II.            Bunyi/suara (tiruan/onomatope) yang terkait dengan :

  1. Manusia/hewan
  2. Barang/aktifitas

III.            Bentuk/sifat (warna)

IV.            Fungsi/tempat/lokasi

Teori Aristoteles lazim disebut teori anomali, maksudnya persetujuan bersama/teori konsensus. Prinsipnya antara kata/bahasa/tuturan dengan objek yang dimaksud/referen adalah abriter (tidak ada hubungan sama sekali/sewenang-wenang).

Misal : nama orang ‘Dewi’ itu hubungan sewenang-wenang. Mungkin semua orang mengakui bahwa Dewi adalah cewek ? karena menurut Aristoteles pengetahuan itu mempunyai konversi/pengakuan/kesepakatan/ bahwa cewek itu bernama Dewi.Misal :

  1. Jalan Slamet Riyadi merujuk pada nama pahlawan
  2. Sala merujuk pada nama pohon sala

(jalan Slamet Riyadi dan Sala merujuk pada fungsi)

Ndudut : nasal pada kata itu tetap ditulis dan dalam pengucapannya pun juga memakai nasal karena nasal itu merupakan prefiks / dalam bahasa lisan maupun tulis tetap diawali prefiks/awalan/ater-ater dan juga karena kata ‘ndudut’ tersebut juga merupakan kata kerja/verba.

Ndelanggu secara lisan diawali nasal. Nasal itu semata-mata hanya untuk usaha pelancar bukan merupakan sebuah prefiks. Maka dalam menulisnya tidak usah dibubuhi nasal (n) karena nasal itu bukan merupakan prefiks. Ndelanggu itu merupakan nama kota/tempat, seperti : Mboyolali, Mbuang, Njebres, Njiwit.

 

2. PERKEMBANGAN LINGUISTIK DI ROMAWI

Menurut dasar lama,terkait atas dasar rangsangan dan tanggapan. Menurut teori baru atas dasar struktur / grammar/ paramasastra. Menurut teori baru, susunan kelas kata yaitu : nomina, verba, adjective, adverbia (benda).

Suatu kata termasuk kata benda (nomina) jika mempunyai cirri dan menurut teori baru dapat ditambah dengan “dudu” dan tidak dapat ditambah kata “ora”.

  • Verba

…kang + adjective

…sing + adjective

…kanthi + adjective

  • Adjective

Sa + …+ e (reduplikasi)

Saayu- ayune

…diikuti oleh kata banget

…dhewe

 

Semua kata yang isa member keterangan Adjektive, Nomina, Verb.

 

 

 

 

A. PERKEMBANGAN BAHASA DI ROMAWI

 

Perkembangan linguistic di Romawi itu pada prinsipnya merujuk / mengacu pada perkembangan linguistic di YUnani. Kemudian ada perkembangan sedikit karena pengaruh perkembangan kebudayaan Yunani yang disebut Hellenisme. Tempat perkembangan Hellenisme  yaitu di Alexandria.

Prinsipnya kajian bahasa terfokus atas pembagian unsure kalimat, tata kalimat, syntac/ sintaksis, kawruh ukara, widyaukara. Akhirnya bahasa Roma merupakan induk dari bahasa di Eropa antara lain Bahasa Rumania/ Latin, Portugis, Spanyol, Italia, dsb.

Pembagia jenis kata mula-mula ada 3 :

  1. Nomen                        : Nominal
  2. Verbung          : verb/ verba
  3. Konjungsio

Dari 3 lalu menjadi 8:

  1. Nomen/ aran
  2. Verbung/ kriya
  3. Participium/participle/wilangan
  4. Artikulus/sandang
  5. Pronomen/ganti/sesulih
  6. Preposis/depan/ancer-ancer
  7. Adverbium/tambah
  8. Sambung/kanjungsio

 

Kajian di Romawi yang utama adalah kajian kalimat. Pembagian jenis kata masuk dalam lingkup kajian kalimat. Dasar orang Romawi dalam mengkaji fenomena kebahasaan :

  • Suatu hal dikatakan benda karena suatu itu menyatakan benda.
  • Suatu aktivitas disebut kerja karena merupakan aktivitas kerja. Contoh: turu, tidur, nangis.

“tulis dan atau nulis” disebut kata kerja karena aktivitas sebagai stimulus pikiran mencerna dan mengatakan kerja. Mencermati aktivitas, pikiran, sifat.

Dasar / tolak ukur orang Romawi dalam mengkaji fenomena kebahasaan /behaviorisme/ biorisme adalah pendekatan manusia dalam situasi perangsang dan penanggap yang dapat diamati.

Aliran Behaviorisme

Tapi berdasarkan cirri penanda morfologis/ sintaksis

  • Nomen , kata benda, tembung aran

Dalam nama pelafalan tergantung pemilik nama, seperti piyarno dilafalkan piyarnO

Paino dilafalkan painO

 

  • Verbum, verb, kata kerja, tembung kriya

Kata kerja jika nama :

Participium, participle, particip (kata bagi), tembung wilangan.

Artikulus / articulation

 

B. TEORI PERKEMBANGAN BAHASA DI ROMAWI

Sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistic di Indonesia yang dipelopori oleh S.T. Alisyahbana seorang pengarang Tata Bahasa Baru Indonesia yang termasuk dalam orang aliran lama/ behaviorisme.

“manis, ayu, bagus” è adjective

“Lemu” sifat tembung structural karena ada perumus perangsang karena keadaan. Objek dalam keadaan lemu manis.

 

ð  Reduplikasi (perulangan +e)

Missal : seayu-ayune

Selemu- lemune

Karena kata itu bisa  diikuti dengan kata banget, nangis, mingsep-mingsep.

 

Dalam kajiannya, bahasa di Romawi merambat pada kasus, gender (feminism,maskulinum,metrum), tunggal ( singular), jamak (plural)

 

3.PERKEMBANGAN LINGUISTIK DI INDIA

 

Perkembangan linguistic di India diawali dengan adanya huruf Brahmi dan huruf Karasthi, huruf Brahmi dianggap sebagai huruf yang resmi yang sebetulnya perkembangan dari huruf aremia. Dari huruf brahmi berkembang menjadi huruf-huruf yang ada di daratan India yang masih berlaku saat ini diantaranya huruf Pallawa, huruf Dewanagari ( digunakan dalam bahasa Sansekerta), huruf Gupta. Tokoh perkembangan linguistic di India yaitu “Panini”.

Pendekatan behaviorisme diaplikasikan konsepnya. Missal :

Disebut jam 3 karena member keterangan yang lain menyatakan waktu.

ð  “omah” dulu nomina karena dasarnya behaviorisme yang merupakan benda.

ð  “nulis” masuk vera karena merupakan nomina karena tidak bisa digabung dengan kata ora.

 

Bahasa sansekerta adalah bahasa yang menggunakan huruf Dewanagahari. Bahasa kawi lazim diseut Bahasa Jawa Kuna. Fungsinya bahasa yang digunakan oleh orang-orang Jawa yang berbentuk tembang. Bahasa sansekerta yang masuk ke Jawa sehingga bahasa Kawi di Jawa lebih dipengaruhi Bahasa Sansekerta.

Huruf dewanagahari perkembangan dari huruf Brahmi. Huruf brahmi terdapat 45 huruf dan dibaca dari kanan ke kiri namun semua perkembangan jaman menjadi kiri ke kanan membacanya.

Alphabet Panini terkenal di India, disusun dengan mutu yang tinggi berdasarkan organ-organ alat bicara yang menimbulkan bunyi bahasa tersebut.

 

k kh g gh ng Gultural/tenggorok
c cha j jh ny Palatal
t th d dh n Lingual
t th d dh n Dental
p ph b bh ma Bilabial
y r l w   lateral

 

a)      Gultural

Artikulator :    tenggorok / pangkal tenggorok

Lidah

Udara

 

Pusat / sentral gerakan : pangkal tenggorok

Titik articulator : bagian kecil tengorok / pangkal tenggorok

 

b)     Palatal

Titik articulator :         langit-langit

Lidah

Udara

 

Pusat / sentral gerakan :          lidah menyentuh langit-langit

Lembut alveolums

Titik articulator : langit-langit  lembut / alveoliums

 

c)      Lingual

Artikulator :    ujung lidah / lidah

Udara

Pankal tenggorok walaupun tipis

Pusat / sentral gerakan :          ujung lidah /ujung  menyentuh langit-langit keras (palatum)

Titik articulator : langit0langit keras (palatum)

 

d)     Dental

Articulator : lidah, udara

Pusat gerakan : ujung lidah menyentuh gigi

Titik articulator : gigi

 

e)      Bilabial

Articulator : bibir, udara

Pusat gerakan : udara dihambat oleh bibir

Titik articulator : bibir

 

f)       Lateral

Artikulator :    langit-langit lunak

Lidah

Udara

Pusat gerakan : ujung lidah digetarkan dan atau menyentuh langit langit keras / lembut

Titik articulator : langit-langit lembut

 

 

g)      Desis

Articulator : lidah, rongga mulut, udara

Pusat gerakan : udara digesekkan / didesisikan lewat sekitar lidah

Titik articulator : gigi, bibir, langit-langit keras

4. SEJARAH ALIRAN SWISS

Sering disebut juga dengan “ Aliran Struktural Swiss ”. Karena pendekatan struktur aliran kebahasaan tersebut berpijak pada aliran bahasa itu sendiri.

Tokoh              Konsep/teori/paradigm                        Aplikasi/aplikatif

Struktur/wujud/paramasastra

 

Tokohnya :

Ferdinand de Saussure asli kebangsaan Ceko besar di Swiss mengajar di Universitas Swiss. Karyanya “Cours of De Linguistique Ferdinand De Generale”. Karya ini dibuat oleh mahasiswa Ferdinand, ketika Ferdinand telah meninggal yang berisi materi-materi kuliah.

Karya terakhir dalam topic desertasinya berjudul Kasus Genetif Bahasa Sansekerta. Saussure meninggal sebelum mencapai usia 50 tahun.

Pendekatan bahasa struktur merupakan aliran kebahasaan yang berpijak  pada aliran bahasa itu sendiri.

Konsep

  1. Sinkronis
  2. Diakronis
  3. Langue
  4. Parole
  5. Significant
  6. Signific
  7. Hubungan Sintakmatik
  8. Hubungan Paradigmatik

 

 

  1. 1.      Sinkronis

Kajian terhadap suatu bahasa atau lebih dengan cara membandingkan aspek-aspek kebahasaan dalam waktu tertentu dan atau sekarang sesuai periode waktu.

Contohnya :

Cina dengan Jawa, berarti anda merupakan pembanding

Bahasa Internasional / bahasa yang member sumbangan nasionalis terhadap bahasa donator suatu negara.

Pengertian suatu bahasa itu relative, karena cenderung terjadi perubahan bahasa secara sempit.

Bahasa Internasional sekarang yaitu bahasa Inggris.

  • Bahasa Stabil dan Labil

Bahasa Stabil yaitu bahasa yang utuh sempurna.

Bahasa Labil yaitu bahasa yang belum sempurna, bahasa penerima dan umumnya bahasa dalam negara berkembang.

Sekarang mempunyai pengetahuan lebih lama.

Bahasanya, bahasa Jawa, bahasa Indonesia dll.

Lebih singkat, bahasa sekarang bahasa yang masih ada tidak berubah dan masih tetap digunakam pada saat ini.

Contoh :  Bahasa Inggis

 

  1. 2.      Diakronis

 

Yaitu kajian terhadap dua bahasa atau lebih, dalam periode waktu yang berbeda dengan tujuan mengkaji proto/ induk bahasa / rumpun bahasa.

 

Misal : mengkaji bahasa Jawa, Hayam Wuruk mengkaji bahasa Jawa, Pakubuwana dengan membandingkan dua bahasa pada jaman yang berbeda. Hal itu dapat menentukan induk atau proto bahasa.

 

  1. 3.      Langue

 

merupakan bahasa Prancis. Yaitu konsep kebahasaan yang terdapat dalam benak kebahasaan masing-masing sifatnya kolektif maksudnya individu satu dengan yang lain kurang lebih sama.

 

Misal : ada seorang mahasiswa yang akan ijin tidak mengikuti kuliah. Sebelum mengungkapkan atau berbicara. Pasti mempunyai Langue.

 

  1. 4.      Parole

 

Yaitu konsep kebahasaan yang diekspresikan berupa sejarah bahasa sesuai dengan maksud.

 

Misal:  langue yang dikeluarkan berupa kata-kata sesuai apa yang dimaksud benak kita.

 

  1. 5.       Significant

 

Yaitu lambing yang berupa kata atau bahasa yang mempunyai pengertian konsep pengetahuan atau abstraksi.

 

Contoh: Pisang,

Lazim disebut “word”

 

  1. 6.      Signifie

 

Yaitu penertian konsep atau pengetahuan atau absatraksi atau image dari suatu lamang.

 

Contoh; cirri-ciri dari pisang.

Lazim disebut “meaning”

 

  1. 7.      Hubungan Sintakmatik

 

Adalah hubungan linier antar unsure-unsur bahasa dalam tatanan tertentu

 

Linier               [ a š u ]

[ i b u ]                                     Fonetik

[ b a ? s o ]

[ j a g u G  ]

 

 

 

 

diambung

 

di – ambung

Morfologis

ngambungi

N – ambung – i

 

Ngambungake

N – ambung – ake

 

Linier à  berurutan sebaris

Contoh :  Bungsu diambung dening Bejo  –>  Sintaksis

 

Sintakmatik

 

Bungsu / diambung dening Bejo

Diambung dening Bejo

 

Adalah hubugan Linier antar unsure-unsur bahasa dalam tataran tertentu.

 

Fonologi                      [ b u n t U t ]

[t u k u]

                                    [j a g U G]

 

Morfologi                    dituku              di – tuku

Diukoni           di – tuku – i / dituku – i

Tulisane           tulis – ane

 

 

 

Sintaksis                                  Aku nulis laying

atau                 Aku                 nulis laying

 

Bocah iku manungsa

Bocah              iku                   manungsa

 

Bocah              iku manungsa

 

 

8. Hubungan Paradigmatik

Adalah hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam tingkat tertentu dengan unsure-unsur lain diluar tingkatan bahasa tersebut yang bisa dipertukarkan.

Contoh :  Dalam tingkatan Fonologi

 

Fonologi:                     p   a   r   i

 

m   a   r   i

 

s   a   r   i

 

 

 

 

 

 

 

 

Morfologi:

 

Morfologi:                   di         tuku                                         ny        ucuk

 

n          ulis                                           di         suwuk

 

 

m         acul

 

di         pangan

 

 

 

 

Sintaksis:                                 aku                  nulis                 laying

 

 

 

 

Bocah              iki                    manungsa

 

 

 

 

Siti                   mangan                        roti

 

 

 

 

Amin               tuku                             roti

 

 

 

Aku                 nggawa                        buku

 

Shane              tuku                             duku

 

5. Aliran Struktural Amerika

Tokoh dari Aliran Struktural Amerika adalah:

a. Frans Buas

b. Edward Sapir

c. Leonard Bloomfield

Sapir dan Buas sebetulnya seorang pakar yang memiliki ilmu Antropologi kemudian disitu mengembangkan disiplin ilmu yang melibatkan bahasa dengan kebudayaan disiplin ilmu yang melibatkan bahasa dengan kebudayaan yang pada saat ini lazim disebut etnolinguistik.

 

  1. Frans Buas

Bahasa manusia itu berubah-ubah terus, satu dengan yang lain tentu berbeda. Setiap bahasa itu mempunyai kategori logis tertentu yang digunakan oleh etnis yang bersangkutan. Kelompok etnis tidak boleh mengatakan bahwa suatu bahasa jelek karena suatu bangsa mempunyai kategori logis sendiri-sendiri.Bahasa mati yaitu bahasa Jawa Kuna, Bahasa Melayu Kuno. Bahasa Inggris sebagai bahasa IPTEK Internasional.

Bunyi secara artikulatoris (terkait dengan seperangkat alat bicara manusia) dihasilkan sama namun diucapkan berbeda oleh etnis yang berbeda-beda. Contoh:

1. diambung dalam Bahasa Jawa dibaca /DiambUG/

2. dipukul dalam Bahasa Indonesia dibaca /dipukul/

3. G dalam bahasa Indonesia dibaca “ge”

4. G dalam bahasa Inggris dibaca “ji”

5. u, u dan w, w dalam pengucapan/pelafalan oleh etnis Jawa dan Inggris berbeda.

6. Klaten dibaca dalam Bahasa Jawa  /klaṭen/

7. Klaten dibaca dalam Bahasa Indonesia /klaten/

8. Wonogiri dibaca dalam Bahasa Indonesia /wonogiri/

9. Wonogiri dibaca dalam Bahasa Indonesia /wOnOgiri/

Bahasa hanya merupakan tuturan artikulasi (komunikasi dengan menggunakan kelompok-kelompok bunyi). Bunyi ujar adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat bicara manusia. Unit terkecil dari bahasa adalah kalimat. Suatu kata yang tidak diikuti lain masih bisa menimbulkan multitafsir. Misal: “banyu” maksudnya banyu itu banyu apa? harus lebih rinci. Pronominal personalia (kata ganti orang) pertama jamak sebetulnya tidak ada. Karena masing-masing pronominal berdasarkan pada konsep diri. Contoh: aku     diri pribadi, kowe       non diri. Kita dalam bahasa Jawa itu tidak ada. Verba Bahasa Eropa yang terdiri dari person, number/jumlah, tenses/waktu, mood, voice/suara, sifatnya arbitrer (tidak ada hubungan sama sekali, sewenang-wenang). Kajian suatu bahasa diutamakan pada kajian morfologinya.

 

  1. Edward Sapir

Makna suau bahasa/kata berhubungan dengan image dan visual/referent/objek yang dimaksud image. Image kata lainnya adalah pengetahuan atau pengertian. Ide/ gagasan isi dari suatu tuturan yang paling tinggi potensinya. Bentuk lingual berupa morfem, kata, kalimat, dan wacana. Proses gramatikal dan konsep gramatikal. Dalam menganalisis bahasa menggunakan rumus matematika.

A=b.b

(A)= b.b

O=tidak ada b.t

Bentuk njiwit = (A) + A

Njiwiti [{(A) + A} + (A)]

Mengkaji ciri-ciri khas penutur dengan ras bahasa.

 

  1. Leonard Bloomfield

Linguistik merupakan disiplin ilmu tersendiri. Dalam penelitian bahasa digunakan data empirik (data yang betul-betul digunakan oleh masyarakat penuturnya). Misal: dalam masyarakat kita mencari data. Maka data empiri yang betul-betul digunakan oleh masyarakat penuturnya. Berikut penggunaan bahasa dengan rumus rangsangan dan tanggapan.

Bentuk ada bentuk bebas (free form) dan ada juga bentuk terikat (bound form). Bentuk bebas yaitu bentuk yang mampu berdiri sendiri dalam kata sedangkan bentuk terikat yaitu bentuk yang tidka mampu beridiri sendiri dalam kata. Bentuk  bebas terdiri dari bentuk kompleks dan tunggal.

b b = b b. tunggal= jiwit

b b= b b. kompleks= njiwit, njiwiti

jiwit = b b. tunggal

b b kompleks tidak dapat langsung dianalisis menjadi konstituet akhir (final konstituen) melainkan konstituen langsung atau unsur langsung yang disebut Immediate Constituent (IC).

Contoh:

a. Di ambung = diambung + i

b. Diperbolehkan = di+perbolehkan

= per-kan + boleh