JENIS WACANA

            Wacana dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis menurut dasar pengklasifikasiannya, yaitu :

  1. Wacana berdasarkan bahasa yang dipakai.

a)      Wacana bahasa nasional (Indonesia)

b)      Wacana bahasa local atau daerah (Jawa,Sunda,Bali,Madura,dsb).

c)      Wacana bahasa Internasional (Inggris)

d)     Wacana bahasa lainnya (Belanda,Jerman,Perancis)

  1. Wacana berdasarkan media

a)      Wacana tulis

b)      Wacana lisan

  1. Wacana berdasarkan sifat/ jenis pemakaiannya.

a)      Wacana monolog

b)      Wacana dialog

  1. Wacana berdasarkan bentuknya.

a)      Wacana prosa

b)      Wacana puisi

c)      Wacana drama

  1. Wacana berdasarkan cara dan tujuan pemaparannya.

a)      Wacana narasi.

b)      Wacana deskripsi

c)      Wacana eksposisi.

d)     Wacana argumentasi

e)      Wacana persuasi

 

 

 

  1. Wacana berdasarkan bahasa yang dipakai.

a)      Wacana bahasa nasional (Indonesia)

Ialah wacana yang diungkapkan dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam pengucapannya/ sebagai sarananya.

b)      Wacana bahasa local atau daerah (Jawa,Sunda,Bali,Madura,dsb).

Ialah wacana yang diungkapkan dengan menggunakan sarana bahasa Jawa.

c)      Wacana bahasa Internasional (Inggris)

Adalah wacana yang dinyatakan dengan menggunakan bahasa Inggris

d)     Wacana bahasa lainnya (Belanda,Jerman,Perancis)

  1. Wacana berdasarkan media

a)      Wacana tulis

Ialah wacana yang disampaikan lewat bahasa tulis atau media tulis.

b)      Wacana lisan

Adalah wacana yang disampaikan lewat bahasa lisan atau media lisan.

  1. Wacana berdasarkan sifat/ jenis pemakaiannya.

a)      Wacana monolog (monologue discourse) adalah wacana yang disampaikan seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara langsung. Sifatnya searah, contoh : orasi ilmiah, penyampaian visi dan misi, khotbah,dll.

b)      Wacana dialog ialah wacana atau percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara langsung. Sifatnya dua arah, contoh : diskusi, seminar, musyawarah, dan kampanye dialogis.

  1. Wacana berdasarkan bentuknya.

a)      Wacana prosa ialah wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa/ gancaran. Dapat berupa wacana tulis atau lisan.

  • Wacana prosa tulis ( cerpen, cerbung, novel, artikel,dan undang-undang).
  • Wacana prosa lisan (pidato, khotbah,dan kuliah)

b)      Wacana puisi adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi.

  • Wacana puisi tulis (Puisi dan syair)
  • Wacana puisi lisan ( puisi yang dideklamasikan dan lagu-lagu)

c)      Wacana drama merupakan wacana yang disampaikan dalam bentuk drama, dalam bentuk dialog, baik berupa wacana tulis maupun lisan.

  • Wacana drama tulis ( naskah drama atau naskah sandiwara)
  • Wacana drama lisan ( pemakaian bahasa dalam pementasan “ percakapan antar pelaku drama”)
  1. Wacana berdasarkan cara dan tujuan pemaparannya.

a)      Wacana narasi.

Wacana yang mementingkan urutan waktu, dituturkan oleh persona pertama atau ketiga dalam waktu tertentu. Berorientasi kepada pelaku, diikat secara kronologis, pada umumnya terdapat pada berbagai fiksi. Contoh :

            Rini memang cantik. Apalagi jika bersama Ida teman karibnya, yang juga tidak kalah jelitanya. Keduanya bagaikan bidadari turun dari langit. Karenanya lelaki yang tidak bertampang lumayan dan tidak tebal dompetnya ia tidak berani mendekatinya. Padahal, kedua gadis itu sama sekalitidak pernah sombong dan angkuh kepada siapapun. Apalagi dalam hal berteman, tak ada satupun  yang diistimewakan. Semuanya dianggap sama asal mereka tidak kurang ajar saja.

Wacana tersebut dinarasikan oleh persona ketiga (penulis) dan berorientasi pada pelaku dalam cerita tersebut yaitu Rini dan Ida.

b)      Wacana deskripsi

Wacana yang bertujuan melukiskan, menggambarkan, atau memberikan sesuatu menurut apa adanya. Contoh :

            Secara administrative Kota Surakarta atau yang lebih dikenal sebagai kota Sala dibatasi oleh daerah kabupaten yang lain. Di sebelah Utara dibatasi oleh kabupaten Karanganyar dan Boyolali. Di sebelah timur dibatasi oleh daerah kabupaten Sragen dan Karanganyar. Di sebelah selatan dibatasi oleh kabupaten Sukoharjo dan di sebelah barat dibatasi oleh daerah kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar.

Wacana tersebut memberikan gambaran sesuai dengan kondisi yang sebenarnya mengenai batas-batas kota Surakarta secara administrative.

c)      Wacana eksposisi.

Atau wacana pembeberan yaitu wacana yang tidak mementingkan waktu dan pelaku. Berorientasi pada pokok pembicaraan, dan bagiannya diikat secara logis. Contoh :

Membicarakan masalah-masalah perempuan selalu actual dan menarik karena tidak akan pernah kehabisan isu. Sepanjang peradaban manusia, perempuan hanya memainkan peran sosial, ekonomi, maupun politik yang tidak signifikan , dibandingkan dengan peran laki-laki. Secara structural maupun fungsional mereka selalu terpinggirkan. Sebaliknya peran domestic perempuan lebih menonjol sebagai istri maupun ibu rumah tangga. Pertanyaannya adalah sampai kapan kondisi seperti itu akan terus berlangsung?, padahal upaya-upaya bahkan terobosan-terobosan  baru untuk mengubahnya sudah sekian lama diperjuangkan oleh banyak kalangan khususnya para feminis.(“perempuan dalam Islam, Maria Ulfah Anshor, dalam jurnal perempuan, edisi 20, 2001:23)

Wacana tersebut berorientasi pada pokok pembicaraan, yakni masalah-masalah  perempuan yang selalu actual. Masalah-masalah antara lain peran perempuan yang tidak signifikan dalam bidang sosial,ekonomi, dan politik yang terpinggirkan. Seperti pada judulnya membeberkan masalah perempuan dalam Islam dan bagian-bagiannya diikat secara logis.

d)     Wacana argumentasi

Wacana yang berisi ide, atau gagasan yang dilengkapi dengan data-data sebagai bukti, dan bertujuan meyakinkan pembaca akan kebenaran idea tau gagasannya. Berikut ini adalah contohnya :

Keluarga berencana adalah salah satu cara yang harus kita tempuh agar tercipta keluarga kecil yang sejahtera dan bahagia. Dengan hanya punya anak dua orang berarti lebih mudah mendidiknya, lebih mudah mencarikan segala kebutuhannya, sehingga dengan penuh optimism kita dapat mengharapkan masa depan yang cemerlang. Ibu dan ayah tidak cepat tua, dan terhindar dari segala rongrongan kesulitan hidup seandainya punya anak banyak. Maka agar tiap keluarga dapat menciptakan kesejahteraan lahir batin, cara yang paling tepat adalah turut serta menyukseskan program keluarga berencana.

Wacana tersebut berisi tentang gagasan pentingnya keluarga berencana. Melalui wacana tersebut, penulisnya bertujuan untuk meyakinkan akan kebenaran idea tau gagasan tersebut dengan melaksanakan keluarga berencana.

e)      Wacana persuasi

Wacana yang isinya bersifat ajakan atau nasihat, biasanya ringkas dan menarik, serta bertujuan untuk mempengaruhi secara kuat pada pembaca atau pendengar agar melakukan nasihat atau ajakan tersebut. Contohnya :

Beberapa hal yang harus kamu perhatikan sungguh-sungguh pada saat sekarang dan seterusnya di dalam meniti hidup berumah tangga. Kamu harus bersikap hati-hati dan bijaksana serta membina kemampuan berdiri sendiri. Orang tuamu telah melepasmu dan meletakkan seluruh tanggung jawabnya kepadamu sepenuhnya. Mereka tidak dapat lagi bertindak sebelum seperti sebelum saat ini berlangsung. Binalah rumah tanggamu dengan baik, tekun, dan saling percaya. Pandanglah kedua orang tuamu sendiri seolah-olah sebagai mertuamu… ( Llamzon,1984 dalam Syamsudin,1992:11).

Wacana tersebut berisi tentang nasihat perkawinan  yang dimaksudkan oleh penulis untuk mempengaruhi pembaca.

  1. Penggabungan wacana bahasa dengan wacana media

1)      Wacana bahasa Indonesia tulis ragam baku (wacana surat-menyurat resmi)

2)      Wacana bahasa Indonesia tulis ragam tak baku ( surat menyurat pribadi)

3)      Wacana bahasa Indonesia lisan ragam baku ( pidato kenegaraan)

4)      Wacana bahasa Indonesia lisan ragam tak baku (obrolan santai, wacana ketoprak humor,dsb)

5)      Wacana bahasa Jawa tulis ragam ngoko ( wacana surat yang ditulis orang tua untuk anak)

6)      Wacana bahasa Jawa tulis ragam karma ( wacana undangan pernikahan)

7)      Wacana bahasa Jawa tulis ragam campuran ( wacana pada naskah drama, cerpen, dll)

8)      Wacana bahasa Jawa lisan ragam ngkoko ( misalnya “ular-ular” atau “sabdatama” nasihat dari orang tua kepada pasangan pengantin dalam upacara pernikahan)

9)      Wacana bahasa Jawa lisan ragam karma ( pawartos bahasa Jawa)

10)  Wacana bahasa Jawa lisan ragam campuran ( wacana pementasan drama, pergelaran wayang kulit/ wayang orang, dsb).

 

  1. Wacana menurut cara penyusunan , isi, dan sifatnya. Misalnya Llamzon dalam bukunya Discourse Analysis (1984), menyebutkan wacana ada yang bersifat naratif, procedural, hortatorik, ekspositorik, dan deskriptif.

a)      Wacana naratif adalah rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh atau pelaku  dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca.

b)      Wacana procedural merupakan rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara berurutan yang tidak boleh dibolak-balik unsure-unsurnya karena urgensi unsure terdahulu menjadi landasan unsure yang berikutnya.

c)       Wacana hortatorik adalah tuturan  yang isinya bersifat ajakan atau nasihat, kadang-kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan agar lebih meyakinkan. Tokoh penting didalamnya adalah orang.

d)      Wacana ekspositorik ialah rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran. Tujuannya ialah agar tercapainya tingkat pemahaman terhadap sesuatu secara lebih jelas, mendalam, dan luas.

e)      Wacana deskriptif pada dasarnyaberupa rangkaian tuturan yang memaparkan atau melukiskansesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuannya adalah tercapainya pengamatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu,sehinggapendengar atau pembacamerasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahuinya secara langsung.