KAKAWIN BHARATA-YUDDHA

Kakawin Bharata Yuddha yang ditulis oleh Mpu Seddah dan diseleseikan oleh Mpu Panuluh merupakan salah satu karya yang indah dari jaman Kediri dan disusun atas perintah Raja Jayabhaya. Jaman Kediri yang mengembang antara tahun 1104 dan 1222itu merupakan jaman keemasan kesusasteraan Jawa kuno. Dan sejumah kitab kakawin telah diciptakan oleh beberapa pujangga, seperti Mpu Dharmaja,Mpu Seddah , Mpu Panuluh,Mpu Monagunna, Mpu Triguna, Mpu Tanakung dan sebagainya. Dalam penyeleseiannya, ada beberapa pendapat mengenai alasan mengapa kakawin tersebut di seleseikan oleh Mpu Panuluh. Pendapat pertama yaitu Mpu Seddah merasa sudah tua dan sudah tidak dapat melanjutkan tugas dari raja Jayabhaya untuk mnyeleseikan cerita kakawin tersebut. Dan pendapat yang kedua ialah Mpu Seddah dibunuh sendiri oleh raja Jayabhaya.

Kakawin yang tetap hidup dan dikenal dalam kesusasteraan jawa baru  ialah kakawin Ramayana, kakawin Arjunawiwaha, kakawin Bharata Yuddha dan kakawin Uttarakanda, sedangkan 4 kakawin tersebut bersama-sama dengan kakawin lainnya tetap dibaca dan hidup dipulau Bali dan dipulau Lombok. Tetapi kenyataannya ialah bahwa rakyat di bali dan Lombok itulah yang memelihara kesusasteraan Jawa kuno. Entah bagaimanapun kita sebagai orang Jawa yang patut untuk melestarikan kebudayaan leluhur kita harus mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Bali. Karena di pulau tersebut, banyak karya sastra yang berbahasa Jawa kuno di salin dan dipelajari di sana. Karya karya tersebut ada diantaranya yang masih menggunakan media daun rontal yang karena metatesis bahasa sekarang dikenal dengan nama daun lontar. Hal ini panjang lebar disinggung di Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang karangan Zoetmulder.

Sejak runtuhnya Majapahit yang menjadi pusat kegiatan kesusasteraan Jawa Kuno, tidak ada lagi pusat kekuasaan politik yang memberi iklim dapat mengembangnya kesusasteraan tersebut. Sehingga menjadi kesusasteraan Jawa baru, tidak dapat diingkari lagi bahwa ada garis pertumbuhan yang melalui waktu yang lama, ialah dimulai abad 11 pada jaman Kediri sampai pada jaman Mataram awal pada abad 17. Ada garis pertumbuhan kesusasteraan yang menuju kesusasteraan Jawa baru, gugurlah pendapat Prof,Dr,C .C Berg yang mengatakan bahwa kesusasteraan Jawa baru dari jaman Mataram Islam itu tidak ada hubungannya dengan kesusasteraan Jawa Kuno dari Majapahit, Singhasari dan Kediri.

Apabila kitab-kitab kakawin itu mempergunakan bahasa Jawa kuno dengan memakai aturan syair India, maka kitab-kitab yang telah digubah menjadi jarwa itu mempergunakan bahasa Jawa baru dengan memakai aturan syair Indonesia asli yang disebut macapat yaitu Serat Rama jarwa dan serat Bharatayudha Jarwa. Karena kakawin mempunyai metrum yang berasal dari India yaitu ada aturan-turan mengenai guru dan lagu. Guru dalam kakawin berarti suara berat atau panjang dan lagu dalam kakawin itu berarti suara pendek. Berbeda dengan aturan guru lagu dalam macapat yang merupakan metrum yang berasal dari Jawa asli. Di dalam macapat setiap tembang mempunyai Guru gatra, guru wilangan dan guru lagu. Guru gatra ialah cacahing gatra saben sapada. Guru wilangan ialah cacahing wanda saben sagatra dan guru lagu ialah tibaning swara ing pungkasane gatra.

Di pulau Bai tetap mempelajari dan membaca kakawin Bharatayudha dalam bahasa Jawa kuno. Oleh kaum bangsawan dan oleh rakyat yang mengikuti “mabasan”, ialah perkumpulan kesusasteraan yang mempelajari naskah-naskah kuno yang dikerjakan oleh khalayak ramai di Bali dibawah pimpinan seorang sastrawan yang mahir kesusasteraan Jawa kuno.

Kebudayaan Indonesia pada jaman modern ini masih mempunyai segi-seginya yang berpangkal kepada jaman yang lampau, khususnya yang mengenai ajaran tentang moralitas, sikap serta watak kekesatriaan dan sebagainya.

 

Siasat Perang dalam Kakawin Bharatayuddha

Pada waktu bangsa Indonesia mengadakan perlawanan terhadap penjajah belanda dalam perang-perang koonial, seperti waktu perlawanan Sultan Hassanudin dari Makassar, Pangeran Mangkubumi, Perang Diponegoro, Perang padre dan lain-lainnya melawan Belanda, siasat perang bangsa Indonesia itu telah mengejutkan pihak lawan, karena tidak disangka oleh pihak penjajah Beanda bahwa bangsa Indonesia yang mereka anggap rendah taraf pengetahuannya itu tahu tentang siasat perang.

Kitab kesusasteraan itu menjadi dasar pengetahuan siasat perang, hal itu memang benar, karena pada jaman kuno belum ada lembaga pendidikan seperti sekarang. Dari kesusasteraan jawa kuno ada bukti bahwa Indonesia telah mengenal siasat perang. Salah satu pengertian perang yang penting diketemukan dalam kitab kakawin Arjunawiwaha dari abad 11 dan kitab Nitisastra dari abad 14 dan sekitarnya, keduanya dalam bahasa Jawa kuno yang masing-masing memuat istilah Sama-bheda-ddanndda. Sama-bheda-ddanndda itu dirumuskan dalam setiap kepala Negara yang ingin membinasakan lawan wajib mencari sekutu  diantara Negara-negara yang berhubungan baik. Telah diperhitungkan bahwa pada waktu perang dengan Negara-negara lain, Negara-negara yang telah terikan oleh sama itu sedikitnya bersikap netral, bahkan dapat diharapkan adanya sokongan dan bantuan dari dari Negara-negara tersebut. Siasat kedua ialah siasat bheda yang berarti memecah belah  dan memerintah. Sebab apabila tujuan mengadu domba musuh itu telah tercapai, sampailah pada mempraktekkan ddanndda atau pukulan, ialah pukulan terakhir kepada musuh yang teah lemah itu.

Pengetahuan tentang perang dalam bentuk yang agak konkrit diketemukan dalam beberapa kitab, diantaranya dalam kakawin Bharata yuddha yang menyebutkan beberapa bentuk wyuha atau susunan tentara, kitab Nitisastra yang membicarakan cara untuk memilih seorang panglima dan kitab Negarakretagama dari jaman Majapahit (1365) yang menguraikan bagaimana raja Hayam Wuruk  itu mempertontonkan kepandaian tentaranya yang mendemonstrasikan segala macam ulah perang. Dari berita-berita yang diketemukan dalam beberapa kitab kesusasteraan Jawa kuno itu dapat ditentukan dengan pasti bahwa ilmu siasat perang itu telah dikenal sedikitnya di daerah Jawa, Bali dan Lombok. Dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu siasat perang itu pasti telah dikenal di Indonesia pada waktu lampau. Bahwa siasat perang yang jitu untuk menggempur musuh yang berupa serangan frontal dan serangan gerilya itu diterapkan oleh rakyat Indonesia apabila berhadapan dengan kolonialisme Belanda.

Dari berita-berita itu cukuplah bukti bahwa rakyat Indonesia pada waktu yang lampauitu telah mengenal ilmu siasat perang. Hanya saja tidak diketemukan kitab-kitab yang menguraikan ilmu ini secara metodis dan sistematis. Salah satu kesusasteraan Indonesia kuno yang secara metodis membicarakan siasat perang frontal dan disebut wyuha, ialah kakawin Bharata Yuddha.

Menurut kesusasteraan India kuno, ialah dalam kitab Arthacastra karya Kauttilya disebutkan ada beberapa macam wyuha, ialah :

1. ddanndda wyuha : susunan tentara seperti alat pemukul.

2. bhoga wyuha : susunan tentara seperti ular.

3. mannddala wyuha : susunan tentara seperti lingkaran.

4. asamhata wyuha : susunan tentara yang bagian-bagiannya terpisah-pisah.

5. pradara wyuha : susunan tentara untuk menggempur musuh.

6. ddrddhaka wyuha : susunan tentara dengan sayap dan lambung tertarik kebelakang.

7. asahya wyuha : susunan tentara yang tidak dapat ditembus.

8. garudda wyuha : susunan tentara seperti garuda.

9. sanjaya wyuha : susunan tentara untuk mencapai kemenangan dan berbentuk busur.

10. wijaya wyuha : susunan tentara menyerupai busur dengan bagian busur depan yang mencolok.

11. sthulakarnna wyuha : susunan tentara yang berbentuk telinga (karnna) besar (sthula).

12. wicalawijaya wyuha : susunan tentara yang disebut kemenangan mutlak ; susunannya sama dengan 11, hanya saja bagian depan disusun dua kali lebih kuat dari pada 11.

13. camumukha wyuha : susunan tentara dengan bentuk 2 sayap yang berhadapan muka dengan musuh (camu dalam bahasa Sansekerta berarti suatu kesatuan perang).

14. jhashasya wyuha : susunan tentara seperti 13, hanya saja sayapnya ditarik kebelakang dan berbentuk muka ikan.

15. suimukha wyuha : susunan tentara yang berujung (mukha) ; seperti jarum (suci)

16. walaya wyuha : susunan tentara seperti 15, hanya saja barisannya terdiri dari 2 lapisan.

17. ajaya wyuha : susunan tentara yang tidak teralahkan.

18. sarpasari wyuha : susunan tentara seperti ular (sarpa) yang bergerak (sari).

19. gomutrika wyuha : susunan tentara yang berbentuk arah terbuangnya air kencing (mutrika) sapi (go).

20. syandana wyuha : susunan tentara yang menyerupai kereta (syandana).

21. godha wyuha : susunan tentara yang menyerupai buaya (godha).

22. waripatantaka wyuha : susunan tentara sama dengan 20, hanya saja segala pasukan terdiri dari barisan gajah, kuda dan kereta perang.

23. sarwatomukha wyuha : susunan tentara yang berbentuk lingkaran, sehingga pengertian sayap, lambung dan bagian depan tidak ada lagi ; sarwato dari kata sarwata berarti seluruh, sedangkan mukha berarti arah.

24. sarwatabhadra wyuha : susunan tentara yang serba (sarwata) menguntungkan (bhadra).

25. ashttanika wyuha : susunan tentara yang terdiri 8 divisi (asstta atau ashttanika berarti 8).

26. wajra wyuha : susunan tentara menyerupai petir (wajra) dan terdiri dari 5 divisi yang disusun terpisah-pisah satu dari yang lain.

27. udyanaka wyuha : susunan tentara menyerupai taman (udyanaka) yang juga disebut kakapadi wyuha, artinya susunan tentara yang berbentuk kaki (padi berarti berkaki) burung kaka-tua (kaka) dengan ketentuan bahwa susunan tentara ini terdiri 4 divisi.

28. ardhacandrika wyuha : susunan tentara yang berbentuk bulan sabit. juga disebut ardhacandra wyuha ; ditentukan bahwa susunan tentara ini berdasarkan atas 3 divisi.

29. karkattakacrenggi wyuha : susunan tentara yang berbentuk kepala (srengga) udang (karkattaka).

30. arista wyuha : susunan tentara yang serba menang (arista) dengan susunan garis depan yang ditempati oleh arisan kereta perang, barisan gajah, sedangkan barisan berkuda menempati garis belakang.

31. acala wyuha : susunan tentara yang tidak bergerak, ialah suatu susunan tentara dengan menempatkan barisan infanteri, barisan gajah, kuda dan kereta perang satu di belakang yang lain.

32. cyena wyuha : susunan tentara sama dengan garuda wyuha.

33. apratihata wyuha : susunan tentara yang tidak dapat dilawan ( pratihata berarti melawan, sedangkan a berarti tidak) dengan ketentuan bahwa barisan gajah, kuda, kerata perang dan infanteri ditempatkan satu dibelakang yang lain.

34. capa wyuha : susunan tentara yang berbentuk busur.

35. madhya wyuha : susunan tentara yang berbentuk busur dengan inti kekuatan di bagian tengah.

36. singha wyuha : susunan tentara berbentuk singa.

37. makara wyuha : susunan tentara yang berbentuk makara (udang).

38. padma wyuha : susunan tentara yang berbentuk bunga seroja.

39. wukir sagara wyuha : susunan tentara yang berbentuk bukir dan samudera.

40. wajratikshnna wyuha : susunan tentara yang berbentuk wajra atau petir yang   tajam.

41. gajendramatta atau gajamatta wyuha : gajah ngamuk.

Sebaliknya didalam kitab Kamandaka, salah satu kitab dari kesusasteraan Jawa kuno disebutkan 8 macam wyuha ialah :

  1. Garudda wyuha, susunan tentara yang berbentuk garuda
  2. Singha wyuha, susunan tentara yang berbentuk singa
  3. Makara wyuha, susunan tentara yang berbentuk makara
  4. Cakra wyuha, susunan tentara yang berbetuk cakram
  5. Padma wyuha, susunan tentara yang berbentuk bunga seroja
  6. Wukir sagara wyuha, susunan tentara yang berbentuk bukit dan samudera
  7. Ardhacandra wyuha, susunan tentara yang berbentuk bulan sabit
  8. Wajratikshnna wyuha, susunan tentara yang berbentuk wajra atau petir yang tajam.

Di dalam kakawin Bharata Yuddha disebutkan 10 macam wyuha, ialah :

  1. Wukir sagara wyuha dalam pupuh X 10 dan XL 2
  2. Wajratikshnna wyuha dalam pupuh X 11
  3. Garudda wyuha dalam pupuh XII 6
  4.  gajendramatta atau gajamatta wyuha dalam pupuh XIII 13
  5. Cakra wyuha dalam pupuh XIII 22 dan XV 21
  6. Makara wyuha dalam pupuh XIII 24 dan XXVII 2
  7. Sucimuka wyuha dalam pupuh XV 21
  8. Padma wyuha dalam pupuh XV 22
  9. Ardhacandra wyuha dalam pupuh XXVI 5
  10. Kananya wyuha dalam pupuh XL 2

Memang sudah tidak mengherankan lagi jika pada jaman dahulu bangsa Indonesia sudah mengenal strategi perang. Buktinya ialah pada jaman kerajaan hindhu- Budha di Indonesia sudah dapat menaklukkan berbagai kerajaan di Nusantara dan dapat menguasai nusantara dan menyatukannya. Kerajaan Majapahit dengan patihnya Gajah Mada, dapat menyatukan nusantara di bawah panji Majapahit. Hal ini tentu tidak akan terwujud jika tidak mempunyai strategi untuk berperang. Maka dari itu strategi-strategi perang yang terdapat dalam naskah tersebut sangatlah berguna bila digunakan oleh generasi yang selanjutnya.

Unsur Sejarah Dalam Kakawin Bharata Yuddha

Kakawin Bharata Yuddha kecuali menyebutkan nama seorang raja ialah raja Jayabhaya, juga menyebutkan angka tahun dalam manggala atau bagian pertama dalam kakawin ini. Angka tahun ini berbentuk candrasengkala yang berbunyi Caka kala ri sanga kuda cuddha candrama. Ialah tahun caka yang berangka tahun 1079 atau 1157 Masehi. Dengan ini sesungguhnya kakawin Bharata yuddha telah memenuhi syarat pertama sebagai sumber sejarah, karena telah menyebutkan seorang tokoh sejarah yaitu raja Jayabhaya dan menyebutkan angka tahun bilamana Jayabhaya memerintah.

Kakawin Bharata Yuddha ditulis sebagai cerita sejarah berkenaan dengan raja Jayabhaya, jadi merupakan ssuatu sejarah jawa Indonesia, artinya secara negative bukan sejarah India. Apabila ditinjau dari sudut kebudayaan, cerita perang antara keuarga Pandawa dengan Kurawa yang berasal dari India itu telah mengalami reworking dan telah dijalinkan dengan pola kebudayaan Indonesia setelah mengalami proses akulturasi.

Cerita Bharata Yuddha yang pada hakekatnya menceritakan Arjuna sebagai pahlawan dari keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa, raja Jayabhaya sendiri terjalin dalam cerita Bharata Yuddha. Artinya cerita Bharata Yuddha yang menggambarkan perang antara dua keluarga itu teah diidentifikasikan dengan sejarah pribadi raja Jayabhaya sendiri. Kakawin Bharata Yuddha itu merupakan suatu kitab apologi atau kitab pembelaan Jayabhaya dari Kediri terhadap perbuatan yang menyerang dan menaklukkan Jenggala. Dengan ini Mpu Seddah membebaskan raja Jayabhaya dari segala tujuan, bahwa ia telah menaklukkan kerajaan Jenggala yang dipimpin oleh salah satu keturunan Airlangga, jadi masih keluarganya sendiri.

Apabila peperangan yang disebutkan dalam  prasati Ngantang dihubungkan dengan kakawin Bharata Yuddha yang menyebutkan adanya perang antara Sri Pamasa ialah Jayabhaya dan Hemabhupati, ialah raja Mas atau kakaknya Jayabhaya, jelaslah bahwa ada perang saudaradan Raja Jayabhaya berhadapan dengan kakanya. Perang saudara itu sedemikian hebatnya sehingga Daha atau Kediri digambarkan menjadi lautan api, bahkan Raja Jayabhaya yang mula-mula menderita kekalahan terpaksa melarikan diri ke Hantang atau Ngantang pada waktu sekarang. Berkat bantuan daerah dan rakyat Hantang itu raja Jayabhaya dapat mengadakan serangan balasan dan dapat membinasakan Hemabhupati. Karena pembunuhan Hemabhupati, ialah kakak Jayabhaya itu merupakan suatu perbuatan yang terkutuk dan menyebabkan raja Jayabhaya dalam keadaan bahaya, maka dari sebab itu Mpu Seddah disuruh menyusun suatu kakawin ruwat.

Dari pengupasan kakawin Bharata Yuddha yang dibandingkan dengan bacaan prasasti Ngantang itu jelaslah , bahwa kakawin Bharata Yuddha itu sekalipun merupakan suatu Karya kesusasteraan dapat digunakan sebagai sumber sejarah. Seperti yang kita ketahui, bahwa penulisan sejarah sejak dulu maupun sekarang ialah memihak yang menang. Sejarah ditulis untuk memihak yang menang atau untuk legitimasi raja yang berkuasa pada waktu itu agar kekuasaan raja tidak ternodai. Para pujangga sejak dahulu di tugasi oleh raja untuk menulis karya sastra sebagai persembahan untuk raja. Oleh karena itu para pujangga hanya menulis kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh raja untuk rakyatnya.